Sulap Lemak Jadi Estetika: Tampilan Natural dengan Prosedur Fat Transfer (Fat Graft)

Fat transfer atau sering disebut fat grafting adalah prosedur estetika yang memindahkan lemak dari satu area tubuh ke area lain untuk memperbaiki volume, kontur, atau kualitas kulit. Karena menggunakan lemak tubuh sendiri (autologous fat), prosedur ini dianggap lebih natural dan minim risiko reaksi alergi dibandingkan filler sintetis.

Apa Itu Fat Transfer?

Fat transfer merupakan teknik bedah minimal invasif yang terdiri dari tiga tahap utama Pengambilan Lemak melalui prosedur liposuction ringan, biasanya dari area seperti perut, paha, atau pinggang. Setelah itu lemak disaring dan diproses untuk memisahkan sel lemak yang sehat dari cairan dan debris. Lemak yang telah dimurnikan disuntikkan secara hati-hati ke area target seperti wajah, payudara, bokong, atau tangan.

Umumnya fat transfer di area wajah bertujuan untuk mengisi pipi yang cekung, mengurangi cekungan bawah mata, menghaluskan nasolabial fold dan Rejuvenasi wajah secara keseluruhan.

Kelebihan dan Kekurangan Fat Transfer

Kelebihan Fat Transfer adalah menggunakan jaringan tubuh sendiri (lebih natural), Minim risiko alergi, Hasil langsung terlihat dan tampak natural. Adapun kekurangan & risiko dari fat transfer sebagian lemak bisa diserap tubuh (30–50%), ada kemungkinan memerlukan sesi tambahan, risiko infeksi, asimetri, atau fat necrosis jika tidak dilakukan dengan dokter yang tidak ahli.

Untuk ketahanan tindakan fat transfer, sebagian lemak yang “bertahan hidup” akan menetap permanen. Hasil akhir biasanya dapat dinilai setelah 3–6 bulan. Stabilitas hasil juga dipengaruhi oleh teknik dokter, perawatan pasca tindakan dan stabilitas berat badan pasien.

 

Manajemen Pra dan Pasca Operasi Fat Transfer

Manajemen pra dan pasca operasi merupakan komponen krusial dalam keberhasilan autologous fat transfer. Pendekatan berbasis evidence yang meliputi seleksi pasien yang tepat, teknik atraumatik, optimalisasi kondisi sistemik, serta kontrol pasca tindakan yang baik terbukti meningkatkan ketahanan fat graft dan menurunkan komplikasi. Kombinasi teknik bedah yang presisi dan tata laksana komprehensif memberikan hasil estetik yang lebih aman dan prediktif.

Kandidat ideal untuk pasien yang dilakukan tindakan fat transfer adalah yang memiliki cadangan lemak yang cukup, berat badan stabil, tidak merokok atau berhenti minimal 4 minggu sebelum tindakan karena Merokok terbukti mengganggu mikrosirkulasi dan angiogenesis sehingga menurunkan viabilitas graft. Selain itu selama  1–2 minggu sebelum tindakan hentikan konsumsi Aspirin, NSAID, Vitamin E dosis tinggi, dan Herbal yang mempengaruhi koagulasi.

Setelah tindakan fat transfer Fase Awal 0–72 Jam bertujuan untuk mengurangi inflamasi, melindungi graft dari tekanan dan menjaga perfusi jaringan sehingga direkomendasi untuk menghindari tekanan pada area wajah yg dilakukan diarea transfer, menggunakan compression garment pada area donor dan tetap melakukan mobilisasi ringan untuk mencegah trombosis.

Fase pemulihan selama 1-3 minggu, selama ini tetap hindari olahraga berat dan paparan panas berlebih. Proses pembengkakakn biasanya akan menurun dalam 2–3 minggu. Dan proses resorpsi lemak akan selesai dalam waktu 3 bulan menunjukkan bahwa adiposit yang bertahan adalah yang berhasil mengalami revascularisasi dini.

Jika dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten dan dengan indikasi yang tepat, fat grafting dapat menjadi pilihan yang aman dan efektif dalam dunia estetika modern.

Artikel ditulis oleh dr. Pipim S. Bayasari, Sp.DV (Spesialis Dermatologi Venereologi RS EMC Sentul).