Anemia merupakan kondisi yang cukup sering ditemui dalam praktik medis. Keluhan seperti mudah lelah, pucat, atau pusing kerap dikaitkan dengan kurang darah akibat pola makan atau aktivitas yang padat. Dalam banyak kasus, anemia memang bersifat ringan dan dapat membaik dengan penanganan sederhana.
Namun, pada situasi tertentu, anemia dapat menjadi petunjuk awal adanya kondisi medis yang lebih kompleks, termasuk limfoma. Memahami kaitan antara anemia dan limfoma membantu proses evaluasi dilakukan secara lebih kompetensif dan tepat.
Bagaimana Anemia Berkaitan dengan Limfoma?
Limfoma merupakan penyakit yang berasal dari sistem limfatik, bagian dari sistem kekebalan tubuh. Pada sebagian pasien limfoma, anemia dapat ditemukan sebagai kondisi yang menyertai, bukan sebagai penyebab.
Kaitan anemia dengan limfoma dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, antara lain:
- Gangguan Produksi di Sumsum Tulang: Sel limfoma dapat menyusup ke sumsum tulang, menempati ruang yang seharusnya digunakan untuk memproduksi sel darah merah, sehingga jumlahnya menurun (anemia).
- Anemia Penyakit Kronis: Limfoma dapat menyebabkan tubuh memproduksi sitokin peradangan yang menghambat zat besi untuk digunakan dalam pembentukan sel darah merah baru, yang dikenal sebagai anemia penyakit kronis.
- Efek Samping Pengobatan (Kemoterapi): Kemoterapi untuk limfoma (seperti regimen CHOP/R-CHOP) dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin, yang mengakibatkan anemia.
- Destruksi Sel Darah (Anemia Hemolitik): Pada beberapa kasus limfoma, sistem kekebalan tubuh dapat keliru menghancurkan sel darah merah sendiri.
- Faktor Prognostik: Adanya anemia pada pasien limfoma, khususnya pada kasus Limfoma Non-Hodgkin (LNH), sering dianggap sebagai indikator prognostik yang lebih buruk atau tingkat penyakit yang lebih lanjut.
- Penyebab Kelelahan: Anemia yang disebabkan oleh limfoma sering memicu gejala kelelahan parah (fatigue) pada pasien.
Selain itu, proses peradangan kronis yang menyertai limfoma juga dapat pembentukan sel darah dan metabolisme zat besi. Dalam kondisi tertentu, penurunan asupan nutrisi akibat penyakit yang sedang berlangsung juga turut berperan.
Peran Pemeriksaan Medis dalam Menilai Anemia
Dalam praktik klinis, anemia seringkali ditemukan melalui pemeriksaan darah rutin. Dokter akan mendiagnosis jenis anemia, kemungkinan penyebabnya, serta temuan lain yang memerlukan evaluasi tambahan.
Bila anemia ditemukan bersamaan dengan tanda yang diduga berhubungan dengan kelainan kelenjar getah bening, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan sesuai indikasi medis. Langkah ini bertujuan untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan menentukan penanganan yang paling sesuai.
Jika anemia berlangsung lama atau disertai keluhan lain yang perlu dievaluasi, konsultasi dengan dokter subspesialis hemato onkologi medik menjadi langkah yang tepat.
Artikel ditulis oleh dr. Ryan Ardian Saputra, Sp.PD (Spesialis Penyakit Dalam RS EMC Alam Sutera & Tangerang).