Tuberkulosis mungkin sudah menjadi penyakit yang lazim didengar banyak orang. Tuberkulosis atau yang kerap disebut TBC juga seringkali dianggap sebagai penyakit yang berbahaya karena mudah menular dan berpotensi menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan tepat.

Tuberkulosis sendiri adalah jenis penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycrobacterium tuberculosis yang terdiri dari beberapa spesies bakteri, seperti M. tuberculosis, M. africanum, M. bovis, dan M. Leprae. Selain beberapa bakteri tersebut, penyakit tuberkulosis juga dapat diakibatkan oleh MOTT (Mycobacterium Other Than Tuberculosis)  yang seringkali mengganggu atau menyulitkan diagnosis dan pengobatan penyakit Tuberkulosis.

Kasus baru Tuberkulosis atau TBC di Indonesia terjadi sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017 dan terus bertambah di tahun-tahun setelahnya. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena TBC dibandingkan perempuan. Berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis, prevalensi laki-laki tiga kali lebih tinggi dibandingkan perempuan. Angka ini kemungkinan terbentuk karena laki-laki pada umumnya memiliki faktor pembentuk TBC yang lebih besar, seperti kebiasaan merokok dan tingkat stres yang lebih tinggi.

Secara umum, gejala yang dialami pasien TBC adalah batuk berdahak selama dua minggu atau lebih. Batuk yang dialami dapat diikuti gejala tambahan, seperti batuk berdahak bercampur darah, sesak napas, badan lemas, nafsu makan dan berat badan menurun, malaise atau lemas, kurang fit, sering berkeringat di malam hari meskipun tidak melakukan aktivitas fisik, serta demam atau meriang yang terjadi selama lebih dari satu bulan. Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter.

Mengingat tuberkulosis merupakan penyakit yang cukup berbahaya, maka diperlukan upaya dan pengendalian faktor risiko TBC dengan berbagai cara, mulai dari membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti membudayakan perilaku etika ketika batuk, melakukan upaya pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat, melakukan penanganan penyakit penyerta TBC. Selain itu, yang paling penting adalah melakukan penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TBC di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Selain upaya pencegahan dan pengendalian risiko TBC, diperlukan pula upaya penanganan penyakit tuberkulosis untuk mewujudkan Indonesia bebas tuberkulosis. Secara umum, upaya penanganan penyakit TBC dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Integrasi layanan TBC harus berpusat pada pasien dan upaya pencegahan TBC, yang terdiri dari:
  • Diagnosis TBC sedini mungkin, termasuk uji kepekaan OAT bagi semua dan penapisan TBC secara sistematis bagi kontak dan kelompok populasi berisiko tinggi
  • Pengobatan untuk semua pasien TBC, termasuk untuk penderita resistan obat dengan disertai dukungan yang berpusat pada kebutuhan pasien (patient-centred support)
  • Kegiatan kolaborasi TB/HIV dan tata laksana komorbid TBC yang lain
  • Upaya pemberian pengobatan pencegahan pada kelompok rentan dan berisiko tinggi, serta pemberian vaksinasi untuk mencegah TBC
  1. Kebijakan dan sistem pendukung yang berani dan jelas, yang terdiri dari:
  • Komitmen yang diwujudkan dalam pemenuhan kebutuhan layanan dan pencegahan TBC
  • Keterlibatan aktif masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan dan pemberi layanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta
  • Penerapan layanan kesehatan semesta (universal health coverage) dan kerangka kebijakan lain yang mendukung pengendalian TBC, seperti wajib lapor, registrasi vital, tata kelola dan penggunaan obat rasional serta pengendalian infeksi
  • Jaminan sosial, pengentasan kemiskinan dan kegiatan lain untuk mengurangi dampak determinan sosial terhadap TBC
  1. Intensifikasi riset dan inovasi, yang terdiri dari:
  • Penemuan, pengembangan dan penerapan alat secara cepat, metode intervensi dan strategi baru pengendalian TB
  • Pengembangan riset untuk optimalisasi pelaksanaan kegiatan dan merangsang inovasi baru untuk mempercepat pengembangan program pengendalian TB

Untuk mendapatkan tindakan pencegahan serta pengobatan TBC yang baik dibutuhkan penanganan oleh tenaga medis profesional, seperti penanganan dari Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru), dr. Deva Bachtiar, Sp.P yang berpraktik pada hari Selasa pukul 08.00-12.00 WIB dan Jumat pukul 08.00-12.00 WIB di Rumah Sakit EMC Sentul. Dapatkan penanganan terbaik agar Anda dan keluarga memiliki hidup yang berkualitas, bebas dari TBC, dan #LiveExcellently