Rupiah Melemah, Berita Buruk Muncul Terus? Saatnya Digital Detox untuk Menjaga Kesehatan Mental

Belakangan ini, masyarakat dihadapkan pada berbagai kabar kondisi negara yang memicu kekhawatiran. Mulai dari nilai tukar rupiah yang terus melemah, kenaikan harga kebutuhan pokok, kondisi ekonomi yang tidak menentu, hingga berita kriminal, konflik sosial, dan berbagai informasi negatif yang terus muncul di media sosial maupun portal berita.

Tanpa disadari, paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat memengaruhi kondisi mental seseorang. Banyak orang menjadi lebih mudah cemas, sulit tenang, overthinking, bahkan merasa lelah secara emosional meskipun tidak mengalami masalah tersebut secara langsung.

Di era digital saat ini, informasi memang bisa diakses dengan cepat. Namun, terlalu banyak mengonsumsi berita buruk juga dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental jika tidak dibatasi dengan baik.

Fenomena “Doomscrolling” yang Semakin Sering Terjadi

Pernah merasa hanya ingin melihat berita sebentar, tetapi akhirnya terus membaca kabar negatif selama berjam-jam?

Kondisi ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita negatif di media sosial atau internet. Banyak orang melakukannya tanpa sadar, terutama saat merasa cemas terhadap kondisi ekonomi, pekerjaan, atau masa depan.

Algoritma media sosial juga membuat pengguna lebih sering melihat konten yang memancing emosi, seperti rasa takut, marah, atau khawatir. Akibatnya, seseorang bisa terus terjebak dalam siklus informasi negatif setiap hari.

Situasi ekonomi seperti melemahnya rupiah atau meningkatnya biaya hidup sering kali membuat masyarakat semakin aktif mencari berita terbaru. Namun jika dilakukan tanpa batas, hal ini justru dapat memperburuk kondisi psikologis.

Dampak Terlalu Banyak Mengonsumsi Berita Negatif

Paparan berita buruk secara terus-menerus dapat memengaruhi tubuh dan pikiran. Beberapa dampak yang sering muncul antara lain:

  • Mudah Cemas dan Overthinking
    Terlalu sering membaca berita negatif dapat membuat seseorang merasa masa depan terasa tidak aman dan penuh kekhawatiran.

  • Sulit Fokus
    Pikiran menjadi mudah terdistraksi karena terus memikirkan informasi yang dilihat di media sosial atau berita online.

  • Emosi Menjadi Tidak Stabil
    Seseorang bisa menjadi lebih mudah marah, sensitif, atau merasa frustrasi berlebihan.

  • Gangguan Tidur
    Kebiasaan bermain media sosial sebelum tidur dan membaca berita negatif dapat membuat otak tetap aktif sehingga sulit beristirahat.

  • Kelelahan Mental
    Meski tidak melakukan aktivitas fisik berat, otak yang terus menerima informasi negatif dapat mengalami kelelahan emosional. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko stres berkepanjangan, gangguan kecemasan, hingga burnout.

Mengapa Digital Detox Menjadi Penting?

Digital detox adalah upaya mengurangi paparan gadget, media sosial, dan informasi digital untuk sementara waktu agar tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk beristirahat.

Digital detox bukan berarti harus berhenti total menggunakan internet atau media sosial. Tujuannya adalah membantu seseorang menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital.

Di tengah situasi yang penuh informasi negatif seperti sekarang, digital detox dapat membantu menjaga kesehatan mental agar tidak terus-menerus terbebani oleh berita yang memicu kecemasan.

Tanda Anda Mungkin Membutuhkan Digital Detox

Beberapa tanda berikut bisa menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran mulai lelah akibat paparan digital berlebihan:

  • Merasa cemas setelah membuka media sosial 
  • Sulit berhenti membaca berita negatif 
  • Terus memeriksa ponsel tanpa alasan penting 
  • Mudah lelah secara emosional 
  • Sulit tidur karena scrolling terlalu lama 
  • Konsentrasi menurun saat bekerja atau belajar 
  • Merasa suasana hati memburuk setelah melihat media sosial 

Jika kondisi ini sering dirasakan, mungkin sudah waktunya memberi jeda pada diri sendiri.

Cara Sederhana Melakukan Digital Detox

Digital detox dapat dimulai dari langkah kecil yang realistis dan mudah dilakukan sehari-hari.

  • Batasi Waktu Mengakses Berita
    Tentukan waktu tertentu untuk membaca berita, misalnya hanya pagi dan sore hari. Hindari terus memantau informasi setiap saat.

  • Kurangi Screen Time Sebelum Tidur
    Berikan jeda minimal 1 jam tanpa gadget sebelum tidur agar otak lebih rileks.

  • Selektif Memilih Informasi
    Tidak semua informasi harus diikuti. Pilih sumber berita terpercaya dan hindari akun yang terlalu sering menyebarkan konten negatif atau provokatif.

  • Luangkan Waktu untuk Aktivitas Offline
    Cobalah melakukan aktivitas tanpa gadget seperti olahraga, membaca buku, berkebun, memasak, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

  • Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan
    Tidak semua kondisi dapat kita ubah secara langsung. Fokus pada kesehatan diri, pekerjaan, keluarga, dan aktivitas positif yang bisa dilakukan saat ini.

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kondisi yang Tidak Menentu

Kondisi ekonomi dan sosial memang dapat memengaruhi perasaan seseorang. Namun menjaga kesehatan mental tetap penting agar kita mampu menghadapi tekanan hidup dengan lebih sehat dan tenang.

Mengurangi paparan informasi negatif bukan berarti tidak peduli terhadap keadaan sekitar, melainkan memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat agar tidak terus-menerus berada dalam kondisi cemas.

Jika mulai merasa stres berlebihan, sulit mengendalikan kecemasan, atau kondisi emosional mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

Kapan Perlu Konsultasi ke Psikolog?

Segera lakukan konsultasi apabila:

  • Rasa cemas muncul hampir setiap hari 
  • Sulit tidur atau sulit berkonsentrasi 
  • Emosi terasa tidak stabil 
  • Merasa lelah mental berkepanjangan 
  • Aktivitas sehari-hari mulai terganggu 
  • Merasa tidak mampu mengendalikan pikiran negatif sendiri 

Konsultasi tidak harus menunggu gejala menjadi berat atau mengganggu fungsi sehari-hari, tetapi juga dapat dilakukan untuk memperoleh pencegahan sejak dini. Konsultasi dengan psikolog dapat membantu memahami kondisi emosional yang dialami serta menemukan strategi penanganan yang tepat.

Artikel ditulis oleh Ayu Hidayati, M.Psi., Psikolog (Psikolog RS EMC Cibitung).