Serangan jantung, mungkin inilah hal yang pertama kali Anda pikirkan saat merasa kram di dada. Padahal, kram dan nyeri pada dada tidak selalu berkaitan dengan masalah pada jantung. Penelitian menemukan bahwa nyeri dada terjadi akibat kontraksi pada otot di sekitaran tulang rusuk. Kontraksi ini tidak dapat kita kendalikan dan bisa menyebabkan otot di bagian dada menjadi tegang hingga kejang atau biasa dikenal dengan kram otot dada.

Agar tidak salah menangani kejang otot dada, Anda perlu mengetahui penyebabnya. Yuk, simak beberapa penyebab kram otot dada dan cara penanganannya. 

Angina

Nyeri dada akibat angina bisa terjadi setelah Anda baru saja melakukan aktivitas fisik yang cukup berat. Angina disebabkan oleh arteri ke jantung yang menyempit sehingga aliran darah tidak berjalan secara normal dan jantung bekerja lebih keras.

Saat angina menyerang, terdapat beberapa gejala yang timbul. Anda mungkin merasa sesak napas dan nyeri dada kiri yang terasa menusuk. Karena gejala tersebut, tidak jarang angina disalahartikan sebagai serangan jantung.

Asam lambung

Dalam kondisi tertentu, asam lambung bisa naik ke kerongkongan. Keadaan ini disebut dengan refluks asam lambung. Dampaknya adalah rasa seperti terbakar di sekitar tulang dada sehingga sering dianggap sebagai serangan jantung. Jika Anda mengalami refluks asam lambung lebih dari dua kali seminggu, segeralah konsultasikan ke dokter. Pasalnya, hal tersebut merupakan gejala GERD yang harus segera diobati. 

Kostokondritis

Penyebab nyeri dada lainnya yang cukup umum adalah kostokondritis, yaitu kondisi saat tulang rusuk Anda bersentuhan dengan tulang rawan. Penyebabnya bisa beragam, dari cedera dada hingga virus. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti tekanan pada dinding dada seperti tegang otot dada.

Tegang otot

Aktivitas berat seperti olahraga bisa membuat otot pada tubuh Anda menjadi tegang, termasuk juga otot dada. Belum lagi jika Anda mengalami cedera di bagian dada karena saraf yang tertekan. Nyerinya dapat terasa dari dada hingga sekujur lengan Anda bahkan hingga mati rasa. Hal ini membuat tegang otot sering dianggap sebagai serangan jantung.

Itulah beberapa kondisi yang menyebabkan kram otot dada selain serangan jantung. Bila kram terjadi, tetaplah tenang agar otot tidak semakin tegang. Terdapat cara penanganan pertama untuk meredakan kram yang disebut RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation): 

  1. Segera beristirahat

Saat kram, segeralah berhenti melakukan aktivitas hingga kram dada reda. Jika kram kembali berulang bahkan hingga beberapa hari, kurangi intensitas kegiatan Anda atau ambil waktu untuk beristirahat di rumah.

  1. Kompres bagian yang nyeri

Untuk membantu meringankan nyeri kram otot dada, kompres dengan es yang dilapis handuk. Kompres bagian yang nyeri kurang lebih 20 menit. Anda bisa mengulanginya beberapa kali hingga terasa lebih nyaman.

  1. Balut dengan perban

Selain mengompres, Anda bisa membalut dada yang nyeri dengan perban. Namun, Anda sebaiknya meminta bantuan perawat atau dokter yang sudah berpengalaman untuk membantu membalut dada Anda dengan teknik yang benar.

  1. Berada dalam posisi tegak

Jika kram menyerang, Anda dapat mengambil sikap duduk dengan tegak. Hindari berbaring saat kram otot dada terjadi. Sambil duduk tegak, Anda bisa memberikan pijatan ringan hingga terasa lebih nyaman.

  1. Mengonsumsi pereda nyeri

Obat pereda nyeri bisa menjadi pilihan jika kram tidak mereda. Beberapa obat pereda nyeri yang mudah ditemukan adalah aspirin dan ibuprofen.

Nah, itulah hal yang perlu Anda ketahui seputar kram otot dada. Usahakan Anda tidak panik saat kram terjadi agar nyeri tidak bertambah parah. Jika kram otot dada masih terasa setelah beristirahat dan minum pereda nyeri, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. #LiveExcellently