Mengenal Bedah Bariatrik yang Mampu Atasi Kegemukan dan Diabetes

Perlu diketahui bahwa saat ini Indonesia masuk dalam 10 besar penderita obesitas terbanyak. Sekitar 40 juta orang di Indonesia mengalami kegemukan/obesitas. Menurut data IDF, ada 10 juta kasus diabetes pada tahun 2015. pola makan tinggi gula/karbohidrat, kurang gerak serta kegemukan berpengaruh terhadap peningkatan penderita diabetes. Komplikasi diabetes antara lain kebutaan, gagal ginjal, luka kronis bahkan amputasi. Obesitas dan diabetes menyebabkan angka harapan hidup berkurang.

 

Apa itu bedah bariatrik?

Bedah Bariatrik yang melibatkan operasi pengecilan dan bypass lambung belakangan ini semakin digandrungi sebagai salah satu pilihan utama untuk mengobati obesitas dan penyakit diabetes. Di negara barat metode ini sangat digemari karena terbukti efektif menurunkan berat badan secara permanen dan efeknya bertahan jangka panjang. Demikian pula di Singapura dan Taiwan metode ini cukup populer dan ribuan pasien sudah merasakan manfaatnya. Penelitian membuktikan metode operasi terbukti lebih efektif mengontrol diabetes dibandingkan perubahan gaya hidup dan terapi obat-obatan. Dr. Handy Wing, seorang dokter spesialis bedah dari RS EMC menjabarkan bahwa saat ini operasi bariatrik dipandang sebagai terapi yang paling efektif mengatasi obesitas dengan efek bonus tambahan mengontrol penyakit diabetes. Tetapi seperti yang diutarakan dr. Handy bahwa metode ini tidak populer dan belum banyak diketahui oleh para pasien maupun kalangan medis sendiri.

Manfaat bedah bariatrik

Menurut dr. Handy, segera setelah operasi ini, kadar gula darah kebanyakan pasien akan menjadi normal sehingga tidak memerlukan suntikan insulin maupun obat-obatan diabetes lagi. Berkurangnya asupan dan penyerapan makanan, perubahan bentuk lambung/usus dan peningkatan hormon inkretin menyebabkan gula darah menjadi terkontrol pasca operasi. Setelah operasi tubuh pasien berespons positif dan efisien dalam mengatur pola keseimbangan kadar gula darah. Metode operasi ini semakin menjadi pilihan karena dilakukan dengan teknik laparoskopi / minimal invasif yaitu operasi dilakukan melalui lubang sayatan kecil berukuran 1 cm sebanyak 3-4 buah. Keuntungannya rasa nyeri sangat berkurang karena bekas luka sayatan yang sangat kecil. Selain itu secara kosmetik hampir tidak terlihat bekasnya. Kandidat yang paling merasakan manfaat pasca operasi adalah pasien dibawah 60 tahun, belum terlalu lama menderita diabetes dan yang fungsi pankreasnya masih cukup baik. Adapun pasien yang tidak gemuk dan gula darahnya masih stabil dan terkontrol dengan obat-obatan, bukan merupakan kandidat untuk memilih dan menjalani metode operasi ini.

Selain dua efek utama untuk mengatasi obesitas dan diabetes, bedah bariatrik juga dapat mengatasi gangguan kesehatan dan komplikasi lain seperti penyakit jantung, kolesterol, gangguan napas, resiko stroke, asam urat dan masalah nyeri sendi, pinggang dan lutut karena berat badan berlebih. Seorang pasien menderita kisahnya. Novi mengidap diabetes sejak usia 30 tahun dan berbobot hampir 90 kg. Tetapi sejak menjalani bypass lambung, penyakit kencing manisnya terkontrol. Berat badannya pun telah turun menjadi 68 kg dalam jangka waktu 6 bulan dan diharapkan akan mencapai berat badan ideal setelah setahun. Sekarang di usia 45 tahun, dirinya merasa lebih sehat, bertenaga, stamina meningkat dan dapat beraktivitas sehari-hari secara normal tanpa sering merasa kelelahan. Novi juga merasa lega karena tidak perlu lagi menggunakan suntikan insulin yang sudah 5 tahun ia gunakan rutin. Bila dulu Novi merasa sangat sulit mengontrol nafsu makan dan sering ngemil, setelah operasi ia sudah bisa mengatur pola makan lebih baik karena ukuran lambung yang lebih kecil dan sekarang tidak cepat lapar seperti sebelum operasi.

Diharapkan setelah menjalani bedah bariatrik, ​​pasien dapat mengurangi asupan makanan tinggi, menjaga pola hidup yang aktif dan berolahraga misalnya 3-5 seminggu, selama 30 menit -1 jam. Sehingga pasien bisa  kembali ke berat badan yang ideal dalam jangka waktu 6 bulan - 1 tahun. 

Artikel ditulis oleh dr. Handy Wing, Sp.B-KBD, FBMS, FINACS, FICS (Dokter Spesialis Bedah Saluran Pencernaan (Digestive Surgeon) - Minimal Invasive Surgery di RS EMC Alam Sutera).