Mengenali HIV pada Anak Sejak Dini, dari Faktor Risiko hingga Pemeriksaan

HIV pada anak tidak selalu mudah dikenali karena infeksi dapat berlangsung tanpa gejala yang khas, terutama pada tahap awal. Beberapa kondisi seperti infeksi yang berulang atau berat, demam berkepanjangan, diare kronis, maupun gangguan pertumbuhan dapat menjadi alasan bagi dokter untuk melakukan evaluasi lebih lanjut, tetapi kondisi tersebut tidak secara otomatis berarti anak terinfeksi HIV.

Oleh karena itu, orang tua perlu memahami risiko HIV pada anak, bagaimana HIV dapat menular, kondisi yang perlu diperiksakan, serta jenis pemeriksaan yang digunakan sesuai usia anak.. 

Mengapa HIV pada Anak Sering Terlambat Diketahui?

HIV dapat berkembang tanpa gejala khas sehingga kondisi yang terlihat pada anak saja tidak cukup untuk menentukan apakah anak terinfeksi. WHO menjelaskan bahwa tanda dan gejala HIV dapat bervariasi berdasarkan tahap infeksi, sementara diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan yang sesuai.

Risiko penularan pada anak juga berbeda berdasarkan usia. Pada bayi, sebagian besar risiko berkaitan dengan penularan HIV dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Sementara itu, pada anak yang lebih besar dan remaja, paparan darah yang terkontaminasi atau aktivitas seksual berisiko dapat menjadi jalur penularan.

Dengan mengenali faktor risiko, orang tua dan tenaga kesehatan dapat menentukan apakah pemeriksaan HIV diperlukan, bahkan ketika anak belum menunjukkan keluhan yang khas.

Dari Mana Risiko HIV pada Anak Bisa Berasal?

Ada beberapa jalur penularan HIV yang perlu dipahami orang tua. Mengenali jalur tersebut membantu membedakan situasi yang memang berisiko dari aktivitas sehari-hari yang tidak menyebabkan penularan.

1. Penularan dari Ibu ke Anak

Pada bayi, salah satu risiko utama adalah penularan HIV dari ibu ke anak atau transmisi vertikal. HIV dapat ditularkan selama kehamilan, proses persalinan, maupun melalui menyusui. Oleh karena itu, bayi yang lahir dari ibu dengan HIV memerlukan pemeriksaan dan pemantauan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Pencegahan penularan ibu ke anak dilakukan melalui rangkaian intervensi, termasuk pemeriksaan HIV pada ibu selama kehamilan, pemberian terapi antiretroviral (ARV) pada ibu yang membutuhkan, serta penatalaksanaan bayi yang terpajan HIV sesuai pedoman. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya penguatan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak melalui skrining, testing, dan tata laksana yang tepat.

2. Paparan Darah yang Mengandung HIV

HIV dapat menular melalui paparan terhadap darah yang terinfeksi, termasuk penggunaan jarum atau alat suntik yang terkontaminasi. Penggunaan alat medis atau benda tajam yang tidak steril juga dapat menjadi jalur paparan.

Pada anak atau remaja, riwayat paparan semacam ini perlu disampaikan kepada dokter agar dapat dinilai apakah pemeriksaan HIV diperlukan.

3. Hubungan Seksual Berisiko pada Remaja

Pada kelompok remaja, hubungan seksual tanpa perlindungan yang tepat dapat menjadi salah satu jalur penularan HIV. WHO juga menjelaskan bahwa hubungan seksual tanpa kondom sebagai salah satu cara utama HIV ditularkan.

Pembahasan mengenai hal ini sebaiknya dilakukan secara terbuka, sesuai usia, dan tanpa menghakimi agar remaja merasa aman untuk menyampaikan kemungkinan paparan kepada tenaga kesehatan.

4. Aktivitas Sehari-hari Tidak Menularkan HIV

HIV tidak menular melalui aktivitas sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, bermain bersama, atau makan bersama. HIV ditularkan melalui paparan terhadap cairan tubuh tertentu, bukan melalui interaksi sosial biasa.

Pemahaman ini penting untuk mencegah stigma terhadap anak yang hidup dengan HIV. Anak dengan HIV tetap dapat bersekolah, bermain, dan berinteraksi dengan orang lain tanpa menularkan HIV melalui kontak sosial sehari-hari.

