Ketergantungan kita terhadap teknologi memang tidak dapat dihindarkan. Penggunaan laptop atau komputer sebagai sarana untuk bekerja saat ini sudah sangat lazim. Terlebih oleh generasi millenial. Posisi leher yang salah saat menggunakan laptop atau komputer dapat memicu terjadinya nyeri pada tengkuk atau leher serta kesemutan yang menjalar dari bahu hingga tangan yang terkadang dapat sangat mengganggu aktifitas sehari-hari.

Salah satu penyakit yang sering dialami oleh pekerja yang menggunakan laptop atau komputer adalah HNP (Herniated Nucleus Pulposus). Keadaan ini merupakan penonjolan bantalan sendi daerah leher yang dapat menyebabkan terjadinya jepitan syaraf leher. Gejala yang dapat ditimbulkan meliputi nyeri pada tengkuk atau bagian belakang kepala, nyeri pada belikat, kesemutan yang menjalar dari leher ke tangan, baal di tangan, atau bahkan hingga kelemahan pada bahu, siku, maupun jari. Pada tahap jepitan yang lebih lanjut, dapat ditemukan keluhan myelopathy meliputi gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi gerak halus (seperti mengancing baju, menggunakan sendok, sering menjatuhkan barang),  hingga kelumpuhan.

Secara garis besar penanganan HNP cervical meliputi terapi konservatif (tanpa operasi) atau operasi. Terapi konservatif harus diusahakan terlebih dahulu selama 4-6 minggu, karena 80% gejala HNP cervical dapat hilang dengan terapi konservatif yang meliputi obat, fisioterapi, akupuntur, injeksi, dan perbaikan posisi kerja. 20% kasus HNP cervical perlu tindakan operasi. Indikasi operasi pada kasus HNP cervical antara lain jika terapi konservatif sudah gagal, nyeri yang ditimbulikan sangat hebat sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari, sudah terjadi kelemahan anggota gerak atas, dan/atau terdapat gejala myelopathy.

Pilihan operasi pada HNP cervical bermacam-macam. Saat ini dengan perkembangan teknologi kedokteran, operasi HNP cervical dapat dilakukan dengan tehnik endoskopi yang disebut dengan Percutaneous Endoscopic Cervical Decompression (PECD), yang dapat dilakukan dari depan leher (anterior) ataupun dari belakang leher (posterior) tergantung lokasi tonjolan bantalan sendi. Tehnik ini merupakan tehnik minimal invasive yang hanya memerlukan sayatan kecil sekitar 6 mm, menggunakan alat endoskopi berupa tabung yang dihubungkan dengan camera dan monitor,  sehingga syaraf dapat terlihat sangat jelas, waktu operasi singkat sekitar 30 menit, dapat dilakukan secara one day care atau tanpa rawat inap, dan waktu untuk kembali beraktifias kembali sangatlah singkat.

Pasien sering takut untuk operasi syaraf terjepit karena dikhawatirkan akan terjadi resiko kelumpuhan. Dengan tehnik operasi PECD, resiko tersebut dapat diminimalisir. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat berkonsultasi dengan dr. Harmantya Mahadhipta, Sp.OT (K)Spine , Dokter Spesialis Bedah Ortopedi & Traumatologi di Rumah Sakit EMC Tangerang. Jadwal Praktek dr. Harmantya ada pada Hari Senin & Selasa, pk 15.00 – pk 17.00.