Mengapa Limfoma Bisa Terjadi? Ini Faktor Risiko dan Pencegahannya

Limfoma merupakan kanker darah dengan manifestasi pada kelenjar getah bening yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh, khususnya sel-sel yang bertugas melawan infeksi. Penyakit ini tidak muncul secara tiba-tiba tanpa sebab. Ada pola tertentu yang dapat diamati dari sisi penyebaran kasus, kelompok usia yang terdampak, hingga faktor yang berperan dalam meningkatkan risiko. Melalui pendekatan epidemiologi, kita bisa memahami bagaimana limfoma terjadi di masyarakat dan mengapa sebagian orang memiliki risiko lebih besar dibandingkan yang lain.

Secara garis besar, limfoma dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi usia penderita, perkembangan penyakit, maupun respons terhadap pengobatan.

Artikel ini akan membahas gambaran penyebaran limfoma secara umum serta berbagai faktor yang dapat memengaruhinya, dengan bahasa yang mudah dipahami.

Seberapa Sering Limfoma Terjadi?

Dalam kajian epidemiologi, salah satu hal yang diamati adalah angka kejadian penyakit dalam suatu populasi. Limfoma termasuk kanker yang cukup sering ditemukan di berbagai negara. Angkanya berbeda-beda tergantung wilayah, gaya hidup masyarakat, serta kondisi kesehatan secara umum di Indonesia limfoma menduduki peringkat ke 7 kanker terbanyak.

Limfoma non-Hodgkin cenderung lebih banyak ditemukan dibandingkan limfoma Hodgkin. Penyakit ini dapat menyerang pria maupun wanita, meskipun pada beberapa laporan, jumlah kasus pada pria sedikit lebih tinggi.

Dari sisi usia, limfoma bisa terjadi pada anak-anak hingga lanjut usia. Namun, pola usia penderita berbeda tergantung jenisnya. Limfoma Hodgkin sering ditemukan pada usia muda dan dewasa awal, sementara limfoma non-Hodgkin lebih sering muncul pada usia yang lebih matang.

Bagaimana Pola Penyebarannya?

Limfoma tidak menular seperti flu atau infeksi biasa. Penyebaran yang dimaksud dalam epidemiologi adalah penyebaran jumlah kasus di suatu wilayah, bukan penularan antarindividu.

Beberapa hal yang dapat diamati dalam pola penyebaran limfoma antara lain:

1. Perbedaan antarwilayah

Negara dengan tingkat harapan hidup yang tinggi sering menunjukkan angka limfoma yang lebih besar, karena risiko meningkat seiring pertambahan usia.

2. Pengaruh gaya hidup dan lingkungan

Paparan zat tertentu dalam jangka panjang, seperti bahan kimia industri atau pestisida, dapat meningkatkan risiko. Wilayah dengan paparan tinggi terhadap bahan tersebut kadang menunjukkan angka kejadian yang lebih besar.

3. Kondisi kesehatan masyarakat

Pada populasi dengan angka infeksi virus tertentu yang tinggi, risiko limfoma juga dapat meningkat. 

Melalui pola ini, tenaga kesehatan dapat merancang langkah deteksi dini.

Faktor yang Mempengaruhi Risiko Limfoma

Limfoma tidak memiliki satu penyebab tunggal. Penyakit ini biasanya terjadi akibat kombinasi beberapa faktor. Berikut beberapa hal yang diketahui dapat meningkatkan risiko:

1. Gangguan daya tahan tubuh

Sistem kekebalan tubuh yang lemah dalam waktu lama dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan pada sel darah putih. Kondisi ini bisa terjadi pada orang dengan penyakit tertentu atau mereka yang menjalani pengobatan yang menekan sistem imun.

Ketika pertahanan tubuh tidak bekerja optimal, sel-sel lebih mudah mengalami perubahan yang tidak normal.

2. Infeksi tertentu

Beberapa jenis infeksi virus dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko limfoma. Infeksi tersebut tidak selalu langsung menyebabkan kanker, tetapi dapat memicu perubahan pada sel yang berlangsung perlahan.

Penting untuk dipahami bahwa tidak semua orang dengan infeksi tertentu akan mengalami limfoma. Faktor lain tetap berperan.

3. Usia

Risiko limfoma cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, terutama untuk jenis non-Hodgkin. Hal ini berkaitan dengan proses penuaan sel dan paparan faktor risiko dalam jangka panjang.

Namun, bukan berarti usia muda bebas risiko. limfoma hodgkin seringkali terjadi pada kelompok usia produktif.

4. Riwayat keluarga

Memiliki anggota keluarga dengan riwayat limfoma atau kanker darah lainnya dapat sedikit meningkatkan risiko. Meski demikian, sebagian besar kasus limfoma tidak diturunkan secara langsung.

Faktor genetik berperan dalam tingkat tertentu, tetapi lingkungan dan kondisi tubuh juga sangat menentukan.

5. Paparan zat kimia

Paparan bahan kimia tertentu dalam waktu lama, seperti yang ditemukan di lingkungan kerja tertentu, dapat meningkatkan risiko. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri sangat penting bagi pekerja yang berisiko.

Mengapa Epidemiologi Penting dalam Limfoma?

Pendekatan epidemiologi membantu tenaga kesehatan memahami siapa yang paling berisiko, di mana kasus paling sering terjadi, dan faktor apa saja yang perlu diwaspadai. Dengan data tersebut, program skrining dan edukasi dapat lebih tepat sasaran.

Misalnya, jika ditemukan bahwa kelompok usia tertentu memiliki angka kejadian lebih tinggi, maka kampanye kesadaran dapat difokuskan pada kelompok tersebut. Begitu juga jika suatu wilayah memiliki paparan lingkungan yang berisiko.

Melalui pemantauan jangka panjang, tren peningkatan atau penurunan kasus juga dapat diketahui. Informasi ini sangat penting untuk evaluasi kebijakan kesehatan.

Apakah Limfoma Bisa Dicegah?

Tidak semua kasus dapat dicegah karena ada faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti usia dan riwayat keluarga. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu menurunkan risiko:

  • Menjaga daya tahan tubuh tetap optimal melalui pola hidup sehat
  • Menghindari paparan bahan kimia berbahaya tanpa perlindungan
  • Mengelola infeksi dengan pengobatan yang tepat
  • Melakukan pemeriksaan bila muncul benjolan yang tidak hilang dalam waktu lama

Kesadaran terhadap gejala awal sangat penting. Benjolan yang tidak nyeri dan bertahan lebih dari beberapa minggu sebaiknya diperiksakan agar mendapat penilaian lebih lanjut.

Pentingnya Deteksi Dini

Meskipun limfoma termasuk penyakit serius, peluang keberhasilan pengobatan lebih baik bila ditemukan lebih awal. Oleh karena itu, memahami pola penyebaran dan faktor risiko membantu masyarakat agar lebih waspada tanpa perlu merasa cemas berlebihan.

Pendekatan yang tepat adalah mengenali tanda-tanda yang tidak biasa pada tubuh dan segera berkonsultasi jika terdapat keluhan yang menetap.

Gangguan daya tahan tubuh, infeksi virus, usia, riwayat keluarga, dan paparan bahan kimia merupakan beberapa faktor yang diketahui dapat berkontribusi. Meski tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, langkah menjaga kesehatan dan meningkatkan kesadaran terhadap gejala awal dapat membantu mendeteksi penyakit lebih dini.

Artikel ditulis oleh dr. Ryan Ardian Saputra, Sp.PD (Spesialis Penyakit Dalam RS EMC Alam Sutera & Tangerang).