Banyak orang menganggap obesitas hanya berkaitan dengan penampilan atau bentuk tubuh. Padahal, obesitas kini diakui sebagai penyakit kronis tersendiri yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius dan memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Berat badan berlebih bukan berarti seseorang pasti mengalami obesitas. Namun, jika penumpukan lemak dalam tubuh sudah berlebihan, kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.
Apa Itu Obesitas?
Obesitas adalah kondisi ketika jumlah lemak tubuh berlebihan sehingga dapat mengganggu kesehatan. Kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, seperti pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, stres, faktor genetik, hingga kondisi medis tertentu.
Karena penyebabnya beragam, penanganan obesitas juga tidak bisa disamakan pada setiap orang.
Kabar Terbaru: Obesitas Kini Dipandang Sebagai Penyakit, Bukan Sekadar Faktor Risiko
Pada awal 2025, sebuah komisi ahli internasional (Lancet Diabetes & Endocrinology Commission) memperbarui cara memandang obesitas. Dulu, obesitas hanya dianggap sebagai “faktor risiko” penyakit lain. Kini, jika kelebihan lemak tubuh sudah benar-benar mengganggu fungsi organ atau kemampuan beraktivitas sehari-hari, kondisi ini disebut “obesitas klinis” dan dipandang sebagai penyakit tersendiri yang perlu ditangani, sama seperti penyakit kronis lainnya.
Sementara itu, seseorang dengan lemak tubuh berlebih namun organnya belum terganggu disebut berada pada tahap “obesitas praklinis” — tetap perlu diwaspadai dan dipantau, karena risikonya bisa berkembang jika tidak dikelola.
Pembaruan ini juga sejalan dengan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI pada Mei 2025, yang kini menjadi acuan resmi dokter di Indonesia dalam mendiagnosis dan menangani obesitas.
Mengapa Obesitas Perlu Diwaspadai?
Lemak berlebih dalam tubuh tidak hanya tersimpan di bawah kulit, tetapi juga dapat menumpuk di sekitar organ-organ penting. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Beberapa penyakit yang lebih sering terjadi pada penderita obesitas antara lain:
- Diabetes melitus tipe 2.
- Tekanan darah tinggi (hipertensi).
- Kolesterol tinggi.
- Penyakit jantung dan stroke.
- Perlemakan hati (fatty liver).
- Sleep apnea atau gangguan napas saat tidur.
- Osteoartritis akibat beban berlebih pada sendi, terutama lutut dan pinggul.
- Risiko sejumlah jenis kanker, seperti kanker usus besar dan payudara, yang menurut penelitian juga meningkat pada obesitas.
Semakin lama obesitas tidak ditangani, semakin besar pula risiko munculnya komplikasi kesehatan.
Kenali Tanda-Tanda Obesitas
Selain melihat angka pada timbangan, tenaga medis kini menilai obesitas dengan dua ukuran utama yang sederhana dan bisa dicek sendiri di rumah:
- Indeks Massa Tubuh (IMT) 25 kg/m² atau lebih — menurut standar Asia Pasifik yang berlaku di Indonesia, ambang batas ini lebih rendah dibanding standar dunia (30 kg/m²), karena orang Asia lebih berisiko mengalami gangguan metabolik pada IMT yang lebih rendah.
- Lingkar perut lebih dari 90 cm pada laki-laki atau lebih dari 80 cm pada perempuan — menandakan lemak sudah banyak menumpuk di area perut (obesitas sentral), yang risikonya terhadap jantung dan diabetes lebih tinggi dibanding lemak di area lain.
Tanda-tanda lain yang juga perlu diperhatikan:
- Mudah lelah saat beraktivitas.
- Cepat sesak ketika berjalan atau naik tangga.
- Mendengkur saat tidur.
- Sulit melakukan aktivitas fisik yang sebelumnya terasa ringan.