BACA JUGA: Ciri-Ciri HIV yang Sering Tak Disadari, dan Mengapa Tes Sejak Dini Penting

Apa Saja Kondisi yang Membuat Anak Perlu Diperiksa?

Tidak semua anak dengan HIV akan menunjukkan gejala yang sama. Namun, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan HIV apabila terdapat riwayat paparan atau kondisi kesehatan tertentu yang menimbulkan kecurigaan terhadap infeksi.

Beberapa kondisi yang dapat menjadi alasan untuk melakukan evaluasi lebih lanjut antara lain:

  • Anak lahir dari ibu dengan HIV.
  • Anak memiliki riwayat paparan terhadap HIV.
  • Mengalami infeksi yang berulang atau berat.
  • Demam berkepanjangan atau berulang tanpa penyebab yang jelas.
  • Mengalami diare kronis atau berkepanjangan.
  • Sulit mengalami kenaikan berat badan atau mengalami gangguan pertumbuhan.
  • Terdapat kondisi kesehatan lain yang membuat dokter mencurigai gangguan sistem kekebalan tubuh.

Orang tua tidak dapat mendiagnosis HIV hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan HIV diperlukan untuk mengetahui status infeksi secara pasti. 

Tes HIV pada Anak Perlu Disesuaikan dengan Usianya

Jenis pemeriksaan HIV pada anak tidak selalu sama dengan pemeriksaan pada orang dewasa. Usia anak dan riwayat pajanan, terutama dari ibu, akan memengaruhi metode pemeriksaan yang digunakan.

Berikut penjelasanya:

  • Bayi dan anak <18 bulan:="" b=""> pemeriksaan virologis, seperti nucleic acid testing (NAT), digunakan untuk mendeteksi virus secara langsung. Pemeriksaan antibodi saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis karena antibodi dari ibu dapat masih berada dalam tubuh bayi.
  • Bayi dari ibu dengan HIV: pemeriksaan dilakukan secara terjadwal sesuai rekomendasi dokter, sehingga deteksi tidak perlu menunggu munculnya gejala.
  • Anak ≥18 bulan: pemeriksaan serologis atau tes yang mendeteksi antibodi/antigen dapat digunakan sesuai kondisi dan algoritme pemeriksaan yang berlaku. Hasil reaktif tetap memerlukan interpretasi dan pemeriksaan konfirmasi sesuai prosedur medis.

Jadwal dan jenis pemeriksaan dapat berbeda berdasarkan kondisi bayi, sehingga orang tua sebaiknya mengikuti jadwal yang diberikan dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan.

Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua Jika Anak Berisiko HIV?

Jika anak memiliki kemungkinan terpapar HIV, orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak telah terinfeksi. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua meliputi:

  • Jangan menentukan status HIV hanya berdasarkan gejala karena keluhan seperti demam, diare, atau infeksi berulang dapat disebabkan oleh banyak kondisi lain.
  • Sampaikan kepada dokter secara terbuka jika anak memiliki riwayat lahir dari ibu dengan HIV atau kemungkinan paparan HIV agar dokter dapat menentukan pemeriksaan yang diperlukan.
  • Ikuti jadwal pemeriksaan dan kontrol yang diberikan karena pada kondisi tertentu pemeriksaan perlu dilakukan pada waktu tertentu atau diulang.
  • Orang tua juga perlu memberikan dukungan dan menjaga privasi anak untuk mencegah stigma dan diskriminasi.

Deteksi dan pengobatan yang lebih awal memberikan peluang bagi anak dengan HIV untuk mendapatkan perawatan yang sesuai.

Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?

Segera konsultasikan anak jika terdapat riwayat paparan HIV, anak lahir dari ibu dengan HIV, atau dokter sebelumnya merekomendasikan pemeriksaan HIV. Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan jika anak mengalami infeksi berulang, gangguan pertumbuhan, diare berkepanjangan, demam yang tidak kunjung membaik, atau kondisi lain yang menimbulkan kecurigaan medis.

Jangan menunggu gejala menjadi berat untuk berkonsultasi ke dokter, terutama jika terdapat riwayat paparan HIV. Dokter akan menentukan jenis dan waktu pemeriksaan berdasarkan usia anak, riwayat paparan, kondisi kesehatan, hasil pemeriksaan sebelumnya, serta pedoman diagnosis yang berlaku.

Artikel ditulis oleh dr. Ajeng Indriastari, Sp.A (Dokter Spesialis Anak RS EMC Pekayon).