Leukemia adalah kanker darah yang terjadi akibat gangguan pada produksi dan fungsi sel darah putih di dalam tubuh. Penyakit leukemia ini dimulai dari perubahan sel darah putih yang diproduksi di sumsum tulang, lalu berkembang menjadi sel-sel abnormal yang tumbuh tidak terkendali.
Di tahap awal, leukemia sering kali tidak menunjukkan tanda atau gejala yang jelas. Keluhan seperti merasa lelah atau mudah sakit sering dianggap sebagai masalah biasa. Padahal, tanpa disadari, perubahan pada sel darah terus berkembang dan dapat memengaruhi keseimbangan fungsi tubuh secara keseluruhan.
Bagaimana Leukemia Terjadi di Dalam Tubuh?
Leukemia berasal dari gangguan yang terjadi di sumsum tulang, yang berfungsi untuk membentuk sel-sel darah. Dalam kondisi normal, sumsum tulang menghasilkan sel-sel darah yang terdiri dari:
- Sel darah merah (eritrosit) yang berfungsi membawa oksigen.
- Sel darah putih (leukosit) yang berfungsi melawan infeksi.
- Trombosit yang berperan dalam proses pembekuan darah.
Sel darah tersebut akan diproduksi secara seimbang dan terkontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pada leukemia, terjadi perubahan genetik pada sel darah putih yang menyebabkan pertumbuhan sel secara abnormal dan tidak terkendali. Sel-sel abnormal ini bukan hanya kehilangan fungsi utamanya dalam melawan infeksi, tetapi juga mengambil alih ruang di sumsum tulang dan menghambat produksi sel darah.
Akibatnya, tubuh dapat mengalami anemia karena kekurangan sel darah merah, lebih mudah perdarahan karena rendahnya jumlah trombosit, serta lebih rentan terhadap infeksi karena gangguan pada sel darah putih normal. Ketidakseimbangan inilah yang memicu berbagai gejala dan komplikasi pada penderita leukemia, seperti kelenjar getah bening, limpa, hati, hingga sistem saraf pusat.
Gejala yang Sering Dianggap Sepele
Leukemia pada awalnya biasanya menimbulkan gejala yang ringan dan tidak jelas, seringkali diabaikan. Banyak orang beranggapan bahwa gejala leukemia hanyalah disebabkan oleh kelelahan biasa atau penurunan daya tahan tubuh sementara.
Sebenarnya, gejala-gejala ini dapat menunjukkan adanya masalah dalam proses produksi dan fungsi sel-sel darah di dalam tubuh. Berikut beberapa gejala yang harus diwaspadai:
- Lelah berkepanjangan, meski beristirahat atau tidak melakukan aktivitas berat.
- Mudah memar atau berdarah, seperti mimisan, terkena luka, atau lebam.
- Infeksi berulang atau demam yang sering kambuh dan sulit sembuh.
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas, tanpa perubahan pola makan atau olahraga.
- sesak napas, terutama jika penyakit sudah memengaruhi organ lain
Jenis-Jenis Leukemia dan Perbedaannya
Jenis leukemia dibedakan menurut kecepatan perkembangan penyakit serta jenis sel darah yang terdampak. Kedua jenis ini menentukan ciri-ciri penyakit, tingkat keparahan, hingga terapi serta pengobatan yang diperlukan. Berikut penjelasannya:
1. Jenis Leukemia Berdasarkan Kecepatan Perkembangan Penyakit
Berdasarkan kecepatan perkembangannya, leukemia terbagi menjadi:
- Leukemia akut
Leukemia akut berkembang dengan sangat cepat dan bersifat agresif. Pada kondisi ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah putih yang masih sangat muda dalam jumlah besar (blast). Sel-sel ini belum matang dan tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
Ciri-ciri leukemia akut:
- Gejala muncul secara tiba-tiba dan memburuk dalam waktu singkat.
- Sering menyebabkan keluhan berat seperti anemia parah, infeksi berat, dan perdarahan tiba-tiba.
- Umumnya memerlukan kemoterapi intensif dalam waktu cepat setelah diagnosis.
Contoh leukemia akut yang umum adalah Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) dan Acute Myeloid Leukemia (AML).
- Leukemia kronis
Leukemia kronis berkembang lebih lambat dibandingkan tipe akut. Sel darah yang diproduksi lebih matang dibandingkan sel pada leukemia akut. Karena berkembang perlahan, gejala bisa tidak terasa selama bertahun-tahun.
