Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Leptospirosis juga sering dikenal dengan sebutan lain yaitu Weil disease; Swineherd's disease; Rice-field fever; Icterohemorrhagic fever; Cane-cutter fever; Swamp fever; Mud fever; Hemorrhagic jaundice; Stuttgart disease; Canicola fever. Bakteri Leptospira merupakan Spirochaeta aerobik (membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup), motil (dapat bergerak), gram negatif, bentuknya berkerut-kerut. Bakteri Lepstospira berukuran panjang 6-20 µm dan diameter 0,1-0,2 µm.

Bakteri Leptospira, dapat ditemukan di tanah, air, tanah basah, atau tanaman yang telah terkontaminasi oleh air kencing, darah, atau jaringan dari hewan pengerat diantaranya tikus. Hal ini sering terjadi ketika ada banjir, dan penyakit Leptospirosis ini dapat menjadi wabah. Leptospirosis tidak menyebar dari orang ke orang, kecuali dalam kasus yang jarang yaitu ketika ditularkan melalui ASI atau dari ibu ke anak yang belum lahir

Hewan yang paling sering menularkan leptospirosis adalah:

  • Tikus dan hewan pengerat lainnya
  • Babi
  • Anjing
  • Reptil dan hewan amfibi
  • Sapi

Gejala yang umum dari Leptospirosis adalah penyakit yang seringkali terjadi dalam 2 (dua) fase, yaitu:

Fase pertama

Fase pertama, yang biasanya berlangsung selama 5 (lima) hari sampai 7 (tujuh) hari, dimulai secara mendadak dengan gejala yang meliputi:

  • Demam tinggi
  • Muntah
  • Diare
  • Mata merah
  • Nyeri otot (terutama otot paha dan otot betis)
  • Ruam
  • Panas-dingin
  • Sakit kepala

Fase kedua

Fase kedua dari penyakit (fase imun) dapat terjadi 1 (satu) sampai 2 (dua) minggu kemudian, dengan gejala antara lain:

  • Demam kuning (menguning di kulit dan mata)
  • Gagal ginjal
  • Detak jantung tak teratur
  • Masalah paru-paru
  • Peradangan selaput otak
  • Mata merah

Faktor risiko terkena leptospirosis menjadi lebih tinggi terjadi pada kondisi:

  • Orang yang bekerja di luar ruangan atau dengan binatang, diantaranya, petani, dokter hewan, tukang daging, pekerja selokan, pekerja rumah potong hewan, dll
  • Orang yang berkemah
  • Tentara
  • Pekerja tambang
  • Orang yang sering mandi di danau, sungai atau kanal air tawar

Orang orang tersebut diatas bukan serta merta dipastikan terkena penyakit leptospirosis, namun harus dilakukan diagnose terlebih dahulu

Hal yang perlu diperhatikan untuk mendiagnosa Leptospirosis adalah riwayat penyakit, gejala klinis dan diagnosa pemeriksaan penunjang medis. Diagnosa pemeriksaan penunjang medis, antara lain dapat dilakukan pemeriksaan urin dan darah. Pemeriksaan urin sangat bermanfaat untuk mendiagnosa Leptospirosis karena bakteri Leptospira terdapat dalam urin sejak awal penyakit dan akan menetap hingga minggu ketiga, sedangkan cairan tubuh lainnya yang mengandung Leptospira adalah darah, dan serebrospinal, tetapi rentang peluang untuk isolasi bakteri sangat pendek. Selain itu dapat dilakukan isolasi bakteri Leptospira dari jaringan lunak atau cairan tubuh penderita, misalnya jaringan hati, otot, kulit dan mata, namun, agak sulit dan membutuhkan waktu beberapa bulan. Pemeriksaan secara komperhensif dapat dilakukan di Rumah Sakit EMC Tangerang atau di rumah sakit yang memiliki fasilitas laboratorium yang memadai

Leptospirosis yang ringan dapat diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, atau amoksisillin. Sedangkan Leptospirosis yang berat dapat diobati dengan penisillin, ampisillin, amoksisillin dan eritromisin. Sebelum mendapatkan pengobatan ini hendaknya dapat berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter

Beberapa upaya pencegahan penyakit Leptospirosis yang dapat dilakukan antara lain adalah:

  • Vaksinasi binatang Karena dapat melindungi dari beberapa bentuk bakteri Leptospira tertentu, namun tidak memberikan kekebalan jangka panjang.
  • Mengenakan alat pelindung: sepatu tahan air, kacamata goggles, sarung tangan bila akan bersentuhan dengan hal-hal yang memiliki resiko terdsapatnya bakteri Leptospira.
  • Hindari genangan air, dan air dari aliran air pertanian, dan meminimalkan kontaminasi binatang pada makanan atau sampah.
  • Siapkan sanitasi
  • Pengendalian tikus yang benar untuk membantu mencegah penyebaran bakteri Leptospira.

Dengan upaya tersebut dan tetap berusaha untuk menjaga hidup sehat, kita dapat menghindari penyakit tersebut.

Artikel ditulis oleh Dr. Suharnowo, Sp.PD (Dokter Spesialis Penyakit dalam RS EMC Tangerang).