Palpitasi atau berdebar merupakan sensasi denyut jantung yang cepat atau tidak teratur yang sering dideskripsikan oleh pasien sebagai denyut jantung atau gerakan organ di sekitar jantung yang tidak nyaman. Aktivitas jantung secara normal tidak dirasakan saat istirahat, namun sesaat setelah aktifitas yang berat atau saat stress emosional kita dapat merasakan aktivitas denyut jantung. Keadaan ini merupakan kondisi palpitasi yang fisiologis. Diluar kondisi ini, palpitasi dianggap sesuatu yang tidak normal.

Palpitasi merupakan salah satu keluhan tersering pasien datang ke dokter umum, dan juga merupakan alasan tersering dokter umum merujuk pasien ke kardiolog. Keluhan ini kadang  merepresentasikan suatu bentuk gangguan irama jantung (aritmia) dengan berbagai penyebab dan keluhan yang disampaikan pasien. Mekanisme yang mendasari keluhan palpitasi bervariasi, kontraksi jantung yang terlalu cepat, lambat atau tidak teratur termasuk sinus takikardi karena gangguan mental, penyakit sistemik atau efek obat-obatan; kontraksi jantung yang kuat dan kelainan gerakan jantung seperti pada penyakit jantung struktural; anomali persepsi subjektif terhadap denyut jantung seperti pada beberapa penyakit psikosomatis.

Palpitasi kadang disertai dengan keluhan pingsan, pusing berputar, atau nyeri dada. Bila keluhan ini menyertai palpitasi harus dipikirkan penyebab penyakit yang lebih serius. Oleh karena itu, investigasi mendalam meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pembacaan rekam jantung (ECG) sangat diperlukan untuk membangun diagnosis pasien dengan keluhan paltitasi.

PENYEBAB

Penyebab palpitasi sangat beragam, baik karena factor jantung (kardiak) maupun non kardiak. Penyebab palpitasi karena sebab kardiak sebanyak 43%, psikiatri 30 % dan 27% sisanya tidak diketahui.

Palpitasi dapat diakibatkan oleh berbagai aritmia  (bradikardia, takikardia, prematur atrial dan ventrikel, sick sinus syndrome, blok AV dan ventrikel takikardia).  Perasaan denyut yang berubah-ubah (flip-flop) biasanya disebabkan karena prematur atrial atau ventrikel. Perasaan jantung berhenti diakibatkan oleh suatu pause (compensatori atau nonkompensatori). Sensasi pukulan timbul akibat denyutan kuat postekstrasistolik. Pasien dengan perasaan palpitasi di daerah leher mungkin diakibatkan oleh atrioventricular nodal tachicardia yang mengakibatkan denyut simultan atrial dan ventrikel sehingga terjadi reflux darah ke vena cava superior

Palpitasi yang disebabkan oleh panic disorder sebanyak 15-31%. Keadaan ini sering dijumpai pada wanita usia subur. Pada kelainan ini, peningkatan katekolamin dapat menginduksi suatu supraventrikular atau ventrikular takikardia. Peningkatan tonus vagal setelah aktivitas juga dapat memicu atrial fibrilasi. Pada saat kita menjumpai pasien dengan keluhan palpitasi, pemeriksaan adanya penyakit sistemik juga diperlukan karena palpitasi sering dijumpai akibat adanya demam, dehidrasi, hipoglikemia, anemia atau penyakit tiroid. Palpitasi juga dapat dipicu oleh beberapa obat dan makanan yang mengandung kafein, alkohol, cocain, teofilin, digitalis dan beta agonis.

ASESMEN AWAL PALPITASI

Anamnesis dan pemeriksaan fisik memegang kunci pada asesmen awal pasien dengan keluhan palpitasi. Anamnesis meliputi :

  1. Karakter palpitasi yang dirasakan seperti perasaan denyut yang berubah-ubah (flip-flop), sensasi denyut jantung yang berhenti, sensasi pukulan dapat merefleksikan suatu jenis aritmia tertentu.
  2. Tipe mulai dan berakhirnya palpitasi, apakah tiba-tiba ataukah gradual. Palpitasi yang timbul dan berakhir secara tiba-tiba mengindikasikan suatu atrial atau ventrikular takiaritmia, sedangkan jika timbul perlahan biasanya suatu keadaan yang jinak, seperti sinus takikardia karena stres emosional atau pasca latihan.
  3. Faktor presipitasi, misal aktifitas atau pemakain obat. Palpitasi yang timbul pada saat aktifitas fisik yang ringan mengindikasikan adanya suatu patologi, seperti CHF, iskemi miokard, atrial fibrilasi, anemia atau tirotoksikosias. Pasien dengan sindrom Long QT, suatu keadaan abnormalitas repolarisasi miokard, biasanya timbul palpitasi saat latihan yang bernmanifestasi sebagai VT. Pasien dengan sindrom long QT memiliki resiko kematian mendadak (sudden cardiac death) yang tinggi.
  4. Gejala penyerta seperti syncope, presyncope, vertigo atau angina.

