NPD vs. Percaya Diri: Ketika Rasa Bangga pada Diri Sendiri Berubah Menjadi Gangguan Kepribadian

Belakangan ini, istilah "narsistik" semakin sering muncul dalam komunikasi sehari-hari, terutama di media sosial. Seseorang yang gemar tampil percaya diri atau sering menceritakan prestasinya sering kali dicap sebagai "narsisme".

Percaya diri dan narsisme bukanlah hal yang sama. Percaya diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang, sedangkan Narcissistic Personality Disorder (NPD) merujuk pada gangguan kepribadian yang digolongkan ke dalam Gangguan Kepribadian Cluster B.

Kesalahpahaman ini penting untuk diluruskan karena NPD bukan sekadar suatu sifat atau ciri-ciri yang melekat pada seseorang. Tetapi juga suatu kondisi gangguan psikologis dengan kriteria medis tertentu.

Apa Itu Narcissistic Personality Disorder (NPD)?

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau Gangguan Kepribadian Narsistik adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola berulang berupa grandiositas, kebutuhan akan kekaguman, dan kurangnya empati. Individu dengan NPD cenderung memiliki gaya koping yang berfokus pada diri sendiri dan mencari perhatian. Mereka seringkali menggunakan mekanisme pertahanan seperti proyeksi dan idealisasi untuk mempertahankan citra diri yang positif. Memiliki NPD berarti seseorang memiliki urgensi yang tinggi untuk membuat orang lain terkesan terhadap dirinya dan merasa sebagai individu yang penting. Hanya saja, keinginan yang kuat tersebut dapat mendorong perilaku-perilaku berbahaya dan merugikan dirinya serta orang disekitarnya.

Meskipun orang-orang umumnya menghubungkan istilah "narsisme" dengan penampilan fisik seperti dalam mitos, NPD tidak hanya tentang penampilan saja. NPD juga dapat melibatkan sifat atau kemampuan lain dari individu, seperti kecerdasan, karisma, keterampilan artistik, kemampuan atletik, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan, dan hal lainnya.

NPD (Narcissistic Personality Disorder) menurut DSM-5-TR adalah gangguan kepribadian yang ditandai pola pervasif berupa kebesaran diri (grandiostitas), kebutuhan dikagumi, dan kurangnya empati. Penderita merasa dirinya superior, manipulatif, dan haus validasi, sering memanfaatkan orang lain demi citra diri.

Pengobatan NPD dapat menjadi tantangan karena individu dengan gangguan ini seringkali tidak menyadari adanya masalah pada diri mereka. Terapi psikologis, seperti terapi kognitif-behavioral (CBT), dapat membantu individu dengan NPD mengembangkan keterampilan sosial yang lebih baik, mengelola emosi, dan mengubah pola pikir yang tidak sehat.

Penyebab NPD belum dapat dipastikan, namun beberapa faktor yang berperan meliputi:

  • Pola asuh di masa kecil 
  • Trauma psikologis
  • Faktor lingkungan dan sosial
  • Kemungkinan faktor genetik

Apa Itu Percaya Diri yang Sehat?

Kepercayaan diri yang sehat adalah kemampuan untuk secara realistis mengakui dan menghargai nilai diri sendiri tanpa merasa lebih unggul dari orang lain. Sikap ini merupakan fondasi penting untuk menjaga kesehatan mental karena membantu mengatasi tantangan hidup, membuat keputusan dengan percaya diri, dan membangun hubungan sosial yang positif. Berbeda dengan NPD, kepercayaan diri yang sehat muncul dari kesadaran diri dan empati terhadap orang lain.

Ciri-ciri Percaya Diri yang Sehat

Di sisi lain, rasa percaya diri yang sehat diwujudkan dalam sikap seimbang antara harga diri dan rasa hormat terhadap orang lain, sehingga memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Percaya pada kemampuan diri sendiri tanpa merendahkan orang lain.  
  • Kritik dapat diterima dan dijadikan bahan evaluasi.  
  • Tidak memerlukan pujian atau pengakuan dari orang lain.  
  • Memiliki empati dan menghargai pendapat orang lain.  
  • Mengakui kesalahan atau kekurangan diri sendiri.

Apakah NPD Bisa Ditangani?

NPD adalah gangguan kepribadian yang dapat ditangani secara profesional. Beberapa metode yang umum digunakan meliputi:

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT) membantu mengubah pemikiran, emosi, dan perilaku negatif.
  • Psikoterapi membantu memahami gangguan kejiwaan, emosi, dan hubungan interpersonal.
  • Schema Therapy berfokus pada pola emosional yang tidak terpenuhi tdan membentuk pola hidup negatif.
  • Obat-obatan yang diberikan jika terdapat kondisi lain seperti depresi atau kecemasan.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?

Konsultasi dengan tenaga profesional seperti dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater atau psikolog sebaiknya perlu dilakukan ketika perilaku yang mengarah pada Narcissistic Personality Disorder (NPD) mulai menimbulkan konflik berulang dalam hubungan, baik dengan keluarga, pasangan, maupun rekan kerja. Selain itu, jika sikap tersebut sudah mengganggu kehidupan sosial, menurunkan performa kerja, atau memicu stres emosional yang berkepanjangan, baik bagi diri sendiri maupun orang di sekitar. 

Penting untuk mencari bantuan profesional dan konsultasi dengan psikolog atau  dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater agar dapat melakukan evaluasi menyeluruh, memastikan diagnosis yang tepat, serta menentukan pendekatan terapi yang sesuai dengan kondisi. Penanganan sejak dini tidak hanya membantu mengelola gejala dengan lebih efektif, tetapi juga mencegah dampak yang lebih luas terhadap hubungan sosial dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Artikel ditulis oleh Aldila Muslimah Pradhanti, M.Psi., Psikolog (Psikolog RS EMC Alam Sutera & Tangerang).