Berganti-Ganti Pasangan Seksual? Ini Risiko Infeksi dan Kanker yang Mengintai

Dalam kehidupan modern, hubungan antarindividu menjadi semakin terbuka dan dinamis. Setiap orang tentu memiliki pilihan hidup masing-masing, termasuk dalam hal hubungan dan aktivitas seksual. Namun, di balik pilihan tersebut, ada aspek kesehatan yang penting untuk dipahami bersama.

Artikel ini tidak bertujuan menghakimi, melainkan mengajak untuk lebih mengenal dampak kesehatan yang bisa muncul ketika seseorang memiliki lebih dari satu pasangan seksual dalam periode tertentu. Dengan memahami risikonya, kita bisa mengambil langkah yang lebih bijak untuk menjaga diri.

Mengapa Hal Ini Perlu Dibahas?

Tubuh manusia memiliki sistem pertahanan alami untuk melindungi diri dari kuman dan infeksi. Namun, aktivitas seksual melibatkan kontak langsung yang memungkinkan pertukaran cairan tubuh. Di sinilah potensi penularan penyakit bisa terjadi.

Semakin sering berganti pasangan, semakin besar kemungkinan seseorang terpapar berbagai jenis infeksi yang mungkin tidak disadari sebelumnya. Yang perlu diingat, banyak infeksi tidak langsung menunjukkan gejala. Artinya, seseorang bisa merasa sehat, padahal tubuh sedang membawa kuman tertentu.

Risiko Infeksi Menular Seksual

Salah satu dampak utama dari berganti-ganti pasangan adalah meningkatnya risiko infeksi menular seksual. Infeksi ini bisa disebabkan oleh virus, bakteri, maupun jamur.

Beberapa infeksi dapat menimbulkan keluhan seperti:

  • Nyeri saat buang air kecil
  • Keluar cairan tidak biasa dari area intim
  • Luka atau benjolan kecil
  • Gatal atau rasa tidak nyaman

Namun, tidak sedikit pula yang tidak menimbulkan keluhan sama sekali. Inilah yang sering membuat banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi.

Jika tidak ditangani, infeksi tersebut bisa bertahan lama di dalam tubuh dan menimbulkan masalah yang lebih serius.

Dampaknya pada Kesehatan Reproduksi

Pada perempuan, beberapa infeksi yang tidak diobati bisa menyebar ke organ reproduksi bagian dalam. Kondisi ini dapat memengaruhi kesuburan di kemudian hari. Selain itu, ada infeksi tertentu yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan sel di leher rahim.

Pada laki-laki, infeksi juga bisa menyebabkan gangguan pada saluran reproduksi dan memengaruhi kualitas sperma jika dibiarkan tanpa penanganan.

Dapat Meningkatkan resiko kanker leher rahim, jika berganti ganti pasangan dapat meningkatkan peluang infeksi HPV yang menjadi penyebab kanker leher rahim. 

Tidak Semua Risiko Terlihat dari Luar

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menilai kesehatan seseorang dari penampilan fisik. Padahal, banyak infeksi tidak dapat dikenali hanya dengan melihat kondisi luar.

Seseorang bisa tampak sehat, aktif, dan bugar, tetapi tetap membawa infeksi tertentu. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi penting, terutama bagi mereka yang memiliki lebih dari satu pasangan.

Peran Sistem Kekebalan Tubuh

Tubuh memang memiliki kemampuan untuk melawan sebagian infeksi. Namun, tidak semua kuman dapat diatasi dengan mudah. Beberapa virus bisa bertahan lama di dalam tubuh dan baru menimbulkan masalah setelah bertahun-tahun.

Gaya hidup yang kurang sehat seperti kurang tidur, stres berlebihan, atau kebiasaan merokok juga dapat melemahkan daya tahan tubuh, sehingga risiko infeksi semakin meningkat.

Faktor Psikologis 

Selain dampak fisik, ada juga aspek emosional dan psikologis yang sering kali luput dari perhatian. Hubungan yang tidak stabil atau berganti-ganti pasangan dalam waktu singkat bisa menimbulkan tekanan batin, rasa cemas, atau ketidakpastian emosional.

Setiap orang tentu memiliki pengalaman berbeda, tetapi kesehatan mental tetap menjadi bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan.

Bagaimana Cara Mengurangi Risiko?

Memahami risiko bukan berarti harus merasa takut. Justru, pengetahuan memberi kita kesempatan untuk lebih menjaga diri.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Menggunakan alat pelindung saat berhubungan intim.
  2. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
  3. Bersikap terbuka dengan pasangan mengenai riwayat kesehatan.
  4. Menjaga pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap optimal.

Langkah-langkah ini bukan untuk membatasi pilihan hidup, melainkan untuk memastikan tubuh tetap terlindungi.

Edukasi adalah Kunci

Masih banyak orang merasa topik ini tabu untuk dibicarakan. Padahal, informasi yang benar dapat mencegah banyak masalah kesehatan. Ketika seseorang memahami bagaimana infeksi menyebar dan bagaimana cara mencegahnya, risiko dapat ditekan secara signifikan.

Membicarakan kesehatan reproduksi secara terbuka justru menunjukkan kepedulian terhadap diri sendiri dan pasangan.

Kesimpulan

Berganti-ganti pasangan seksual memang merupakan pilihan pribadi. Namun, dari sisi kesehatan, ada risiko yang perlu disadari. Semakin banyak pasangan, semakin besar peluang terpapar infeksi yang mungkin tidak terlihat secara langsung.

Kabar baiknya, sebagian besar risiko tersebut dapat dikurangi dengan langkah pencegahan yang tepat dan pemeriksaan rutin. Tubuh adalah aset berharga yang perlu dijaga dengan bijak.

Artikel ditulis oleh dr. Handojo Tjandra, MD., MMed O&G (M'Sia)., Sp.OG (Spesialis Kebidanan Kandungan RS EMC Alam Sutera).