Pemeriksaan fisik kadang sulit dilakukan selama pasien masih dalam kondisi palpitasi. Pemeriksaan selama palpitasi ditujukan untuk mengevaluasi hemodinamik (tekanan darah dan tanda gagal jantung) dan menilai regularitas denyut jantung dengan mendengarkan atau palpasi nadi.

Pemeriksaan laboratorium dasar seperti darah rutin, elektrolit, hormon tiroid bermanfaat untuk menilai ada tidaknya keterlibatan penyakit sistemik yang mendasari palpitasi. Jika memungkinkan pemeriksaan enzym jantung, BNP, urin rutin juga dapat dilakukan.

ELEKTROKARDIOGRAFI

Elektrokardiografi (EKG) memegang peranan penting dalam mendiagnosis pasien dengan keluhan palpitasi. Jika pasien bisa diperiksa selama keluhan palpitasi, EKG merupakan modalitas yang sangat membantu dalammendiagnosis pasien. Untuk itu pasien harus diberitahu agar secepat mungkin periksa jika ada keluhan palpitasi. Dengan melihat gambaran EKG, dokter dapat menganalisis gelombang P dan QRS serta hubungan keduanya, menilai frekuensi dan regularitas denyut jantung, sehingga akhirnya dapat mendiagnosis secara akurat adanya hubungan antara palpitasi dan ada atau tidaknya aritmia. Selain itu, gambaran EKG juga memberikan informasi kondisi jantung yang lain seperti ada tidaknya infark miokard sebelumnya, hipertrofi ventrikel atau atrium, dan blok AV, dan ada tidaknya jalur tambahan seperti delta wave pada sindrom Wolf-Parkinson-White (WPW).                                                                                

PEMERIKSAAN LANJUTAN

Jika dari anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratoium dan EKG tidak mengerucut pada suatu diagnosis, maka perlu dikakukan pemeriksaan tambahan, diantaranya (1) Holter monitoring, yaitu suatu monitoring EKG kontinyu selama 24-48 jam. Pasien melakukan alktifitas sehari-hari seperti biasa dan diminta untuk mencatat adanya keluhan dan aktifitas yang sedang dilakukan, sehingga dapat diperoleh korelasi antara keluhan dan aritmia berdasarkan rekaman strip ECG. (2) Treadmil tes, sangat bermanfaat untuk menilai kecurigaan palpitasi yang dipresipitasi dengan aktivitas dan pasien dengan faktor resiko penyakit jantung iskemia. (3) Echocardiografi; pemeriksaan ekokardiografi pada pasien palpitasi ditujukan untuk menilai morfologi jantung, fungsi ventrikel kiri dan ada tidaknya penyakit katup. Seringkali ekokardiografi bermanfaat untuk menilai adanya prolap katup mitral pada dewasa muda dengan keluhan palpitasi yang tidak dapat dijelaskan. (4) Studi elektrofisiologi, merupakan tindakan invasif terakhir pada penegakan diagnosis palpitasi. Studi elektrofisiologi ini dapat menilai secara akurat jenis aritmia yang mendasari keluhan palpitasi, sekaligus dapat diteruskan dengan tindakan ablasi untuk menghentikan aritmia.

RAWAT JALAN ATAU RAWAT INAP?

Sebagian besar pasien dengan palpitasi dapat didiagnosa melalui fasilitas rawat jalan, atau cukup diterapi di unit gawat darurat dan diteruskan dengan rawat jalan, seperti pada kebanyakan pasien dengan SVT. Namun pada kasus palpitasi dengan keluhan yang sangat mengganggu atau jika asesmen awal mengarah pada resiko aritmia yang serius, perawatan, monitoring dan konsultasi kardiolog sangat diperlukan.

KESIMPULAN

Palpitasi merupakan gejala non spesifik dengan berbagai etiologi yang mendasari, baik kardiak maupun non kardiak. Jika suatu aritmia bertanggungjawab terhadap keluhan palpitasi yang timbul, maka investigasi mendalam harus dilakukan karena palpitasi sangat mungkin merupakan tanda adanya problem kardial atau metabolik. Evaluasi palpitasi meliputi deteksi aritmia yang mendasari, menilai keparahan gejala dan menilai ada tidaknya kelainan struktur jantung dan penyebab presipitasi lainnya.

Palpitasi yang disertai dengan syncope, hemodinamik yang tidak stabil atau aritmia yang tidak terkontrol memerlukan perawatan, monitoring dan konsultasi kardiolog untuk evaluasi kardiak secara cepat dan jika mungkin dilakukan studi elektrofisiologi dan ablasi.

Artikel ini ditulis oleh dr. Heri Hernawan, Sp. JP FIHA (Dokter Spesialis Jantung RS EMC Tangerang). Beliau Praktek setiap hari Senin - Jumat pk 09.00 - pk 14.00 dan Sabtu pk 09.00 - pk 13.00.