Pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan kondisi degeneratif yang umum terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun. Kondisi ini muncul ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kencing sehingga mengganggu proses buang air kecil.
Agar lebih mudah mengenali penyakit ini, berikut penjelasan lengkap mengenai gejala, penyebab, hingga cara penanganannya.
Gejala Pembesaran Prostat Jinak yang Perlu Diwaspadai
Beberapa gejala yang bisa jadi tanda terjadinya penyakit ini, yakni:
1. Buru-Buru ke Toilet Ketika Ingin Buang Air Kecil
Gejala yang sering dilihat itu harus buru-buru kalau sedang ingin buang air kecil.
2. Aliran Kencing Lemah dan Putus-Putus
Bisa juga dicek dari aliran urine saat buang air kecil. Pembesaran prostat jinak membuat aliran kencing akan tersumbat sehingga alirannya lemah dan putus-putus.
3. Sering Buang Air Kecil di Malam Hari
Gejala lainnya dari pembesaran prostat jinak adalah sering buang air kecil di malam hari. Di malam hari bisa buang air kecil lima sampai 10 kali. Kalau satu kali kencing di malam hari mungkin normal tapi kalau lima sampai 10 kali tentu akan mengganggu kehidupan dia termasuk pasangannya, kalau setiap jam harus ke kamar kecil kasian kan istrinya ikut terbangun.
4. Kencing Terlalu Lama
Pembesaran prostat jinak juga membuat durasi kencing menjadi lebih lama ketimbang orang lain yang tak mengalaminya. Misal ketika keluar dari bioskop, para penonton langsung ke toilet untuk buang air kecil.
Orang dengan pembesaran prostat jinak memerlukan waktu lebih lama saat buang air kecil. Ketika orang lain sudah bergantian menggunakan toilet, pasien pembesaran prostat jinak masih belum selesaibuang air kecil sehingga membuat orang lain mengantri.
Mengenal Apa Itu Pembesaran Kelenjar Prostat Jinak
Kelenjar prostat adalah organ yang hanya dimiliki pria dan terletak di pangkal penis. Banyak masyarakat yang keliru menyamakan prostat dengan testis (buah zakar), padahal keduanya berbeda.
Pembesaran prostat paling sering terjadi pada pria berusia 50 tahun ke atas, terutama pada rentang usia 60-70 tahun. Pembesaran kelenjar prostat akan mengganggu aliran air seni dan kasusnya kian bertambah banyak saat ini.
Mengapa Pembesaran Prostat Umum Terjadi pada Lansia?
Secara alami, prostat akan membesar seiring bertambahnya usia. Penelitian menunjukkan bahwa:
- Sekitar 70% pria berusia 60-70 tahun mengalami pembesaran prostat.
- Kasus mulai muncul sejak usia 50 tahun, meski jumlahnya lebih sedikit.
- BPH hampir tidak ditemukan pada usia muda (20- 40 tahun) karena kondisi pada kelompok usia ini biasanya berkaitan dengan infeksi, bukan pembesaran.
Mayoritas kasus BPH bersifat jinak, meskipun sebagian kecil dapat berkembang menjadi kanker prostat, yang penanganannya berbeda.
Apa yang Perlu Dilakukan Bila Alami Pembesaran Prostat Jinak?
1. Perbaiki Pola Hidup
Beberapa minuman dapat memicu sering buang air kecil, terutama minuman berkafein seperti kopi dan teh.
Disarankan untuk menghindari konsumsi kafein setelah pukul 16.00, karena efeknya dapat bertahan 11–15 jam.
2. Pemeriksaan Rutin Setelah Usia 50 Tahun
Lakukan pemeriksaan saat medical check-up (MCU), terutama jika:
- Mengalami gejala buang air kecil.
- Memiliki riwayat keluarga, misalnya ayah dengan riwayat BPH.
Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih efektif.
3. Terapi Obat
Jika gejala semakin berat, dokter dapat meresepkan obat untuk membantu melemaskan otot prostat atau mengecilkan ukurannya.
4. Tindakan Operasi
Operasi dilakukan bila pasien tidak dapat buang air kecil sama sekali atau mengalami komplikasi seperti:
- Infeksi berulang
- Kencing berdarah
- Retensi urine total
Saat ini, tindakan operasi biasanya dilakukan dengan metode minimal invasif menggunakan endoskopi, sehingga tidak memerlukan pembedahan terbuka.
Kapan Harus Mendapatkan Perawatan Dokter?
Segera periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami gejala pembesaran prostat yang semakin mengganggu, seperti sulit memulai buang air kecil, aliran urine semakin lemah, sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil, atau muncul nyeri dan darah pada urine.
Pemeriksaan medis sejak dini membantu dokter menentukan penyebab pasti dan memberikan penanganan yang tepat sebelum kondisi menimbulkan komplikasi. Jika Anda memiliki faktor risiko seperti usia di atas 50 tahun atau riwayat keluarga dengan BPH, pemeriksaan rutin sangat dianjurkan untuk mencegah kondisi semakin berat dan menjaga kualitas hidup tetap optimal.
Artikel dibuat berdasarkan program Healthy Monday kolaborasi EMC Healthcare dengan Liputan6, bersama narasumber dr. Gideon F.P. Tampubolon,Sp.U (Dokter Spesialis Bedah Urologi RS EMC Grha Kedoya) & dr. Isaac Ardianson Deswanto, BMedSc, SpU, FICS (Dokter Spesialis Bedah Urologi RS EMC Alam Sutera & Tangerang).