Varikokel sering kali dikaitkan dengan pria dewasa, terutama mereka yang mengalami gangguan kesuburan. Namun, faktanya kondisi ini juga dapat terjadi pada remaja, khususnya saat memasuki masa pubertas. Varikokel pada remaja bahkan kerap tidak menimbulkan keluhan berarti di tahap awal, sehingga sering kali tidak disadari.
Padahal, meskipun terlihat ringan, varikokel yang tidak terpantau dengan baik dapat berdampak pada perkembangan testis dan kesehatan reproduksi di kemudian hari. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan remaja untuk memahami kondisi ini sejak dini.
Apa Itu Varikokel?
Varikokel adalah kondisi pelebaran pembuluh darah vena di dalam skrotum, yaitu kantong yang melindungi testis. Secara sederhana, varikokel dapat dianalogikan seperti varises yang terjadi di kaki, tetapi muncul di area testis.
Pada masa pubertas, tubuh remaja mengalami berbagai perubahan, termasuk pada sistem hormon dan pertumbuhan organ reproduksi. Pertumbuhan testis yang cepat membutuhkan aliran darah yang optimal. Jika aliran balik darah melalui pembuluh vena tidak berjalan lancar, darah dapat menumpuk dan menyebabkan pelebaran pembuluh darah di skrotum.
Kondisi ini berkaitan erat dengan fungsi pembuluh darah vena yang seharusnya membawa darah kembali ke jantung. Ketika aliran balik darah terganggu, tekanan di pembuluh darah meningkat dan memicu terjadinya varikokel.
Penyebab Varikokel pada Remaja
Beberapa faktor diketahui dapat meningkatkan risiko varikokel pada remaja, antara lain:
-
Gangguan Katup Pembuluh Darah Vena
Pembuluh darah vena memiliki katup yang berfungsi mencegah aliran darah berbalik arah. Jika katup ini tidak berfungsi dengan baik, darah dapat mengalir kembali dan menumpuk di skrotum, sehingga menyebabkan varikokel.
-
Pertumbuhan Cepat pada Masa Remaja
Masa remaja ditandai dengan pertumbuhan tubuh yang cepat, termasuk organ reproduksi. Pertumbuhan ini dapat meningkatkan aliran dan tekanan darah di area testis, yang berpotensi memicu pelebaran pembuluh darah.
-
Peningkatan Tekanan di Area Perut
Aktivitas yang meningkatkan tekanan di dalam perut, seperti mengangkat beban berat atau sering mengejan, dapat menghambat aliran darah vena dari skrotum. Tekanan ini dapat memperparah kondisi varikokel.
-
Riwayat Keluarga
Faktor genetik juga berperan. Remaja dengan anggota keluarga yang memiliki riwayat varikokel atau gangguan pembuluh darah berisiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Gejala Varikokel pada Remaja
Pada banyak kasus, varikokel pada remaja tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun, beberapa tanda berikut dapat muncul dan perlu diwaspadai:
- Rasa berat atau tidak nyaman di area skrotum
- Nyeri ringan hingga sedang, terutama setelah berdiri lama atau melakukan aktivitas fisik
- Pembuluh darah di skrotum tampak menonjol atau berkelok
- Salah satu testis terlihat lebih kecil dibandingkan yang lain
- Pembengkakan di area testis
- Keluhan biasanya berkurang saat berbaring
Jika gejala-gejala ini muncul, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan medis untuk memastikan kondisi testis tetap sehat.
Penanganan Varikokel yang Tepat pada Remaja
Penanganan varikokel pada remaja disesuaikan dengan tingkat keparahan dan keluhan yang dirasakan. Beberapa langkah yang umumnya dilakukan meliputi:
-
Observasi dan pemantauan rutin
Jika varikokel tidak menimbulkan nyeri atau gangguan, dokter dapat menyarankan observasi tanpa tindakan khusus, dengan tetap memantau kondisinya secara berkala. -
Pemeriksaan berkala oleh dokter
Pemeriksaan rutin diperlukan untuk memantau ukuran testis dan memastikan tidak terjadi penyusutan atau gangguan perkembangan. -
Mengurangi aktivitas berat
Remaja dianjurkan menghindari aktivitas yang meningkatkan tekanan di area perut, seperti mengangkat beban berat, karena dapat memperparah varikokel. -
Penggunaan penyangga skrotum
Penyangga skrotum dapat membantu menopang testis dan mengurangi rasa berat atau tidak nyaman, terutama saat beraktivitas. -
Pemberian obat pereda nyeri
Obat pereda nyeri dapat diberikan bila diperlukan, namun harus sesuai dengan anjuran dan pengawasan dokter. -
Perbaikan gaya hidup
Menjaga berat badan ideal, mencukupi asupan cairan, serta menghindari kebiasaan mengejan berlebihan dapat membantu mencegah perburukan kondisi. -
Tindakan operasi (varikokelektomi)
Operasi dapat dipertimbangkan jika nyeri menetap, terjadi penyusutan testis, atau terdapat risiko gangguan kesuburan di masa depan.
Dengan penanganan yang tepat dan pemantauan teratur, varikokel pada remaja dapat dikendalikan dengan baik dan risiko komplikasi jangka panjang dapat diminimalkan.
BACA JUGA: Tahukah Anda Jika Pria Juga Harus Perhatikan Kesehatan Reproduksi? Berikut Alasannya
Kapan Remaja Perlu Diperiksakan ke Dokter?
Varikokel pada remaja dapat terjadi tanpa disadari dan sering kali ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan. Meski demikian, deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan testis dan fungsi reproduksi.
Konsultasi medis dianjurkan jika remaja mengalami nyeri, perubahan ukuran testis, atau pembengkakan di area skrotum. Pemeriksaan oleh dokter membantu memastikan kondisi ini ditangani dengan tepat dan kesehatan reproduksi remaja tetap terjaga hingga dewasa.
Artikel ditulis oleh dr. Davis Jouwena,Sp.U (Dokter Spesialis Bedah Urologi RS EMC Grha Kedoya).