Anda sering merasakan nyeri atau tidak nyaman pada leher? Jangan diabaikan, karena nyeri pada leher bisa saja menjadi indikasi adanya gangguan pada kesehatan Anda. Apalagi, leher adalah salah satu bagian tubuh yang rentan dalam mengalami saraf terjepit. Saraf leher terjepit atau yang dikenal sebagai cervical disc herniation merupakan kondisi saat isi dari bantalan tulang leher yang pecah mengalir keluar sehingga menjepit saraf leher yang mampu memicu sakit yang serius, bahkan kelumpuhan.

Gejala awal terjadinya saraf leher terjepit biasanya berupa pegal dan nyeri pada leher sampai bahu dan lengan. Selain itu, muncul kesemutan yang menjalar hingga ke jari-jari. Namun, jika jepitan saraf leher sudah parah dan mengenai saraf utama, gejala yang muncul ialah kelemahan atau kelumpuhan tangan maupun kaki. Apabila pasien sudah menunjukkan gejala otot lemah atau kelumpuhan pada anggota tubuh, maka perlu diatasi dengan operasi. Namun, masih banyak orang yang menganggap operasi leher itu menakutkan dan memiliki risiko yang tinggi.

Akan tetapi, sebenarnya hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan lagi, karena kini operasi leher tak lagi menakutkan. Seiring berjalannya waktu, alat-alat medis telah berkembang menjadi lebih canggih untuk menyembuhkan pasien dari penyakitnya. Salah satunya seperti teknik bedah minimal invasif atau minimal invasive surgery untuk saraf leher terjepit. Bedah minimal invasif saraf leher merupakan operasi di rumah sakit dengan metode terbaru, yakni percutaneous endoscopic cervical discectomy (PECD) yang memiliki dua teknik, yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang).

Operasi tersebut menggunakan peralatan endoskopi yang hanya memerlukan sayatan sebesar 0,5 cm di bagian leher. Lalu, melalui sayatan tersebut, alat operasi PECD yang terbuat dari serat optik dan terhubung ke layar monitor akan dimasukkan dan diarahkan ke foramen atau daerah yang memiliki banyak saraf di tulang belakang. Foramen merupakan tempat yang kemungkinan banyak terjadi jepitan saraf yang menimbulkan rasa nyeri pada Anda. Selanjutnya, dokter bedah dapat melihat lokasi jepitan saraf leher dengan jelas dan melakukan tindakan untuk membebaskan saraf dari jepitan yang terjadi. Kemudian, dokter akan mengambil bantalan tulang yang pecah dan akan memasang bantalan sintetik atau potongan tulang agar leher tidak kehilangan fungsi gerak dan tetap dapat menjalankan fungsinya seperti semula.

Melalui teknologi bedah minimal invasif untuk jepitan saraf leher, risiko kegagalannya cukup rendah bila dibandingkan dengan operasi konvensional. Pendarahan selama operasi pun umumnya akan lebih sedikit. Selain itu, lama operasi hanya berlangsung sebentar. Kelebihan teknologi bedah minimal invasif ini juga bisa dilihat dari cepatnya masa pemulihan. Dalam beberapa jam setelah menjalankan operasi, pasien dapat segera pulang dari rumah sakit tanpa harus rawat inap seperti yang dilakukan pasca operasi konvensional. Sehingga, Anda dapat melakukan aktivitas seperti biasanya setelah bedah minimal invasif. Tidak hanya itu saja, bekas luka, infeksi dan risiko kambuh setelah operasi pun akan lebih minim.

Akan tetapi, untuk mencegah saraf leher terjepit kambuh kembali, Anda perlu melakukan hal-hal berikut ini:

Perhatikan posisi leher

Saraf leher terjepit biasanya terjadi dikarenakan posisi atau postur leher yang salah. Selain itu, postur atau posisi leher yang salah mampu memperburuk rasa nyeri yang terjadi akibat saraf terjepit. Maka, bagi Anda yang telah melakukan bedah minimal invasif, Anda masih harus tetap menjaga postur tubuh dan posisi leher Anda selama beraktivitas agar tidak kembali mengalami masalah saraf leher terjepit.

Hindari menunduk terlalu lama saat menatap layar smartphone maupun monitor komputer. Selain itu, hindari posisi tidur miring dengan bantal yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Hal tersebut dapat menimbulkan beban pada tulang leher yang membuat bantalan antar tulang leher menjadi lebih cepat rusak. Maka, sebaiknya saat melakukan aktivitas yang banyak menunduk, beri jeda setiap satu menit untuk menegakkan leher atau jangan menunduk terus.

Lakukan peregangan khusus untuk leher

Peregangan khusus leher merupakan suatu cara yang dapat membuat jangkauan gerakan leher Anda lebih meningkat dan otot leher menjadi lebih kuat. Anda dapat melakukan latihan leher dengan menggerakkan kepala ke arah atas dan ke bawah, lalu dilanjutkan dengan memiringkan kepala ke kiri dan ke kanan, agar otot leher lebih renggang. Dengan cara tersebut, maka leher akan menjadi lebih baik, rileks dan tidak kaku lagi.

Hindari aktivitas yang membebankan leher

Aktivitas seperti berkendara motor atau mobil mampu membebankan leher Anda. Hal ini dikarenakan pada saat berkendara, Anda jarang menggerakkan bagian kepala dan leher. Akibatnya, Anda membiarkan posisi leher dan kepala pada posisi yang sama selama beberapa waktu hingga menyebabkan leher mudah tegang, kaku dan memunculkan risiko kambuhnya saraf terjepit. Sebaiknya, sesekali gunakan kendaraan umum atau meminta tolong untuk diantar apabila hendak pergi dalam jarak yang cukup jauh jika memungkinkan.

Nah, itulah penjelasan mengenai operasi saraf leher yang sudah lebih modern dengan minimal invasive surgery serta pencegahan yang bisa dilakukan agar penyakit saraf leher terjepit tidak terulang kembali. Jika Anda atau anggota keluarga hendak melakukan operasi ini dalam waktu dekat, jangan lupa untuk tetap konsultasikan lebih rinci lagi dengan dokter di rumah sakit dan segera ubah gaya hidup Anda agar menjadi lebih sehat. #LiveExcellently