Berkeringat Terus Menerus? Mungkin Anda Menderita Hiperhidrosis

Hiperhidrosis adalah kelainan di mana terjadi aktivitas dari kelenjarkeringat yang berlebihan, melebihi kebutuhan fisiologis untuk mengatur suhu tubuh. Kondisi ini dapat terjadi bahkan ketika tidak sedang berolahraga juga tidak berada dalam cuaca yang panas. Hiperhidrosis dapat terjadi di seluruh tubuh atau di bagian tubuh tertentu saja, seperti di telapak tangan, telapak kaki, ketiak dan wajah. Hiperhidrosis dapat dialami oleh siapa saja, tetapi kondisi ini paling sering terjadi pada kelompok usia anak-anak atau remaja. Meskipun tidak membahayakan, hiperhidrosis dapat menimbulkan masalah psikologis bagi penderitanya, di antaranya malu, stres, depresi, dan gelisah.

Gejala Hiperhidrosis

Hiperhidrosis ditandai dengan keluarnya keringat dengan jumlah yang melebihi batas normal tanpa adanya pemicu. Seseorang dapat diduga menderita hiperhidrosis jika:

  • Bulir keringatnya dapat terlihat jelas saat cuaca tidak panas atau saat sedang santai (tidak banyak beraktivitas)
  • Pakaiannya sering basah karena keringat
  • Mengalami gangguan saat beraktivitas, misalnya sulit membuka pintu atau memegang pena karena telapak tangan basah oleh keringat
  • Kulitnya tampak tipis, pecah-pecah, dan terkelupas, dengan warna yang lebih pucat atau kemerahan
  • Sering mengalami infeksi kulit di bagian tubuh yang mengeluarkan keringat terlalu banyak
  • Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama

Gejala hiperhidrosis dapat berbeda, tergantung pada jenisnya. Berdasarkan jenisnya, hyperhidrosis terdiri atas 2 jenis, yaitu:

  • Hiperhidrosis primer

Terjadi tanpa ada penyebab jelas, biasanya terjadi pada satu atau beberapa area tubuh, terutama di ketiak, tangan, kaki, atau dahi.  Biasanya hiperhidrosis primer terjadi sejak masa kanak-kanak atau remaja.

  • Hiperhidrosis sekunder

Terdapat penyebab yang dapat dikenali dengan jelas, seperti riwayat peminum alcohol, penyakit hipertiroid, kencing manis, dan penyakit keganasan. Biasanya menyebabkan seluruh tubuh mengeluarkan keringat secara berlebihan, bahkan saat sedang tidur. Penderita biasanya baru mengalami hiperhidrosis sekunder setelah usia dewasa.

 

Diagnosis Hiperhidrosis

Untuk menegakkan diagnosis hiperhidrosis, dokter akan melakukan anamnesis atau tanya jawab terkait gejala yang dialami, usia saat muncul gejala pertama, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Lalu, untuk memastikan penyebab hiperhidrosis, dokter juga akan mengajukan beberapa pemeriksaan penunjang, antara lain:

  1. Tes darah dan urine

Tes ini digunakan untuk memastikan ada tidaknya kondisi medis yang bisa menyebabkan hiperhidrosis, seperti penyakit hipertiroid dan kencing manis.

  1. Tes keringat

Tes ini dilakukan untuk mengetahui bagian tubuh mana saja yang mengalami hiperhidrosis dan tingkat keparahannya.

Tatalaksana Hiperhidrosis

Penanganan hiperhidrosis dilakukan berdasarkan penyebabnya. Langkah penanganan yang biasanya dilakukan dokter untuk mengobati hiperhidrosis adalah:

  1. Pemberian obat oles

Obat yang biasa diberikan adalah antiperspirant yang mengandung aluminium klorida. Obat ini dioleskan di kulit pada malam hari dan harus dibersihkan pada pagi harinya.

  1. Obat minum

Obat yang juga dapat digunakan adalah golongan antikolinergik, untuk menghambat kerja saraf yang memicu keringat. Selain itu, obat golongan antidepresan juga dapat diberikan untuk mengurangi produksi keringat dan meredam kegelisahan yang dapat memperparah hiperhidrosis.

  1. Iontophoresis(alat penghambat keringat)

Tindakan ini dapat dilakukan jika hiperhidrosis terjadi di tangan atau kaki. Terapi ini dilakukan dengan merendam tangan atau kaki pasien ke dalam air. Setelah itu, aliran listrik akan disalurkan lewat air untuk menghambat kelenjar keringat.

  1. Suntik botulinum toksin

Suntik botulinum toksin dapat menghambat saraf yang menyebabkan keringat berlebih untuk sementara. Efek suntik dapat bertahan hingga 12 bulan dan harus diulang.

  1. Operasi simpatektomi

Video Assisted Thoracoscopic sympathetic nerve surgery merupakan terapi pilihan untuk hyperhidrosis primer ekstremitas atas dengan angka keberhasilan yang sangat baik. Operasi dilakukan dengan metode minimal invasif, luka operasi kecil sehingga minim nyeri pasca operasi dan bekas luka minimal. Dilakuan dengan membakar atau menjepit saraf yang mengendalikan keluarnya keringat di tangan.

Selain menjalani penanganan medis, pasien dapat melakukan perawatan mandiri untuk mengendalikan keluarnya keringat dan mencegah bau badan, seperti:

  • Mandi setiap hari untuk mencegah bakteri berkembang di kulit
  • Mengeringkan tubuh setelah mandi, terutama bagian ketiak dan sela-sela jari
  • Memakai sepatu berbahan kulit dan kaos kaki berbahan katun yang menyerap keringat
  • Mengganti kaus kaki secara teratur atau ketika sudah mulai terasa lembap
  • Tidak mengenakan alas kaki yang tertutup terlalu sering
  • Memilih bahan pakaian yang adem di kulit untuk beraktivitas sehari-hari dan baju yang mudah menyerap keringat untuk berolahraga
  • Melakukan teknik relaksasi, seperti yoga atau meditasi, untuk mengendalikan stres yang dapat memicu hyperhidrosis

Artikel ditulis oleh dr. David Hutagaol Sp.BTKV (K)-VE (Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular RS EMC Pulomas).