Di Balik Tren Lari, Waspada Risiko Aritmia

Lari kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Namun, di balik tren tersebut, terdapat aspek penting yang sering terabaikan yaitu aritmia.

Aritmia adalah gangguan irama jantung. Detaknya bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Pada sebagian orang kondisi ini tidak berbahaya. Namun pada situasi tertentu, aritmia bisa menimbulkan keluhan serius, apalagi jika dipicu latihan intens tanpa kontrol.

Aritmia yang Bisa Muncul Pada Orang yang Rutin Lari

Jenis yang paling sering dikaitkan dengan olahraga endurance adalah Atrial fibrillation. Kondisi ini membuat detak jantung tidak teratur dan sering terasa berdebar. Gejalanya dapat berupa:

  • Jantung berdebar tidak beraturan
  • Cepat lelah padahal pace biasa saja
  • Pusing
  • Sesak
  • Rasa tidak nyaman di dada

Risiko lebih sering muncul pada usia di atas 40 tahun atau pada mereka yang sudah lama latihan intens. Tapi bukan berarti pelari muda pasti aman. Kalau ada keluhan, tetap perlu diperiksa.

Panduan Menghitung Zona Aman Detak Jantung Saat Latihan Lari

Supaya lari tetap aman, penting untuk mengetahui batas detak jantung saat latihan dengan cara:

1. Langkah pertama, hitung Maksimal Heart Rate atau MHR dengan rumus sederhana 220 dikurangi usia.

Contoh usia 35 tahun

220 – 35 = 185 bpm

2. Langkah kedua, ambil 85 persen sebagai batas aman latihan intens.

Contoh = 85 persen dari 185 = sekitar 157 bpm.

Artinya, jika usia 35 tahun, sebaiknya detak jantung saat lari tidak rutin melewati angka 157 bpm.

Jika sering latihan di atas 90 persen MHR, risikonya bisa berupa kelelahan berlebihan, stres pada sistem kelistrikan jantung, hingga peningkatan risiko aritmia pada individu dengan faktor risiko tersembunyi.

Smartwatch boleh digunakan untuk memantau detak jantung. Namun jika muncul keluhan berdebar tidak teratur, jangan langsung menganggap itu hanya kesalahan alat.

Jangan Abaikan Tanda Bahaya

Segera lakukan pemeriksaan jika mengalami gejala:

  • Jantung berdebar tidak teratur saat atau setelah lari
  • Pingsan atau hampir pingsan
  • Nyeri dada
  • Sesak yang tidak biasa
  • Riwayat keluarga henti jantung mendadak

Aritmia sering kali bisa dikendalikan jika terdeteksi lebih awal.

BACA JUGA: Olahraga Aman Tanpa Cedera, Ini Panduan dari Dokter Spesialis Olahraga RS EMC Grha Kedoya

Tetap Aktif, Tapi Lebih Sadar

Lari tetap salah satu olahraga terbaik untuk jantung. Kuncinya bukan berhenti, melainkan lebih sadar terhadap kondisi tubuh sendiri.

Bagi Anda yang rutin lari, terutama usia di atas 40 tahun atau sering ikut event jarak jauh, pemeriksaan seperti EKG, treadmill test, atau rekam jantung 24 jam dapat membantu memastikan irama jantung tetap aman.

Di RS EMC, evaluasi jantung dilakukan secara menyeluruh oleh dokter spesialis jantung dengan fasilitas diagnostik lengkap. Dengan pemeriksaan yang tepat, Anda bisa tetap aktif berlari tanpa rasa khawatir.

Lari boleh kalcer. Tapi jantung tetap prioritas.

Artikel ditulis oleh dr. Engine Rabindra Ariapramuda, Sp.JP (Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS EMC Cikarang).