Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global. Meski terdengar kuno, TBC masih menghantui masyarakat kita hingga hari ini. Di Indonesia, penyakit ini bahkan termasuk dalam daftar 10 penyebab kematian tertinggi. Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa TBC ada di sekitar seperti di lingkungan rumah, tempat kerja, transportasi umum, bahkan mungkin dalam keluarga sendiri.
Apa itu sebenarnya tuberkulosis? Bagaimana kita bisa mengenalinya, mencegahnya, dan menanganinya dengan tepat? Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai TBC, dari gejala, penularan, pencegahan, hingga pengobatan. Mari kita jaga diri dan lingkungan dari ancaman penyakit ini.
TBC Itu Apa Sih? Yuk, Kenalan Lebih Dekat
Tuberkulosis adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyerang organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, otak, dan ginjal. TBC menyebar melalui udara, terutama ketika penderita batuk, bersin, atau bahkan berbicara.
Penting untuk diketahui bahwa TBC tidak menyebar melalui makanan, minuman, sentuhan, atau berjabat tangan. Namun karena penyebarannya lewat udara, siapa pun bisa tertular jika berada dalam satu ruangan tertutup bersama penderita TBC aktif, apalagi jika tanpa ventilasi yang baik.
Ketahui Bahaya TBC
TBC menjadi berbahaya karena bisa berkembang secara diam-diam. Banyak orang tidak sadar mereka terinfeksi, dan tanpa pengobatan, TBC bisa menyebabkan kerusakan paru-paru yang parah, bahkan kematian.
Selain itu, TBC juga dapat menjadi resisten terhadap obat, terutama jika penderita tidak menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran dokter. TBC resisten obat (MDR-TBC) lebih sulit diobati dan membutuhkan waktu pengobatan lebih lama serta obat-obatan yang lebih mahal.
Siapa Saja yang Rentan Terinfeksi TBC?
Sebenarnya siapa pun bisa terkena TBC. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi, seperti:
- Orang dengan daya tahan tubuh lemah (misalnya penderita HIV/AIDS, diabetes, atau gizi buruk)
- Perokok
- Pengguna narkoba
- Orang yang tinggal di lingkungan padat dan lembap
- Petugas kesehatan yang sering kontak dengan pasien TBC
- Orang yang tinggal serumah dengan penderita TBC aktif
Gejala-Gejala TBC yang Perlu Diketahui
TBC memiliki gejala khas, namun bisa juga menyerupai penyakit pernapasan lain. Gejala umum TBC paru meliputi:
- Batuk berdahak lebih dari 2 minggu
- Batuk berdarah (hemoptisis)
- Demam, terutama di sore dan malam hari
- Berkeringat malam hari tanpa aktivitas
- Penurunan berat badan drastis
- Nafsu makan menurun
- Mudah lelah dan lemas
Jika TBC menyerang organ lain (TBC ekstra paru), gejala bisa bervariasi tergantung lokasi infeksi. Misalnya, TBC tulang bisa menyebabkan nyeri tulang atau sendi, sedangkan TBC kelenjar bisa menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening.
BACA JUGA: Ternyata TBC dapat Dicegah dan Disembuhkan dengan Cara Ini
Cara TBC Menular dari Satu Orang ke Orang Lain
Penularan TBC terjadi ketika seseorang menghirup udara yang mengandung kuman TBC. Udara ini bisa berasal dari percikan dahak penderita TBC aktif yang batuk, bersin, atau bicara. Oleh karena itu, TBC sangat mudah menyebar di ruangan tertutup yang sirkulasi udaranya buruk.
Namun, tidak semua orang yang terinfeksi kuman TBC akan langsung sakit. Banyak orang mengalami apa yang disebut sebagai TBC laten. Artinya, kuman TBC ada di tubuh mereka, tetapi tidak aktif. Orang dengan TBC laten tidak menular dan tidak memiliki gejala, namun mereka bisa sakit di kemudian hari jika daya tahan tubuh menurun.
Deteksi Dini TBC: Kunci untuk Sembuh Lebih Cepat
Salah satu kunci utama dalam pengendalian TBC adalah deteksi dini. Semakin cepat TBC terdeteksi, semakin besar peluang untuk sembuh total dan mencegah penularan kepada orang lain.
