Banyak orang baru menyadari dirinya berisiko tinggi mengalami DVT setelah kondisi ini benar-benar terjadi misalnya setelah operasi besar, dalam perjalanan panjang, atau saat hamil. Padahal, sebagian keluhan seperti kaki bengkak sebelah atau nyeri betis yang tak kunjung membaik sering diabaikan karena dianggap kelelahan biasa. Tanpa mengenali faktor risikonya lebih dulu, seseorang bisa terlambat menyadari bahwa dirinya termasuk kelompok yang perlu lebih waspada.
Pada artikel sebelumnya, kita membahas apa itu DVT dan mengapa kondisi ini perlu diwaspadai. Pertanyaan berikutnya: siapa yang sebenarnya lebih berisiko? Mengacu pada Trias Virchow, faktor risiko DVT dapat dikelompokkan menjadi tiga: yang memperlambat aliran darah, yang melukai pembuluh darah, dan yang membuat darah lebih mudah membeku.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
- Usia lanjut, risiko meningkat seiring perubahan pembuluh darah dan penyakit penyerta.
- Obesitas, menambah tekanan pada pembuluh darah, sering disertai kurang gerak.
- Merokok, memengaruhi sistem pembekuan darah dan kesehatan pembuluh vena.
- Kehamilan dan masa nifas perubahan hormon meningkatkan kecenderungan darah membeku.
- Kanker, beberapa jenis kanker dan pengobatannya meningkatkan risiko pembekuan.
- Riwayat DVT sebelumnya, meningkatkan kemungkinan kambuh.
- Pasca operasi besar terutama panggul, lutut, atau tungkai.
- Cedera berat yang merusak dinding pembuluh darah.
- Tirah baring lama akibat rawat inap atau sakit berkepanjangan.
- Perjalanan jauh (pesawat/mobil) tanpa gerak dalam waktu lama.
- Gagal jantung, sirkulasi darah yang tidak optimal meningkatkan risiko stasis vena.
- Varises, pembuluh vena yang melebar cenderung memperlambat aliran darah.
- Olahraga sangat berat/atlet, dehidrasi, cedera saat latihan, dan gerakan repetitif tertentu (baseball, gulat, berenang) dapat memicu DVT, termasuk effort thrombosis di lengan.
Satu Hal yang Sering Terlewat
Tidak semua penderita DVT merasakan gejala khas, sebagian bahkan tanpa keluhan sama sekali. Karena itu, mengenali faktor risiko menjadi acuan penting, bukan hanya menunggu gejala muncul.
Pencegahan pada Kelompok Berisiko
- Tetap aktif bergerak, hindari duduk/berbaring terlalu lama
- Gerakkan kaki secara berkala saat perjalanan jauh
- Berhenti merokok dan kelola berat badan
- Gunakan stocking kompresi bila dianjurkan dokter
- Kontrol penyakit penyerta (jantung, kanker, dll) sesuai anjuran medis
Jika DVT terjadi, penanganan yang cepat dan tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi serius seperti emboli paru. Punya satu atau lebih faktor risiko di atas? Jangan abaikan bengkak atau nyeri kaki yang tidak biasa. Segera konsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam atau vaskular untuk mendapatkan informasi yang akurat dan rekomendasi yang sesuai dengan kondisi / keluhan yang dialami.
Artikel ditulis oleh dr. Londung Brisman Sitorus, Sp.B(K)V (Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular RS EMC Tangerang & Alam Sutera).