Psikiater RS EMC Alam Sutera Bawa Pengalaman Pendidikan Psikosomatik Indonesia ke World Congress of Psychiatry 2026 di Stockholm

Stockholm, Swedia — 24 September 2026 — Pengembangan layanan kesehatan jiwa tidak hanya berlangsung melalui praktik klinis, tetapi juga melalui pendidikan dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang dibawa dr. Andri, Sp.KJ, FAPM, dari Klinik Psikosomatik RS EMC Alam Sutera, dalam World Congress of Psychiatry (WCP) 2026 di Stockholm, Swedia.

Dalam forum internasional yang mempertemukan komunitas psikiatri dari berbagai negara tersebut, dr. Andri mempresentasikan pengalaman sembilan tahun membangun dan mengembangkan National Psychosomatic Training Initiative di Indonesia.

Presentasi yang disampaikan pada 24 September 2026 tersebut mengangkat tema:

“Guided by Compassion, Grounded in Science: Nine Years of a National Psychosomatic Training Initiative in Indonesia.”

Tema tersebut sejalan dengan semangat WCP 2026 yang menekankan pentingnya praktik psikiatri yang tetap berlandaskan bukti ilmiah sekaligus berorientasi pada manusia.

Berawal dari Surakarta, berkembang menjadi perjalanan nasional

Program pendidikan psikosomatik yang dipresentasikan di Stockholm tersebut berawal pada 2017 dari workshop yang diselenggarakan secara rutin di Surakarta, Jawa Tengah.

Selama sembilan tahun, kegiatan tersebut berkembang menjadi sepuluh workshop dan melibatkan lebih dari 350 tenaga kesehatan dari berbagai latar belakang profesi. Peserta terdiri dari psikiater, residen psikiatri, dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, dan psikolog.

Pelatihan dirancang tidak hanya untuk memberikan pemahaman teoritis mengenai gangguan psikosomatik, tetapi juga untuk membantu tenaga kesehatan menerapkan pendekatan tersebut dalam praktik sehari-hari.

Materi mencakup biopsychosocial model, functional and somatic disorders, health anxiety, komunikasi terapeutik, psikoterapi seperti CBT, ACT dan mindfulness, farmakoterapi rasional, stepped care, hingga pendekatan yang sensitif terhadap konteks budaya.

“Tujuannya bukan hanya membuat dokter mengetahui apa itu psikosomatik, tetapi bagaimana memahami pasien, berkomunikasi dengan pasien, dan memberikan tata laksana yang tepat,” menjadi salah satu prinsip yang mendasari program tersebut.

Dari pengetahuan menuju perubahan praktik

Salah satu aspek penting yang dipresentasikan adalah evaluasi terhadap hasil pendidikan.

Data dari rangkaian pelatihan menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan dan kepercayaan diri peserta dari 5,0 sebelum pelatihan menjadi 7,3 setelah pelatihan.

Tingkat kepuasan peserta mencapai 8,5 dari skala 10.

Yang lebih penting, 88% peserta menyatakan akan mengubah praktik klinis mereka setelah mengikuti pelatihan.

Bagi pengembangan pendidikan kedokteran, perubahan tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan suatu program. Pendidikan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi diharapkan dapat diterjemahkan menjadi perubahan dalam cara tenaga kesehatan melakukan asesmen, berkomunikasi, dan menangani pasien.

Menghubungkan kesehatan jiwa dengan layanan medis secara lebih utuh

Dalam praktik klinis, pasien dengan keluhan psikosomatik sering kali berada di antara dua dunia: kedokteran fisik dan kesehatan jiwa.

Keluhan fisik yang dialami pasien dapat sangat nyata, meskipun pemeriksaan medis tidak selalu menemukan kelainan yang dapat menjelaskan seluruh gejala.

Situasi tersebut membutuhkan pendekatan yang tidak mempertentangkan aspek fisik dan psikologis.

Melalui pendidikan psikosomatik, tenaga kesehatan diperkenalkan kembali pada pendekatan biopsikososial, yaitu memahami pasien melalui interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Pendekatan ini juga sejalan dengan pelayanan yang dikembangkan di Klinik Psikosomatik RS EMC Alam Sutera, yang menempatkan pemahaman menyeluruh terhadap pasien sebagai bagian penting dalam pelayanan kesehatan jiwa dan psikosomatik.

Pentingnya konteks budaya Indonesia

Pengalaman selama sembilan tahun tersebut juga memperlihatkan pentingnya memahami konteks budaya dalam pelayanan psikosomatik.

Cara seseorang mengekspresikan tekanan psikologis, memahami penyakit, dan mencari pertolongan dapat berbeda antarbudaya. Dalam konteks Indonesia dan Asia, manifestasi penderitaan psikologis melalui keluhan fisik juga menjadi bagian yang perlu dipahami oleh tenaga kesehatan.

Karena itu, pendidikan psikosomatik yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada pedoman ilmiah internasional, tetapi juga berupaya menghubungkan ilmu tersebut dengan realitas pasien dan praktik klinis di Indonesia.

Inilah yang menjadi salah satu nilai penting dari pengalaman yang dibawa ke forum internasional: bagaimana prinsip psikosomatik yang bersifat universal dapat diterapkan secara sensitif terhadap konteks lokal.

Dari RS EMC Alam Sutera ke forum psikiatri dunia

Keikutsertaan dr. Andri dalam WCP 2026 menjadi bagian dari perjalanan akademik dan profesionalnya dalam mengembangkan bidang psikosomatik, baik melalui pelayanan klinis maupun pendidikan.

Bagi RS EMC Alam Sutera, kontribusi tersebut juga merepresentasikan peran tenaga medis Indonesia dalam membawa pengalaman praktik dan pengembangan keilmuan dari tingkat lokal ke forum internasional.

WCP 2026 menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, bertukar pengetahuan, sekaligus melihat bagaimana berbagai negara menghadapi tantangan kesehatan jiwa di era modern.

Dari sebuah workshop yang dimulai di Surakarta pada 2017, pengalaman tersebut kini dibawa ke Stockholm dan dibagikan kepada komunitas psikiatri internasional.

Pesannya sederhana tetapi fundamental: penderitaan pasien tetap nyata, bahkan ketika hasil pemeriksaan medis tidak selalu menunjukkan kelainan.

Karena itu, pelayanan psikosomatik membutuhkan keseimbangan antara science untuk memahami penyakit dan compassion untuk memahami manusia yang mengalaminya.

Perjalanan pendidikan psikosomatik selama sembilan tahun ini menjadi salah satu contoh bagaimana ilmu, pengalaman klinis, dan pendidikan dapat berjalan bersama untuk mendekatkan pelayanan kesehatan jiwa kepada kebutuhan pasien.