Pneumonia pada lansia kerap tidak dikenali sejak awal karena gejalanya mirip dengan flu ringan. Namun, di balik gejala yang tampak ringan tersebut tersembunyi risiko komplikasi serius yang bisa mengancam nyawa. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini dan memberikan penanganan yang tepat.
Pentingnya Deteksi Dini Pneumonia pada Lansia
Pneumonia, yang sering disebut paru-paru basah adalah infeksi yang terjadi pada paru-paru dan dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, virus, dan jamur. Infeksi dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada alveoli atau kantung udara di paru-paru, akibatnya kantung tersebut terisi cairan atau nanah. Meskipun pneumonia dapat menyerang siapa saja, dua kelompok usia yang paling rentan terhadap dampak seriusnya adalah anak-anak di bawah usia 2 tahun dan lansia di atas 65 tahun.
Kejadian pneumonia pada lansia mencapai 25-44 kasus per 1.000 orang yang mana hal ini empat kali lipat lebih tinggi jika dibandingkan dengan usia muda. Semakin tua usia risiko kematian akibat pneumonia juga semakin besar, sehingga penting untuk segera mendapatkan penanganan.
Penyebab Pneumonia pada Lansia
Beberapa faktor mempengaruhi peningkatan risiko pneumonia pada lansia, seperti:
- Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah: Seiring bertambahnya usia, sistem imun melemah, sehingga tubuh lebih sulit melawan bakteri atau virus penyebab pneumonia.
- Penyakit Lain: Lansia seringkali sudah memiliki penyakit lain seperti PPOK, stroke, atau penyakit jantung, yang membuat mereka lebih rentan terhadap pneumonia.
- Perawatan di Rumah Sakit: Lansia sering membutuhkan perawatan rumah sakit yang panjang, sehingga lebih mudah terpapar bakteri atau virus penyebab pneumonia yang ada di lingkungan rumah sakit.
- Kebiasaan Merokok: Banyak lansia yang masih merokok dan kebiasaan ini melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat meningkatkan risiko pneumonia.
Kenali Gejala Pneumonia pada Lansia
Gejala pneumonia pada lansia bisa sulit dikenali karena mirip dengan infeksi pernapasan lainnya seperti flu atau bronkitis. Namun, beberapa tanda umum dan khas yang tetap perlu diwaspadai:
- Batuk berdahak atau berdarah: Batuk menjadi lebih intens dan biasanya disertai dahak kental, kadang bercampur darah.
- Demam dan napas pendek: Lansia bisa mengalami demam dan sesak napas, terutama saat beraktivitas ringan.
- Nyeri dada: Rasa sakit atau tidak nyaman di dada bisa muncul saat bernapas dalam atau batuk.
- Menggigil: Tubuh terasa sangat dingin dan bisa gemetar, tanda tubuh sedang melawan infeksi.
- Sakit kepala: Infeksi dapat menyebabkan tubuh terasa lemah dan kepala terasa berat atau nyeri.
Selain gejala umum di atas, lansia juga bisa menunjukkan gejala yang lebih khas:
- Inkontinensia (sulit menahan buang air kecil/besar)
Beberapa lansia mengalami kesulitan mengontrol buang air sebagai reaksi terhadap infeksi. - Kebingungan atau Delirium
Lansia mungkin tampak bingung atau linglung yang bisa menjadi tanda awal infeksi serius. - Suhu tubuh rendah
Alih-alih demam, sebagian lansia justru mengalami penurunan suhu tubuh saat terinfeksi.
Pencegahan Pneumonia pada Lansia
Untuk mencegah atau mengurangi risiko pneumonia pada lansia, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Vaksinasi Pneumonia
Vaksin membantu melindungi tubuh dari infeksi bakteri atau virus penyebab pneumonia, terutama pada lansia yang sistem imunnya sudah menurun. - Berhenti merokok
Merokok merusak paru-paru dan melemahkan daya tahan tubuh, sehingga lebih mudah terserang infeksi. - Istirahat yang cukup
Tidur yang cukup memungkinkan tubuh untuk cepat pulih dan menjaga kekuatan sistem imun.. - Rutin berolahraga
Aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki bisa meningkatkan kebugaran dan daya tahan tubuh. - Konsumsi makanan bergizi seimbang
Perhatikan konsumsi gizi seimbang agar sistem kekebalan tubuh lebih kuat dan dapat melawan infeksi pada tubuh. - Cuci tangan secara teratur dengan sabun
Mencuci tangan secara teratur dapat mengurangi penyebaran kuman penyebab penyakit. - Hindari paparan polusi udara dan asap rokok
Udara kotor dan asap bisa mengiritasi paru-paru dan memicu infeksi, terutama pada lansia yang paru-parunya lebih sensitif.
Dengan melakukan langkah-langkah pencegahan di atas, risiko pneumonia pada lansia dapat ditekan secara signifikan. Pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan, apalagi pada usia lanjut yang lebih rentan mengalami komplikasi serius. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk turut aktif menjaga kesehatan lansia agar tetap terlindungi dari infeksi.
BACA JUGA: Gejala Pneumonia Bisa Berbeda Berdasarkan Penyebabnya
Periksakan ke Dokter untuk Penanganan Lebih Lanjut
Pneumonia pada lansia bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele. Gejalanya mungkin tampak ringan di awal, tetapi dapat berkembang menjadi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Lansia memiliki risiko lebih tinggi karena daya tahan tubuh yang menurun dan sering kali disertai penyakit lain. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala sejak dini dan memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko.
Lakukan langkah pencegahan sedini mungkin, seperti vaksinasi, menjaga pola hidup sehat, dan menghindari paparan asap rokok atau polusi. Jika lansia mulai menunjukkan tanda-tanda infeksi saluran pernapasan, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.
Artikel ditulis oleh dr. Maria Dewi Caetline, Sp.P (Dokter Spesialis Paru & Pernapasan RS EMC Cikarang & Cibitung).