Pernahkah Anda merasa telapak kaki mulai pegal, panas, bahkan nyeri setelah berdiri lama di dalam KRL, MRT, bus, atau saat bekerja seharian? Rasa tidak nyaman ini sering kali membuat seseorang ingin segera duduk begitu mendapat kesempatan.
Meski terdengar sepele, nyeri pada telapak kaki sebenarnya merupakan sinyal bahwa jaringan di kaki sedang bekerja lebih keras dari biasanya. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini bahkan dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Telapak Kaki Menjadi Penopang Seluruh Berat Badan
Telapak kaki memiliki struktur yang kompleks. Di dalamnya terdapat 26 tulang, puluhan sendi, otot, ligamen, tendon, serta jaringan ikat yang bekerja bersama untuk menopang berat badan.
Saat berdiri, seluruh berat tubuh akan didistribusikan ke telapak kaki. Semakin lama seseorang berdiri, semakin lama pula jaringan tersebut menerima tekanan tanpa kesempatan untuk beristirahat.
Jika berdiri di kendaraan umum, beban yang diterima kaki menjadi lebih besar karena tubuh harus terus menyesuaikan keseimbangan akibat kendaraan yang bergerak, mengerem, atau berbelok. Otot-otot kaki akan terus berkontraksi untuk mencegah tubuh kehilangan keseimbangan.
Mengapa Telapak Kaki Bisa Nyeri Setelah Berdiri Lama?
Berikut beberapa alasan mengapa telapak kaki bisa nyeri setelah berdiri lama:
Otot Mengalami Kelelahan
Selama berdiri, otot betis dan otot-otot kecil di telapak kaki bekerja hampir tanpa henti.
Kontraksi otot yang berlangsung terus-menerus membuat aliran darah ke jaringan sedikit berkurang. Akibatnya, suplai oksigen menjadi tidak seoptimal saat bergerak atau berjalan. Kondisi ini menyebabkan penumpukan zat sisa metabolisme yang memicu rasa pegal dan nyeri.
Itulah sebabnya rasa tidak nyaman sering kali mulai muncul setelah berdiri selama 30 hingga 60 menit, terutama jika tidak banyak bergerak.
Tekanan Berulang pada Plantar Fascia
Di bagian bawah telapak kaki terdapat jaringan ikat tebal yang disebut plantar fascia. Jaringan ini berfungsi menopang lengkungan kaki sekaligus menyerap benturan ketika berjalan maupun berdiri.
Saat berdiri dalam waktu lama, plantar fascia menerima tekanan terus-menerus. Bila kondisi ini terjadi berulang setiap hari tanpa disertai waktu pemulihan yang cukup, jaringan tersebut dapat mengalami iritasi.
Pada sebagian orang, kondisi ini dapat berkembang menjadi plantar fasciitis, yaitu peradangan pada plantar fascia yang ditandai dengan nyeri di bagian tumit atau telapak kaki, terutama saat pertama kali menapak setelah bangun tidur atau setelah lama duduk.
Sirkulasi Darah Menjadi Kurang Optimal
Berbeda dengan berjalan, berdiri diam membuat otot kaki tidak banyak bergerak.
Padahal, otot betis berfungsi sebagai "pompa" yang membantu mengembalikan darah dari tungkai menuju jantung. Ketika seseorang berdiri terlalu lama tanpa bergerak, mekanisme ini menjadi kurang efektif sehingga darah dan cairan lebih mudah berkumpul di tungkai bawah.
Akibatnya, kaki terasa berat, pegal, bahkan sedikit bengkak pada sebagian orang.
Sepatu yang Kurang Mendukung
Jenis alas kaki juga berperan besar dalam munculnya nyeri telapak kaki.
Sepatu dengan bantalan yang sudah tipis, ukuran yang tidak sesuai, atau tidak memiliki penyangga lengkungan kaki yang baik membuat tekanan langsung diterima oleh telapak kaki. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat memperberat rasa nyeri, terutama jika aktivitas mengharuskan berdiri selama berjam-jam.
Berat Badan dan Bentuk Kaki Ikut Berpengaruh
Orang dengan berat badan berlebih cenderung memberikan tekanan yang lebih besar pada telapak kaki. Selain itu, bentuk kaki seperti telapak kaki datar (flat feet) atau lengkungan kaki yang terlalu tinggi juga dapat mengubah distribusi beban saat berdiri.
Akibatnya, ada bagian tertentu pada telapak kaki yang menerima tekanan lebih besar dibandingkan bagian lainnya sehingga lebih mudah terasa nyeri.
Kapan Harus Waspada?
Nyeri telapak kaki akibat berdiri lama umumnya akan membaik setelah beristirahat. Namun, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter apabila:
- Nyeri berlangsung lebih dari beberapa hari,
- Nyeri semakin berat meski sudah beristirahat,
- Muncul pembengkakan yang jelas,
- Sulit berjalan atau menapak,
- Muncul mati rasa atau kesemutan,
- Nyeri terjadi setiap hari hingga mengganggu aktivitas.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah terdapat kondisi seperti plantar fasciitis, cedera tendon, gangguan saraf, atau masalah lain pada struktur kaki.
Cara Mengurangi Nyeri Telapak Kaki
Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi keluhan, antara lain:
- Mengubah posisi berdiri atau berjalan ringan setiap beberapa menit.
- Melakukan peregangan otot betis dan telapak kaki sebelum maupun setelah beraktivitas.
- Menggunakan sepatu dengan bantalan dan penyangga lengkungan kaki yang baik.
- Menghindari berdiri terus-menerus tanpa jeda jika memungkinkan.
- Mengompres area yang nyeri dengan kompres dingin selama 15–20 menit setelah aktivitas.
- Menjaga berat badan tetap ideal agar beban pada telapak kaki tidak berlebihan.
Segera Konsultasi ke Dokter Spesialis
Nyeri telapak kaki setelah berdiri lama merupakan keluhan yang cukup sering terjadi, baik saat menggunakan transportasi umum maupun ketika bekerja. Penyebabnya bukan hanya karena rasa lelah, tetapi juga akibat tekanan yang terus-menerus pada otot, ligamen, dan jaringan penyangga telapak kaki.
Jika keluhan hanya sesekali dan membaik setelah beristirahat, kondisi ini umumnya tidak berbahaya. Namun, apabila nyeri terus berulang atau semakin berat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter ortopedi agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sejak dini.
Artikel ditulis oleh dr. Steesy Benedicta, M.Ked.Klin, Sp.OT (Spesialis Ortopedi & Traumatologi RS EMC Pulomas).