"Dok, ini anak saya pendek ngga sih, ini yang namanya stunting ya? Saya khawatir dok.."

Maraknya kasus stunting membuat banyak pasien datang ke dokter spesialis anak untuk konsultasi pertumbuhannya. Pertumbuhan seseorang dipengaruhi oleh etnis, genetik, hormonal, kondisi psikososial, nutrisi, penyakit kronis, dan lingkungan. Ada baiknya kita memahami dahulu apa itu stunting dan penyebabnya. Anak dengan perawakan pendek tidak selalu stunting, tapi stunting pasti perawakannya pendek. Lalu apa pengertian dari stunting itu sendiri?

Stunting adalah kondisi perawakan pendek, dimana tinggi badan anak tidak sama dengan rata-rata standar tinggi badan anak sesuai usianya, yang disebabkan oleh gangguan nutrisi secara kronik. Singkat kata, usianya sama tapi tingginya jauh berbeda. Gangguan nutrisi dapat disebabkan oleh pemberian asupan nutrisi yang tidak mencukupi. Beberapa faktor yang mendasari hal tersebut adalah status ekonomi yang kurang, pengetahuan yang kurang, dan/atau adanya kebutuhan yang meningkat, seperti pada kasus infeksi berat, anak lahir prematur, alergi berat, dll.

Kondisi stunting ini erat hubungannya dengan gangguan perkembangan otak bila tidak ditangani dengan cepat. Prioritas perkembangan anak hingga usia 2 tahun atau 1000 hari pertama kehidupan, di latar belakangi oleh pesatnya perkembangan otak dalam kurun waktu tersebut. Sebanyak 45% kematian balita terkait dengan kondisi malnutrisi dan dampaknya dapat berlangsung seumur hidup yang mengakibatkan kualitas hidup menjadi buruk, produktivitas berkurang, intelektual dan sosial terganggu, serta prestasi yang menurun.

Tujuan akhir yang diharapkan adalah bagaimana kita dapat membentuk generasi yang GENIUS seperti paparan pada saat Hari Anak Nasional, yaitu membentuk anak yang Gesit, Empati, Berani, Unggul, dan Sehat. Antisipasi dan upaya pencegahan dini yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Pemeriksaan teratur pada awal masa kehamilan, pemberian nutrisi yang baik & seimbang, menghindari polusi dan asap rokok
  2. Pemberian ASI eksklusif dan imunisasi sesuai jadwal (Rekomendasi IDAI tahun 2017)
  3. Pemberian MPASI yang terdiri atas karbohidrat, protein hewani (ayam, telur, ikan, daging untuk memenuhi kebutuhan asam amino tubuh) dan lemak.
  4. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara teratur sesuai rekomendasi IDAI, yaitu setiap bulan sekali untuk usia <12 bulan, setiap 3 bulan sekali untuk usia 1-3 tahun, setiap 6 bulan sekali untuk usia 3-6 tahun, dan setiap tahun sekali untuk usia 6-18 tahun. Pemantauan menggunakan kurva WHO tahun 2008 dengan menilai status gizi (berat badan menurut tinggi/panjang badan) serta tinggi badan menurut usia.
  5. Pengaturan waktu tidur dan aktivitas fisik yang cukup agar hormon pertumbuhan dapat bekerja dan bertahan secara optimal dalam tubuh.
  6. Periksakan tumbuh kembang anak anda secara rutin pada fasilitas kesehatan terdekat.

Artikel ini ditulis oleh dr. Anisa Setiorini, Sp. A (Dokter Spesialis Anak RS EMC Sentul).

Be Happy, Be Healthy

 #LiveExcellently.