Orang Tua Perlu Tahu, Epilepsi pada Bayi Bisa Muncul dalam Gerakan yang Tampak Sepele

Banyak orang tua mengira epilepsi pada bayi selalu ditandai dengan kejang hebat, tubuh kaku, atau gerakan yang tidak terkendali. Pada sebagian kasus, gejalanya justru tampak seperti perilaku normal bayi sehari-hari.

Beberapa tanda bahkan sering dianggap sekadar refleks biasa, kaget saat tidur, atau kebiasaan bayi yang tidak berbahaya. Akibatnya, gejala epilepsi pada bayi tidak disadari oleh orang tua, sehingga kejang muncul lebih sering atau mulai memengaruhi tumbuh kembang anak.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami tanda-tanda epilepsi pada bayi sejak dini agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko gangguan perkembangan bisa diminimalkan.

Gejala Ringan Epilepsi pada Bayi yang Sering Disalahartikan sebagai Refleks Normal

Gejala epilepsi pada bayi tidak selalu berupa kejang. Pada beberapa jenis epilepsi, tanda yang muncul justru terlihat ringan dan berlangsung singkat. Namun, gerakan tersebut dapat terjadi berulang kali dalam sehari.

Berikut beberapa gejala yang perlu diwaspadai:

  • Bayi tampak menatap kosong selama beberapa detik dan tidak merespons saat dipanggil.
  • Tangan, kaki, atau wajah bayi berkedut berulang, terutama saat tidur atau baru bangun.
  • Bayi melakukan gerakan mengecap bibir, mengunyah, atau mengisap meski tidak sedang menyusu.
  • Kepala bayi tiba-tiba menunduk atau tubuh tampak tersentak singkat secara berulang.
  • Bayi mendadak berhenti menyusu atau berhenti bergerak beberapa detik lalu kembali normal.
  • Mata bayi tampak melirik ke satu sisi secara berulang tanpa sebab yang jelas.

Meskipun gejala epilepsi pada bayi terlihat ringan, gejala tersebut tidak boleh diabaikan, terutama jika muncul dengan pola yang sama dan terjadi berkali-kali.

Jenis Epilepsi pada Bayi yang Menimbulkan Gejala Sulit Disadari

Terdapat beberapa jenis epilepsi pada bayi yang dapat menimbulkan gejala yang tidak terlihat sehingga sering terlambat dikenali.

1. Infantile Spasms

Infantile spasms merupakan salah satu jenis epilepsi yang cukup serius pada bayi dan tergolong langka. Kondisi ini biasanya muncul sebagai gerakan tersentak singkat yang terjadi berulang dalam satu rangkaian. Gerakan sering muncul saat bayi baru bangun tidur atau menjelang tidur. 

2. Focal Seizure

Focal seizure terjadi ketika aktivitas listrik abnormal hanya berasal dari satu area otak. Gejalanya bisa berupa gerakan kecil pada satu bagian tubuh, seperti tangan berkedut, mata melirik ke satu sisi, atau gerakan mulut berulang. 

3. Absence Seizure

Absence seizure dapat menyebabkan bayi tiba-tiba diam atau menatap kosong selama beberapa detik. Setelah selesai, bayi biasanya kembali beraktivitas normal sehingga kondisi ini sering tidak dikenali sebagai kejang.

4. Generalized Seizure

Generalized seizure melibatkan aktivitas listrik di seluruh otak. Jenis ini biasanya lebih mudah dikenali karena dapat menyebabkan tubuh kaku, kejang menyeluruh, hingga kehilangan kesadaran.

Penyebab Epilepsi pada Bayi yang Perlu Dipahami Orang Tua

Epilepsi pada bayi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang terjadi sejak dalam kandungan maupun setelah lahir.

Beberapa penyebab yang perlu diketahui antara lain:

  • Faktor genetik dapat meningkatkan risiko bayi mengalami gangguan aktivitas listrik otak yang memicu epilepsi.
  • Cedera otak saat persalinan, kekurangan oksigen ketika lahir, atau kelahiran prematur dapat memengaruhi fungsi saraf bayi.
  • Infeksi otak seperti meningitis dan ensefalitis juga dapat menjadi penyebab epilepsi pada bayi.
  • Kelainan perkembangan otak bawaan atau gangguan metabolik tertentu dapat menyebabkan kejang berulang sejak usia dini.

Namun, pada sebagian kasus, penyebab epilepsi pada bayi tidak selalu dapat diketahui secara pasti meski pemeriksaan medis sudah dilakukan.

BACA JUGA: Imunisasi Lengkap, Investasi Kesehatan Anak di Masa Depan

Dampak Epilepsi pada Bayi terhadap Tumbuh Kembang Jika Tidak Ditangani Sejak Dini

Kejang berulang dapat memengaruhi perkembangan otak bayi yang berada dalam masa pertumbuhan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini berisiko menyebabkan gangguan tumbuh kembang.

Beberapa dampak yang dapat terjadi adalah:

  • Perkembangan motorik lambat seperti tengkurap, duduk, merangkak, atau berjalan.
  • Gangguan interaksi sosial dan respons terhadap lingkungan sekitar.
  • Hambatan perkembangan bicara dan kemampuan belajar saat anak bertambah usia.
  • Gangguan konsentrasi dan fungsi kognitif.

Semakin sering kejang terjadi tanpa penanganan, risiko gangguan perkembangan dapat meningkat. Sebaliknya, diagnosis, pengobatan, dan terapi sejak dini dapat membantu mengontrol kejang sekaligus mendukung tumbuh kembang anak agar lebih optimal.

Pemeriksaan dan Penanganan Epilepsi pada Bayi untuk Mengontrol Kejang

Untuk menegakkan diagnosis epilepsi pada bayi, dokter akan mengevaluasi pola gerakan, frekuensi kejang, serta gejala lain yang dialami anak.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:

  • EEG (Electroencephalogram) untuk melihat aktivitas listrik otak.
  • MRI atau CT scan Kepala untuk mengevaluasi kondisi struktur otak.
  • Pemeriksaan darah atau fisik bila diperlukan.

Pengobatan epilepsi umumnya menggunakan obat antikejang yang disesuaikan dengan jenis epilepsi dan kondisi bayi. Orang tua juga perlu memberikan obat secara rutin dan melakukan kontrol berkala untuk membantu memantau perkembangan serta efektivitas pengobatan.

Kapan Orang Tua Perlu Segera Membawa Bayi ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter apabila:

  • Bayi mengalami gerakan berulang dengan pola yang sama.
  • Gerakan muncul berkali-kali dalam sehari.
  • Bayi tampak menatap kosong dan sulit diajak respons.
  • Orang tua merasa ada perilaku atau gerakan bayi yang tidak biasa meski terlihat gejala ringan.

Jangan ragu untuk memeriksakan bayi ke dokter jika ada kecurigaan terhadap epilepsi pada bayi. Penanganan lebih cepat dapat membantu mencegah komplikasi dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Artikel ditulis oleh dr. Ackni Hartati, Sp.A, M.Kes (Dokter Spesialis Anak RS EMC Pekayon).