Satu hal yang belum banyak diketahui: seseorang dengan berat badan berlebih juga bisa mengalami kehilangan massa otot secara diam-diam, terutama jika kurang bergerak. Kondisi ini disebut obesitas sarkopenik dan sama berisikonya, karena tubuh menjadi lemah sekaligus menyimpan lemak berlebih. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada usia lanjut, namun bisa dialami siapa saja yang jarang beraktivitas fisik.
Pemeriksaan oleh tenaga medis tetap diperlukan untuk memastikan apakah kondisi Anda sudah termasuk obesitas serta mengetahui risiko penyakit yang mungkin menyertainya.
Apakah Obesitas Bisa Diatasi?
Kabar baiknya, obesitas dapat dikelola dengan penanganan yang tepat.
Langkah pertama biasanya dimulai dengan perubahan gaya hidup, seperti:
- Mengatur pola makan yang seimbang sesuai kebutuhan tubuh.
- Meningkatkan aktivitas fisik secara rutin.
- Tidur yang cukup dan berkualitas.
- Mengelola stres dengan baik.
Target penurunan berat badan yang realistis dan didukung bukti ilmiah adalah 5–10% dari berat badan awal dalam 6 bulan pertama, dengan kecepatan aman sekitar 0,5–1 kg per minggu. Penurunan sebesar itu saja sudah cukup bermakna untuk memperbaiki tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan terapi tambahan. Pilihan pengobatan medis untuk obesitas kini semakin beragam, mulai dari obat minum, obat suntik penurun berat badan generasi terbaru yang bekerja menekan nafsu makan, hingga prosedur seperti pemasangan balon lambung atau operasi bariatrik untuk kasus tertentu dengan IMT tinggi. Semua pilihan ini diberikan sesuai indikasi medis dan harus dalam pengawasan dokter.
Jangan Asal Menjalani Diet
Banyak orang memilih menjalani diet ketat demi menurunkan berat badan dengan cepat. Sayangnya, cara ini sering kali tidak bertahan lama dan justru dapat menyebabkan berat badan kembali naik.
Program penurunan berat badan yang baik adalah program yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebiasaan sehari-hari, serta target yang realistis. Tujuannya bukan hanya menurunkan angka di timbangan, tetapi juga memperbaiki kesehatan secara menyeluruh dan mempertahankan hasilnya dalam jangka panjang.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik?
Anda sebaiknya berkonsultasi apabila:
- IMT sudah mencapai 25 kg/m² atau lebih, atau 23 kg/m² ke atas disertai penyakit seperti darah tinggi, diabetes, atau kolesterol tinggi.
- Lingkar perut sudah melebihi 90 cm (laki-laki) atau 80 cm (perempuan).
- Berat badan terus meningkat meski sudah mencoba mengatur pola makan.
- Sulit menurunkan berat badan meskipun sudah diet dan berolahraga.
- Memiliki riwayat diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, atau penyakit jantung.
- Ingin menurunkan berat badan dengan cara yang aman dan sesuai kondisi kesehatan.
Dokter spesialis gizi klinik akan membantu mengevaluasi kondisi tubuh secara menyeluruh, menghitung kebutuhan gizi, serta menyusun program penurunan berat badan yang aman, efektif, dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius jika tidak ditangani. Pedoman terbaru bahkan kini mengakui obesitas sebagai penyakit tersendiri yang membutuhkan penanganan jangka panjang dan berkesinambungan, bukan sekadar program diet sesaat. Semakin dini obesitas dikenali dan ditangani, semakin besar pula peluang untuk mencegah komplikasi di kemudian hari.
Jika Anda merasa berat badan mulai sulit dikendalikan atau memiliki lingkar perut yang terus bertambah, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik. Dengan pendampingan yang tepat, penurunan berat badan dapat dilakukan secara bertahap, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Artikel ditulis oleh dr. Yuliyana Kusaeri, M.Gizi, Sp.GK (Dokter Spesialis Gizi Klinik RS EMC Cibitung & Pekayon).
Disusun dengan mengacu pada Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa, Kementerian Kesehatan RI (2025) dan Lancet Diabetes & Endocrinology Commission on Clinical Obesity (2025).