Tahukah Anda bahwa tubuh kita memiliki tulang belakang yang terdiri dari ruas-ruas spesifik? Dengan adanya ruas tersebut, tubuh kita pun jadi mampu bergerak dengan dan lentur dan tidak kaku. Akan tetapi, karena bentuk tulang belakang yang beruas-ruas, tidak jarang beberapa orang terkena kondisi saraf terjepit atau dalam istilah medis disebut Herniated Nucleus Pulposus (HNP).

Kondisi saraf terjepit ini bisa terjadi ketika muncul tonjolan abnormal dari bantalan tulang yang menekan saraf-saraf di tulang belakang. Diskus intervertebral yang ada pada ruas-ruas tulang belakang terdiri dari dinding atau annulus yang sangat kuat, karena berfungsi sebagai penahan beban manusia saat beraktivitas. Namun, dinding tersebut dapat pecah atau robek dalam keadaan tertentu. Sehingga, robekan dinding tersebut akan menjadi jalur keluarnya inti atau nukleus yang dapat menimbulkan tonjolan dan menekan saraf yang berada di belakang dinding serta menimbulkan rasa sakit dan sensasi terbakar yang menjalar dari bokong ke tungkai bawah.

Kondisi saraf terjepit ini biasanya paling sering diderita bagi yang sudah berusia 41-60 tahun. Tetapi, bagi Anda yang masih dalam usia produktif, ternyata bisa juga terkena penyakit saraf terjepit, karena ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Misalnya, akibat dari seringnya melakukan aktivitas ekstrem, seperti sering melakukan olahraga angkat besi dan loncat indah.

Selain itu ada juga beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan terkena kondisi saraf terjepit, seperti karena secara genetik memang memiliki jaringan kolagen yang lemah. Memiliki berat badan berlebih atau obesitas dan pernah mengalami cedera akibat kecelakaan maupun olahraga pun bisa menjadi faktor yang menyebabkan seseorang mengalami saraf terjepit.

Kondisi saraf terjepit sendiri memiliki tiga jenis, antara lain:

  1. Protrusion, yaitu kondisi yang memperlihatkan adanya tonjolan pada tulang belakang, namun belum mengganggu saraf Anda.
  2. Extrusion, yaitu kondisi saat inti diskus yang keluar dari dinding annulus dan menekan saraf Anda.
  3. Sequestration, yaitu kondisi di mana inti diskus keluar dari dinding annulus, lalu terlepas dari ruasnya dan masuk ke rongga tulang belakang, sehingga sangat menekan saraf dan menganggu aktivitas Anda.

Untuk menangani jenis saraf terjepit protrusion, Anda bisa melakukan terapi obat, fisioterapi, dan perubahan aktivitas serta cara duduk. Sedangkan untuk jenis extrusion dan sequestration yang lebih berat, dapat ditangani melalui salah satu teknik minimally invasive surgery, yaitu Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy (PELD).

Teknik bedah minimal invasif ini dilakukan dengan cara memasukkan alat berdiameter enam milimeter melalui kulit yang menuju bantalan yang pecah atau sakit. Lalu, alat tersebut akan dihubungkan dengan kamera agar kondisi bantalan dapat dilihat oleh dokter bedah saraf melalui monitor. Selanjutnya, inti diskus yang keluar akan diambil dan annulus yang pecah akan merapat secara alami. Namun, sebelum operasi tentu telah dilakukan pembiusan lokal di area sekitar kulit tempat alat tersebut dimasukkan.

Teknik bedah minimal invasif ini memanfaatkan teknologi canggih hingga prosesnya menjadi lebih minim risiko dan komplikasi. Selain itu, pemberian bius lokal akan memungkinkan dokter untuk dapat terus berkomunikasi dengan Anda saat pembedahan, sehingga dokter bedah akan meminta Anda untuk menggerakkan kaki untuk memastikan tidak adanya gangguan pada saraf.

Selain itu, bedah minimal invasif juga tidak menimbulkan banyak jaringan yang cedera, sehingga bekas luka jahitan dan nyeri setelah tindakan bedah akan menjadi minim. Dengan begitu, proses pemulihan bedah minimal invasif untuk saraf terjepit jauh lebih cepat dibandingkan dengan bedah terbuka atau konvensional.

Nah, itulah penjelasan mengenai penyebab saraf terjepit dan penanganannya melalui bedah minimal invasif. Bila Anda mengalami kondisi saraf terjepit, jangan tunggu hingga penyakit menjadi kronis, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter. Anda bisa mendapatkan penanganan kondisi saraf terjepit di Rumah Sakit EMC Tangerang dengan teknik PELD bersama dr. Harmantya Mahadhipta, Sp.OT (K)Spine dengan jadwal praktik pada hari Senin dan Rabu pada pukul 15.00 – 17.00 WIB. Jangan lupa untuk menghubungi rumah sakit pada nomor telepon 021-5575-2575 untuk membuat jadwal konsultasi dengan dokter. Yuk, atasi nyeri akibat saraf terjepit agar Anda bisa segera beraktivitas dengan lancar dan #LiveExcellently!

Dapatkan promo paket saraf Terjepit /HNP dengan Teknik PELD di RS EMC seharga Rp50.000.000, sudah termasuk perawatan 2 hari di kelas VIP. Jangan lewatkan promo penanganan saraf terjepit ini karena berlaku sampai 30 Desember 2019. Lihat Info promo selengkapnya di sini. #LiveExcellently