Angka kasus positif COVID-19 di Indonesia terus meningkat setiap harinya. Bahkan terhitung hari Rabu, 25 November 2020, angka kasus positif COVID-19 sudah mencapai 506.000 dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 425.000 dan 16.111 meninggal dunia. Seiring dengan semakin bertambahnya kasus positif COVID-19 tersebut, kita diharapkan untuk selalu melaksanakan protokol kesehatan seketat mungkin agar tidak terinfeksi COVID-19.

Dilansir dari pernyataan WHO (World Health Organization), pandemi ini sangat mempengaruhi pelayanan kesehatan, terutama di berbagai negara berkembang. Salah satu pelayanan kesehatan yang sangat terpengaruh adalah rehabilitasi medik. Berdasarkan sebuah survei, layanan rehabilitasi medik di lebih dari 60 negara terganggu akibat pandemi COVID-19. Padahal, WHO mewajibkan rehabilitasi sebagai bagian dari strategi nasional untuk menangani pasien COVID-19 karena rehabilitasi menjadi kunci recovery/pemulihan pada pasien COVID-19 dan pasca COVID-19.

Sebagian besar pasien yang sudah sembuh dari infeksi COVID-19 nyatanya masih memiliki beberapa gejala infeksi meskipun mereka telah dinyatakan negatif. Beberapa gejala tersebut di antaranya adalah masih sering mengalami sesak nafas, dada berdebar, nyeri kepala, nyeri sendi, kemampuan indra penciuman yang masih belum juga membaik, cepat lelah, serta rasa ketakutan dan kecemasan berlebih. Berbagai gejala fisik tersebut disebabkan oleh sisa infeksi COVID-19 berupa jaringan parut (fibrosis) pada area paru-paru pasien. Pada kasus SARS dan MERS, umumnya jaringan parut tersebut baru bisa hilang setelah sekitar 12-24 bulan. Proses menghilangnya jaringan parut pada paru-paru pasien juga bergantung pada kondisi mereka masing-masing. Maka, rehabilitasi sangat diperlukan agar gejala sisa infeksi COVID-19 hilang sepenuhnya sehingga pasien dapat beraktivitas seperti sediakala.

Menurut dr. Novaria Puspita, Sp.KFR (Spesialis Rehab Medik RS EMC Sentul), rehabilitasi pasca COVID-19 ini dilakukan secara bertahap, terencana, terukur, dan teratur oleh bimbingan dan saran dokter. Sebelum rehabilitasi dilakukan, dokter akan merencanakan program rehabilitasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing pasien. Hal-hal yang menjadi pertimbangan dokter adalah apakah efek dari infeksi COVID-19 yang dialami pasien tergolong ringan, sedang, atau berat. Tahap selanjutnya adalah menilai gejala pasca COVID-19 yang muncul pada pasien sekaligus menilai kebugaran jantung, paru-paru, otot, keseimbangan, gangguan fungsi, serta pernafasan.

Sejauh ini, perbaikan sel dan jaringan pada pasien penderita COVID-19 sudah bisa sembuh seperti sediakala dalam kurun waktu 6 bulan dengan melakukan rehabilitasi pasca COVID-19 yang optimal. Rehabilitasi dapat berupa pelatihan pernafasan, fisik, kebugaran, relaksasi, dan masih banyak lagi. Selain dianjurkan untuk menjalankan rehabilitasi, pasien pasca COVID-19 juga harus berhati-hati agar tidak memforsir tenaga karena khawatir muncul penyakit komplikasi seperti stroke, sakit jantung, ataupun cedera. Namun, gejala-gejala yang masih muncul semasa pasca COVID-19 ini tentu akan berangsur menghilang setelah menjalani proses rehabilitasi sehingga pasien dapat kembali sehat dan produktif melakukan aktivitas sehari-hari. #LiveExcellently

Artikel ditulis oleh dr. Novaria Puspita, Sp.KFR (Spesialis Rehab Medik Rumah Sakit EMC Sentul).