Agar Anda dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari, jutaan sel saraf pada tubuh Anda bekerja tanpa henti mengirim dan menerima sinyal. Jutaan sel saraf tersebut dibagi ke dalam dua sistem saraf, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat meliputi sumsum tulang belakang dan otak. Sementara sistem saraf tepi terdapat pada organ, anggota tubuh, dan kulit. Sel-sel pada sistem saraf tepi berfungsi untuk membawa informasi dan rangsang. Jika sistem saraf tepi bermasalah, tubuh Anda bisa gagal menyadari rangsang, kesulitan menggerakkan otot, dan gangguan kesehatan lainnya. Kerusakan pada sistem saraf tepi tersebut disebut sebagai neuropati perifer.

Jika Anda merupakan penderita diabetes melitus, Anda memiliki risiko lebih tinggi terserang neuropati perifer. Selain diabetes, beberapa aktor lain yang menjadi penyebab neuropati perifer adalah kekurangan vitamin B1, B6, B12, dan E, penyakit autoimun, faktor genetik, kecanduan alkohol, dan infeksi bakteri atau virus.

Jenis dan Gejala Neuropati Perifer

Neuropati perifer terbagi menjadi empat jenis, yaitu mononeuropati, neuropati motorik, neuropati sensorik, dan neuropati otonomik. Keempat jenis ini dibagi berdasarkan sistem saraf tepi yang terganggu. Kali ini, kita akan membahas mengenai gejala yang ditimbulkan oleh masing-masing jenis neuropati perifer agar Anda dapat segera melakukan penanganan yang tepat untuk mengobatinya.

Mononeuropati terjadi ketika hanya salah satu saraf tepi yang mengalami kerusakan. Penyebab umumnya adalah cedera atau trauma fisik karena kecelakaan. Bila Anda mengalami mononeuropati, Anda mungkin merasakan gejala berupa sulit memfokuskan penglihatan, nyeri di area mata, lumpuh pada satu sisi wajah, nyeri tungkai, dan kesemutan pada jari-jari tangan.

Jenis neuropati perifer kedua adalah neuropati motorik. Pada jenis ini, gangguan terjadi pada saraf yang berfungsi mengatur gerakan tubuh. Bila Anda mengalami neuropati motorik, gejala yang bisa Anda rasakan adalah kedutan, kram pada otot hingga menyebabkan kelumpuhan, kaki yang lemah dan lunglai saat berjalan, dan massa otot yang menurun.

Yang berikutnya adalah neuropati sensorik. Seperti namanya, jenis neuropati perifer ini menyerang saraf yang mengirim sinyal sensasi akibat sentuhan, suhu, dan nyeri. Penderita neuropati sensorik mungkin merasakan rasa sakit berlebihan meski hanya mengalami sedikit sentuhan. Selain itu, di bagian kaki penderita akan merasakan nyeri seperti ditusuk dan juga ketidakmampuan merasakan perubahan suhu. Tanda lainnya adalah gangguan koordinasi tubuh saat bergerak.

Jenis keempat dan terakhir adalah neuropati otonomik. Neuropati ini menyerang saraf yang mengatur proses tubuh yang bekerja otomatis, antara lain saluran pencernaan dan tekanan darah. Jika Anda mengalami beberapa gejala seperti kesulitan saat menelan, perut kembung, mual, terus-menerus buang air kecil, jarang atau terlalu sering berkeringat, dan jantung yang berdetak sangat cepat meski sedang beristirahat, Anda mungkin mengalami neuropati otonomik.

Bedah Minimal Invasif untuk Menangani Neuropati Perifer

Jika Anda atau orang terdekat mengalami beberapa gejala yang menandakan neuropati perifer, segera periksakan ke dokter dan rumah sakit keluarga. Untuk memastikan neuropati perifer, dokter akan memeriksa riwayat penyakit dan kelainan yang sebelumnya pernah Anda alami. Pemeriksaan dilakukan dengan cara pemindaian dengan CT Scan atau MRI, pemeriksaan neurologis, cek darah, dan elektromiogram.

Bila hasil diagnosis menyatakan Anda atau orang terdekat mengalami neuropati perifer, Anda tidak perlu khawatir. Inovasi baru di bidang kedokteran memungkinkan pasien neuropati perifer untuk segera sembuh dengan operasi pembedahan tanpa sayatan besar. Metode pembedahan ini disebut bedah minimal invasif.

Selain sayatan yang kecil, kemungkinan terjadinya risiko juga kecil. Berbeda dengan pembedahan biasa, pada bedah minimal invasif dokter mengandalkan kamera endoskopi yang sangat kecil untuk melihat bagian saraf tepi yang rusak. Kamera akan menampilkan bagian dalam tubuh secara real time pada layar. Melalui gambar tersebut, dokter melakukan operasi menggunakan alat bedah berukuran sangat kecil yang masuk bersamaan dengan kamera endoskopi.

Terdapat beberapa keuntungan penggunaan metode bedah minimal invasif untuk pasien penderita neuropati perifer. Karena sayatannya sangat kecil, bekas luka akibat bedah minimal invasif akan pulih dalam waktu yang cepat. Selain itu, risiko terjadinya infeksi juga sangat kecil. Dengan demikian, Anda atau anggota keluarga penderita neuropati perifer bisa segera kembali beraktivitas dengan normal.

Nah, itulah jenis, gejala, dan cara menangani neuropati perifer. Segera periksakan ke rumah sakit bila Anda mengalami beberapa gejalanya. Biasakan juga menjalani gaya hidup sehat agar terhindar dari berbagai jenis penyakit. #LiveExcellently