Stroke di Usia Produktif: Apa Penyebab dan Cara Mencegahnya?

Selama ini, stroke sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia. Padahal, stroke juga dapat terjadi pada usia muda, termasuk pada orang yang masih berada di usia produktif.

Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, baik karena adanya penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak dan harus mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Mengapa Stroke Bisa Terjadi di Usia Muda?

Saat ini, stroke semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup dan penyakit metabolik.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke antara lain:

    • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
    • Diabetes
    • Kolesterol tinggi
    • Kebiasaan merokok
    • Obesitas atau berat badan berlebih
    • Kurang aktivitas fisik
    • Pola makan yang kurang sehat
    • Konsumsi alkohol berlebihan

Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah dan meningkatkan risiko terjadinya stroke, bahkan pada usia yang masih tergolong muda.

Kenali Gejala Stroke Sejak Awal dengan FAST

Stroke merupakan kondisi darurat medis. Semakin cepat mendapatkan pertolongan, semakin besar peluang untuk mengurangi kerusakan otak dan risiko kecacatan.

Kenali tanda-tanda stroke dengan FAST:

F – Face (Wajah)

Wajah tiba-tiba terlihat mencong atau salah satu sisi wajah terasa sulit digerakkan.

A – Arm (Lengan)

Salah satu lengan tiba-tiba terasa lemah atau kebas, terutama pada satu sisi tubuh.

S – Speech (Bicara)

Bicara tiba-tiba menjadi pelo, sulit berbicara, sulit memahami pembicaraan, atau terdengar tidak jelas.

T – Time (Waktu)

Jika gejala tersebut muncul secara tiba-tiba, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya.

Selain tanda tersebut, stroke juga dapat disertai sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba, gangguan penglihatan, pusing, atau gangguan keseimbangan.

Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Stroke?

Selain mengenali gejala, menerapkan pola hidup sehat juga penting untuk membantu mengendalikan berbagai faktor risiko stroke, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, dan berat badan.

1. Batasi Makanan Tinggi Garam, Gula, dan Lemak

Terlalu banyak mengonsumsi garam dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, sedangkan konsumsi gula dan lemak berlebihan dapat berkontribusi terhadap obesitas, diabetes, dan kadar kolesterol yang tidak sehat.

Batasi konsumsi:

  • Makanan tinggi garam, seperti makanan instan, makanan kalengan, kerupuk, makanan olahan, dan makanan cepat saji.
  • Makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, seperti gorengan berlebihan, daging berlemak, kulit ayam, serta makanan yang menggunakan banyak mentega atau margarin.
  • Minuman dan makanan tinggi gula, seperti minuman bersoda, minuman manis kemasan, serta makanan dengan tambahan gula berlebihan.

Bukan berarti makanan tersebut harus selalu dihindari, tetapi jumlah dan frekuensi konsumsinya perlu dibatasi.

2. Perbanyak Makanan yang Baik untuk Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah

Pilih makanan yang lebih banyak mengandung serat, vitamin, mineral, dan lemak sehat.

Beberapa pilihan yang dapat dikonsumsi antara lain:

  • Sayur-sayuran
  • Buah-buahan
  • Biji-bijian utuh, seperti oatmeal dan nasi merah
  • Kacang-kacangan
  • Ikan
  • Protein rendah lemak, seperti ayam tanpa kulit
  • Lemak sehat dalam jumlah yang cukup, seperti alpukat dan minyak zaitun

Usahakan pola makan tetap beragam dan seimbang, serta sesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.

3. Rutin Berolahraga

Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga berat badan, tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol tetap dalam batas sehat.

Untuk orang dewasa, aktivitas fisik yang dapat dilakukan antara lain aktivitas aerobik intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu, misalnya:

  • Jalan cepat
  • Bersepeda
  • Berenang
  • Senam
  • Jogging dengan intensitas yang sesuai kemampuan

Jika belum terbiasa berolahraga, mulailah secara bertahap. Pilih aktivitas yang nyaman dan dapat dilakukan secara konsisten.

Bagi orang yang memiliki penyakit tertentu atau faktor risiko stroke, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu jenis dan intensitas olahraga yang sesuai dengan kondisi tubuh.

4. Jangan Lupakan Pemeriksaan Kesehatan Rutin

Stroke dapat dipengaruhi oleh kondisi yang terkadang tidak menimbulkan gejala, seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin penting dilakukan untuk mengetahui dan mengendalikan faktor risiko sejak dini.

Jangan Tunggu Sampai Terlambat

Stroke memiliki golden period, yaitu waktu penting sejak gejala pertama muncul ketika penanganan segera dapat memberikan dampak besar terhadap hasil pengobatan.

Karena itu, jangan mengabaikan gejala stroke meskipun terjadi pada orang yang masih muda. Catat waktu saat gejala pertama kali muncul dan segera bawa pasien ke fasilitas kesehatan yang mampu menangani stroke.

Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan, semakin besar peluang untuk menyelamatkan jaringan otak dan mengurangi risiko kecacatan.

Ingat Sobat EMC, stroke bukan hanya penyakit orang tua. Kenali risikonya, kenali gejalanya, terapkan pola hidup sehat, dan jangan menunda pertolongan medis.

BACA JUGA: Stroke Tanpa Gejala? Kenali Bahaya Silent stroke yang Sering Tak Disadari

Artikel ditulis oleh dr. Nezzar Erraldin, Sp.N (Dokter Spesialis Neurologi / Saraf RS EMC Cibitung & Pekayon).