Psoriasis pada anak adalah penyakit kulit yang tergolong kronis dan menyebabkan kulit kemerahan, bersisik, terasa gatal, hingga pecah-pecah. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai eksim, alergi, atau iritasi kulit biasa sehingga banyak orang tua tidak menyadari bahwa anak membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Padahal, psoriasis pada anak bukan sekadar masalah kulit biasa. Meskipun psoriasis tidak menular, kondisi ini dapat memengaruhi kenyamanan, kualitas tidur, aktivitas sehari-hari, bahkan rasa percaya diri anak apabila tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali gejala, faktor pemicu, serta cara penanganannya sejak dini.
Mengenal Psoriasis pada Anak sebagai Penyakit Kulit Kronis
Psoriasis pada anak adalah penyakit peradangan kronis pada kulit yang terjadi akibat gangguan sistem imun. Pada kondisi ini, proses regenerasi sel kulit lebih cepat dibandingkan kondisi normal. Akibatnya, sel kulit menumpuk di permukaan dan membentuk bercak kemerahan yang tebal, kering, serta bersisik.
Secara normal, pergantian sel kulit membutuhkan waktu sekitar 1 bulan. Namun pada psoriasis, proses tersebut dapat terjadi 3 hingga 4 hari sekali. Penumpukan sel kulit inilah yang menyebabkan kulit tampak menebal dan bersisik.
Orang tua juga perlu memahami bahwa psoriasis bukan penyakit menular. Anak tidak akan menularkan penyakit ini melalui sentuhan, bermain bersama, maupun penggunaan barang yang sama. Psoriasis dapat muncul sejak usia anak-anak dan memiliki periode kambuh yang berbeda pada setiap anak.
Kenali Gejala Psoriasis pada Anak yang Sering Disangka Masalah Kulit Biasa
Gejala psoriasis pada anak sering kali menyerupai gangguan kulit lain sehingga terlambat dikenali. Beberapa gejala psoriasis yang perlu diperhatikan antara lain:
- Muncul bercak kemerahan pada kulit dengan sisik putih atau keperakan yang tampak tebal dan kering.
- Kulit gatal, perih, atau terbakar ketika kambuh.
- Kulit pecah-pecah hingga berdarah di kondisi lebih berat.
- Ruam paling sering muncul di siku, lutut, kulit kepala, wajah, dan lipatan kulit.
- Kulit kepala tampak bersisik menyerupai ketombe tetapi sulit hilang.
- Kuku tampak berlubang kecil, menebal, berubah warna, atau mudah rapuh.
- Anak menjadi rewel, sulit tidur, atau tidak nyaman saat beraktivitas akibat rasa gatal.
- Gejala dapat muncul hilang-timbul dan kambuh pada waktu tertentu.
Pada beberapa kasus, psoriasis pada anak juga dapat memengaruhi kondisi emosional anak karena rasa tidak nyaman maupun perubahan tampilan kulit yang terlihat jelas.
Faktor-Faktor yang Memicu Psoriasis pada Anak
Saat ini, penyebab pasti psoriasis belum diketahui. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat memicu maupun memperburuk psoriasis pada anak, seperti:
- Riwayat keluarga dengan psoriasis atau penyakit autoimun meningkatkan risiko pada anak.
- Infeksi bakteri seperti radang tenggorokan akibat streptokokus dapat memicu psoriasis tipe gutata.
- Luka gores, garukan, gigitan serangga, atau iritasi kulit dapat memunculkan lesi psoriasis baru.
- Stres emosional dan tekanan psikologis dapat memperburuk peradangan pada kulit.
- Cuaca dingin dan udara kering membuat kulit lebih mudah mengalami kekambuhan.
- Kulit sangat kering karena penggunaan sabun keras atau mandi terlalu lama serta dapat memperparah psoriasis.
- Kurang tidur dan kondisi tubuh yang lelah dapat memengaruhi sistem imun dan memicu kambuh.
- Obesitas pada anak dapat meningkatkan peradangan dan membuat psoriasis lebih sulit dikontrol.
- Penggunaan obat tertentu pada kondisi tertentu dapat memicu atau memperburuk psoriasis.
- Kebiasaan menggaruk area yang gatal dapat menyebabkan iritasi dan memperluas area psoriasis.
Memahami faktor pemicu penting dilakukan agar orang tua dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan pada anak.
Penanganan Psoriasis pada Anak Bertujuan Mengontrol Gejala dan Mencegah Kekambuhan
Psoriasis pada anak umumnya tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi gejalanya dapat dikontrol dengan penanganan yang tepat. Dokter akan menentukan terapi berdasarkan tingkat keparahan, usia anak, serta area kulit yang terkena psoriasis.
Beberapa penanganan yang dilakukan meliputi:
1. Penggunaan Pelembap Secara Rutin
Pelembap dengan bahan Emolien membantu menjaga kelembapan kulit, mengurangi rasa gatal, dan mencegah kulit menjadi semakin kering serta pecah-pecah.
2. Obat Oles
Dokter akan memberikan obat oles tertentu untuk membantu mengurangi peradangan, sisik, dan rasa gatal pada kulit. Beberapa obat yang digunakan antara lain kortikosteroid topikal, dithranol, asam salisilat, atau obat lain yang disesuaikan dengan usia dan tingkat keparahan psoriasis pada anak.
3. Pola Makan dan Gaya Hidup Sehat
Pola makan bergizi seimbang, tidur yang cukup, serta aktivitas fisik teratur dapat membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Anak juga dianjurkan mengonsumsi makanan kaya vitamin, mineral, dan omega-3 untuk mendukung kesehatan kulit.
4. Pemberian Vitamin
Pada beberapa kondisi, dokter mungkin merekomendasikan vitamin tertentu, seperti Vitamin D, Vitamin C, Vitamin E, serta Zinc, untuk membantu mendukung kesehatan kulit dan sistem imun.
5. Terapi Sinar Ultraviolet atau Fototerapi
Fototerapi dapat direkomendasikan pada psoriasis sedang hingga berat yang tidak membaik. Terapi ini menggunakan sinar ultraviolet (UV) untuk membantu mengurangi peradangan dan memperlambat pertumbuhan sel kulit yang berlebihan.
Selain itu, orang tua juga perlu membantu anak menghindari stres, cedera kulit, maupun iritasi yang dapat memperburuk gejala. Pemeriksaan dan kontrol rutin ke dokter penting dilakukan agar kondisi kulit anak dapat terus dipantau dan terapi dapat disesuaikan bila diperlukan.
BACA JUGA: Kulit Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Eksim, Bukan Alergi
Kapan Harus Periksa ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin?
Orang tua sebaiknya segera membawa anak ke dokter apabila ruam kulit tidak membaik, semakin luas, atau sering kambuh dalam waktu lama. Pemeriksaan juga diperlukan bila anak mengalami rasa gatal berat, sulit tidur, atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu.
Penanganan sejak dini dapat membantu mengontrol gejala psoriasis sekaligus mencegah gangguan kualitas hidup anak. Segera konsultasi dengan dokter spesialis kulit dan kelamin untuk memastikan diagnosis serta menentukan pengobatan yang paling sesuai dengan kondisi anak.
Artikel ditulis oleh dr. Elin Herlina, Sp.DVE (Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi RS EMC Cibitung).