Ciri-ciri leukemia kronis:
- Sering nyeri tulang atau sendi
- Perkembangan penyakit berlangsung bertahap.
- Dalam beberapa kasus, pasien dapat dipantau terlebih dahulu sebelum memulai terapi.
- Rasa Tidak enak pada perut karena limpa yang membesar
Contoh leukemia kronis yang sering ditemukan adalah Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL) dan Chronic Myeloid Leukemia (CML).
2. Jenis Leukemia Berdasarkan Sel yang Terpengaruh
Selain kecepatan perkembangan, leukemia juga dapat dibedakan berdasarkan jenis sel darah yang terpengaruh, yaitu:
- Leukemia Limfositik (Lymphocytic Leukemia)
Leukemia limfositik terjadi ketika sel limfosit mengalami perubahan abnormal dan berkembang tidak terkendali. Limfosit terdiri dari sel B dan sel T yang berperan penting dalam melawan infeksi. Jenis leukemia ini secara langsung memengaruhi kemampuan tubuh dalam mempertahankan diri dari penyakit.
Ciri-ciri leukemia limfositik:
- Mengganggu sistem kekebalan tubuh secara langsung.
- Dapat menyebar ke bagian tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, otak, hati, dan limpa.
- Sering ditemukan pada anak-anak untuk jenis Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) dan lansia untuk jenis Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL).
- Leukemia Mieloid (Myeloid Leukemia)
Leukemia mieloid menyerang sel mieloid, yaitu sel yang nantinya berkembang menjadi sel darah merah, trombosit, serta beberapa jenis sel darah putih. Gangguan pada sel mieloid dapat berdampak pada berbagai fungsi tubuh secara bersamaan, mulai dari distribusi oksigen hingga mekanisme pembekuan darah.
Ciri-ciri leukemia mieloid:
- Lebih sering menimbulkan gangguan pada produksi sel darah merah dan trombosit.
- Gejala seperti anemia, mudah memar, dan perdarahan biasanya lebih terlihat.
- Dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, baik usia muda maupun lanjut usia.
Pentingnya Deteksi Dini dan Pengobatan Leukemia
Deteksi dini penting untuk memastikan diagnosis lebih cepat dan menentukan terapi yang paling sesuai dengan jenis leukemia. Semakin awal terdeteksi, semakin besar peluang pengobatan berjalan efektif. Berikut pemeriksaan dan terapi yang umum dilakukan:
- Tes darah rutin (Complete Blood Count/CBC): Mengukur kadar sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit untuk mendeteksi kelainan jumlah atau bentuk sel.
- Tes sumsum tulang (aspirasi & biopsi): Mengambil sampel sumsum tulang untuk memastikan adanya sel kanker dan menentukan jenis stadiumnya.
- Kemoterapi: Terapi obat antikanker melalui infus atau oral untuk membunuh atau menekan pertumbuhan sel kanker.
- Radioterapi: Terapi radiasi untuk menghancurkan sel kanker atau mengecilkan area yang terdampak.
- Terapi imun (imunoterapi): Meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh agar lebih efektif mengenali dan menyerang sel kanker.
BACA JUGA: Hematologi Onkologi Medik, terkait Kanker Darah dan Organ Tubuh
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?
Mengenal perubahan kecil dalam tubuh adalah langkah awal menjaga kesehatan jangka panjang. Segera lakukan pemeriksaan jika Anda mengalami gejala yang tidak membaik atau berkepanjangan, kelelahan tanpa sebab yang jelas, mudah memar, hingga sering mengalami infeksi. Apabila Anda mengalami keluhan tersebut, segera konsultasi dengan dokter Hemato Onkologi Medik Subspesialis.
Melalui pemeriksaan lebih lanjut seperti tes darah atau evaluasi sumsum tulang, dokter dapat membantu memastikan penyebab keluhan serta menentukan langkah pengobatan dan penanganan yang tepat. Deteksi dan penanganan dini dapat meningkatkan peluang keberhasilan terapi serta mempertahankan kualitas hidup yang optimal.
Artikel ditulis oleh dr. Ryan Ardian Saputra, Sp.PD, Subsp. H.Onk.M (K) (Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Hemato Onkologi Medik RS EMC Alam Sutera & Tangerang).