Beberapa langkah deteksi dini yang bisa dilakukan:
- Periksa ke puskesmas atau rumah sakit jika batuk lebih dari 2 minggu
- Lakukan tes dahak (mikroskopis dan/atau TCM - Tes Cepat Molekuler)
- Foto rontgen dada
- Tes mantoux atau IGRA (untuk mendeteksi TBC laten)
Deteksi dini sangat disarankan untuk anggota keluarga serumah dengan penderita TBC, termasuk anak-anak.
Langkah-Langkah Pencegahan TBC
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah beberapa cara mencegah TBC :
- Vaksinasi BCG
Vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin) diberikan pada bayi baru lahir untuk mencegah TBC berat seperti TBC meningitis atau TBC milier. Meski tidak 100% mencegah TBC paru, vaksin ini tetap sangat penting.
- Etika Batuk
Mengajarkan dan menerapkan etika batuk yang benar sangat penting. Tutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku bagian dalam saat batuk/bersin.
- Ventilasi yang Baik
Pastikan rumah dan ruangan kerja memiliki ventilasi yang cukup. Cahaya matahari dan udara segar membantu membunuh kuman TBC di udara.
- Tidak Merokok
Rokok melemahkan sistem pernapasan dan meningkatkan risiko terkena TBC serta memperparah kondisi bagi penderita TBC.
- Pemeriksaan Rutin
Orang-orang dengan risiko tinggi, seperti tenaga kesehatan dan kontak erat pasien TBC, harus melakukan skrining secara berkala.
- Menjaga Imun Tubuh
Konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, dan tidur cukup dapat membantu tubuh melawan infeksi TBC.
TBC Bisa Disembuhkan! Ini Penanganan yang Tepat
Kabar baiknya, TBC bisa disembuhkan sepenuhnya asal pengobatan dijalani dengan teratur dan tuntas. Program pengobatan TBC di Indonesia menggunakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course), yang artinya pasien mengonsumsi obat di bawah pengawasan petugas kesehatan.
Lama Pengobatan
- Untuk TBC sensitif obat: 6 bulan
- Untuk TBC resisten obat: 9-24 bulan (tergantung jenis resistensi)
Obat TBC
Obat TB diberikan secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah dan terdiri dari kombinasi beberapa obat. Pasien wajib mengonsumsi obat setiap hari sesuai jadwal yang diberikan.
Jika pasien berhenti atau melewatkan obat, bisa terjadi kekambuhan atau bahkan resistensi obat.
Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Pasien TBC membutuhkan dukungan moral dan lingkungan yang tidak diskriminatif. Stigma terhadap penderita TBC masih menjadi masalah di masyarakat dan bisa menghambat pengobatan.
Anak Juga Bisa Kena TBC, Ini yang Perlu Orang Tua Tahu
TBC pada anak sering kali tidak memiliki gejala khas seperti orang dewasa. Anak bisa mengalami batuk lama, demam, berat badan tidak naik, hingga pembengkakan kelenjar. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan tumbuh kembang anak dan segera berkonsultasi ke dokter jika ada kecurigaan TBC.
Anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC dewasa aktif juga berisiko tinggi tertular, dan perlu diberikan pengobatan pencegahan (preventif).
Ayo Lawan TBC Bersama!
Masyarakat memiliki peran besar dalam memutus mata rantai TBC. Berikut langkah nyata yang bisa dilakukan:
- Edukasi diri dan keluarga tentang TBC
- Dorong orang sekitar untuk periksa jika memiliki gejala
- Dukung pasien TBC untuk sembuh, bukan dijauhi
- Tidak menyebarkan stigma dan diskriminasi
- Ikut serta dalam program posyandu atau kegiatan deteksi TBC di lingkungan
Tuberkulosis adalah penyakit lama yang masih menjadi ancaman nyata. Jangan anggap remeh batuk yang tidak kunjung sembuh. Deteksi dini, pengobatan tepat, dan dukungan dari lingkungan adalah kunci utama untuk mengalahkan TBC.
TBC ada di sekitar kita tanpa kita sadari. Tapi dengan informasi yang benar, sikap waspada, dan kepedulian bersama, kita bisa mencegah, menangani, bahkan menghilangkan TBC dari lingkungan kita. Yuk, jadi bagian dari gerakan bebas TBC!
Artikel ditulis oleh dr. Maria Dewi Caetline, Sp.P (Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RS EMC Cikarang & Cibitung).