Wajib Tahu! 5 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-Diam Merusak Saraf

Saraf adalah “jalur komunikasi” tubuh yang sangat penting. Mereka mengirim pesan dari otak ke seluruh tubuh dan sebaliknya. Tapi, banyak dari kita tanpa sadar melakukan kebiasaan sehari-hari yang bisa memberi tekanan atau merusak saraf. Masalahnya, efeknya tidak selalu langsung terasa. Kadang baru muncul setelah bertahun-tahun, seperti kesemutan, nyeri, atau bahkan kelemahan otot.

Duduk Terlalu Lama dengan Postur yang Salah

Di era kerja jarak jauh dan gadget, duduk terlalu lama hampir jadi rutinitas semua orang. Sayangnya, posisi duduk yang salah bisa memberi tekanan pada saraf, terutama di punggung, leher, dan pinggang.

Bayangkan saraf seperti kabel yang harus lurus agar aliran sinyal lancar. Jika tubuh membungkuk atau menekuk pinggang terlalu lama, saraf bisa “terjepit”, dan ini memicu nyeri atau kesemutan. Tidak jarang orang baru menyadari setelah beberapa jam duduk atau setelah pulang kerja, punggung terasa kaku dan tangan atau kaki agak kesemutan.

Tips sederhana:

  • Gunakan kursi yang menopang punggung dengan baik.
  • Duduk tegak, kedua kaki menapak ke lantai, hindari menyilangkan kaki terlalu lama.
  • Bangun dan berjalan sebentar setiap 30–60 menit.
  • Letakkan layar komputer sejajar mata agar leher tidak menunduk.

Perspektif baru: Duduk yang salah tidak hanya merusak saraf tulang belakang, tapi juga bisa memengaruhi saraf tangan dan kaki melalui tekanan pada saraf di pinggang atau leher. Jadi, jangan abaikan postur duduk meski hanya sebentar.

Mengangkat atau Membawa Beban dengan Cara yang Salah

Sering menggendong anak, tas berat, atau membawa belanjaan tanpa memperhatikan posisi tubuh bisa memberi tekanan besar pada saraf, terutama di punggung dan bahu. Bahkan orang yang merasa kuat sering kali mengabaikan teknik angkat yang benar.

Saraf yang tertekan akibat kebiasaan ini bisa menyebabkan nyeri punggung kronis, kesemutan, atau otot terasa lemas. Jika dibiarkan terus-menerus, saraf bisa “terluka” sehingga koordinasi tubuh terganggu.

Tips sederhana:

  • Angkat beban dengan lutut, bukan punggung.
  • Gunakan tas punggung dua tali agar berat terbagi merata.
  • Jangan membawa terlalu banyak sekaligus; bagi beban menjadi beberapa bagian.
  • Istirahatkan tubuh jika terasa pegal atau nyeri.

Perspektif baru: Banyak orang berpikir beban berat hanya memengaruhi otot, padahal saraf juga bisa ikut tertekan. Menjaga teknik angkat yang benar melindungi saraf sekaligus mencegah cedera otot.

Menatap Layar Terlalu Lama

Smartphone, tablet, dan laptop hampir tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Tapi menunduk terus-menerus menatap layar bisa memberi tekanan pada saraf leher dan bahu. Kondisi ini sering disebut “text neck”, dan bisa memicu nyeri, kesemutan, atau rasa tegang di lengan dan jari.

Saraf yang terganggu bisa membuat tangan terasa kaku atau lemah. Bahkan beberapa orang mengalami kesemutan di jari meski tidak melakukan aktivitas berat.

Tips sederhana:

  • Angkat layar sejajar mata sebanyak mungkin.
  • Gunakan sandaran tangan saat mengetik agar lengan tidak tegang.
  • Istirahatkan mata dan leher setiap 20–30 menit dengan mengalihkan pandangan ke jauh.

Perspektif baru: Masalah ini tidak hanya soal leher kaku. Saraf yang menahan posisi kepala dan bahu lama-lama bisa terganggu, sehingga tangan dan jari ikut merasakan dampaknya.

Kurang Aktivitas Fisik

Saraf, seperti otot, perlu “digunakan” agar tetap sehat. Tubuh yang jarang bergerak membuat aliran darah ke saraf berkurang, dan saraf bisa menjadi lebih sensitif terhadap tekanan atau cedera.

Orang yang kurang bergerak sering mengeluh nyeri ringan, pegal, atau kesemutan di tangan dan kaki. Saraf yang tidak aktif bisa kehilangan kelenturan dan daya tanggapnya.

Tips sederhana:

  • Lakukan olahraga ringan setiap hari, seperti jalan kaki, peregangan, atau yoga.
  • Ubah posisi duduk menjadi berdiri sesekali jika memungkinkan.
  • Lakukan gerakan sederhana untuk melatih tangan dan kaki saat duduk lama.

Perspektif baru: Aktivitas fisik tidak hanya melatih otot. Saraf juga butuh “stimulasi” agar tetap tanggap. Tubuh yang terlalu lama diam membuat saraf lebih mudah tertekan dan menimbulkan masalah.

Mengabaikan Rasa Pegal, Kesemutan dan Nyeri Ringan

Sering kali kita menahan rasa pegal, kesemutan, atau nyeri ringan dengan alasan “tidak terlalu parah” atau “biasa saja”. Padahal ini bisa menjadi tanda awal saraf mulai terganggu. Mengabaikan gejala bisa membuat saraf semakin tertekan, dan lama-kelamaan gejalanya menjadi lebih serius, seperti kelemahan otot atau gangguan koordinasi.

Tips sederhana:

  • Dengarkan tubuh: jangan abaikan kesemutan atau pegal yang muncul berulang.
  • Istirahatkan area tubuh yang terasa nyeri.
  • Jika gejala menetap lebih dari beberapa minggu, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Perspektif baru: Gejala awal saraf terganggu sering halus, tapi memberi sinyal penting untuk tubuh. Mengabaikannya sama saja memberi “lampu hijau” bagi kerusakan saraf yang lebih serius di masa depan.

Kesimpulan

Saraf adalah jaringan penting yang sering kita abaikan. Lima kebiasaan sehari-hari di atas—duduk terlalu lama, mengangkat beban sembarangan, menatap layar terus-menerus, kurang bergerak, dan mengabaikan rasa tidak nyaman bisa merusak saraf tanpa disadari.

Kabar baiknya, pencegahan bisa dilakukan dengan perubahan kecil tapi konsisten. Perhatikan postur, lakukan olahraga ringan, istirahatkan tubuh, dan dengarkan sinyal tubuh. Dengan begitu, saraf tetap sehat, tubuh lebih nyaman, dan risiko masalah jangka panjang bisa ditekan.

Ingat, saraf yang sehat bukan hanya soal bebas nyeri. Saraf yang sehat berarti tubuh bekerja optimal, energi lebih baik, dan aktivitas sehari-hari terasa ringan. Jadi, mulai sekarang perhatikan kebiasaan kecil yang selama ini mungkin tanpa sadar merusak sarafmu.

Artikel ditulis oleh dr. Tri Wahyudi, Sp.N. FINS, FINA, FMIN (Dokter Spesialis Neurologi / Saraf RS EMC Alam Sutera).