Melahirkan merupakan momen yang dinantikan sekaligus mendebarkan. Proses persalinan juga membawa risiko medis yang perlu diwaspadai, salah satunya adalah perdarahan postpartum atau dikenal dengan masa nifas. Perdarahan postpartum dapat menjadi kondisi yang serius karena berisiko bagi keselamatan Ibu. Mengetahui gejala, cara pencegahan, dan kapan harus segera ke dokter menjadi langkah penting bagi setiap ibu, yang sedang menjalani masa kehamilan.
Perdarahan postpartum atau postpartum hemorrhage (PPH) adalah kondisi kehilangan darah berlebih setelah persalinan, baik melalui persalinan normal maupun operasi caesar. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, kondisi ini terjadi ketika Anda kehilangan darah sebanyak 1.000 ml atau lebih setelah melahirkan. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, perdarahan menyumbang sekitar 19,3% dari seluruh kematian ibu di Indonesia, salah satu penyebab utama Angka Kematian Ibu (AKI) di Tanah Air.
Gejala Postpartum
Perlu diketahui gejala Postpartum untuk menyelamatkan nyawa ibu dan buah hati. Beberapa kondisi yang perlu Anda waspadai setelah melahirkan antara lain:
- Perdarahan dari vagina yang tidak berkurang atau berhenti, bahkan cenderung melebihi satu pembalut per jam.
- Tekanan darah menurun drastis (hipotensi)
- Detak jantung meningkat (takikardia)
- Tubuh terasa lemas, pusing, hingga penurunan kesadaran
- Keringat dingin dan pembengkakan pada beberapa bagian tubuh
- Nyeri perut pasca melahirkan tidak kunjung membaik
Apabila Anda mengalami satu atau lebih gejala tersebut, terutama dalam 24 jam pasca persalinan, kondisi ini harus dianggap sebagai keadaan gawat darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.
Mengapa Perdarahan Bisa Terjadi?
Ada beberapa penyebab utama perdarahan postpartum, antara lain:
1. Rahim tidak berkontraksi dengan baik
Setelah bayi dan plasenta lahir, rahim seharusnya berkontraksi untuk membantu menghentikan perdarahan dari tempat melekatnya plasenta. Jika rahim tidak berkontraksi dengan optimal, perdarahan dapat terjadi. Kondisi ini disebut atonia uteri dan merupakan salah satu penyebab tersering PPH.
2. Sisa jaringan plasenta
Sebagian jaringan plasenta yang masih tertinggal di dalam rahim dapat menghambat proses kontraksi rahim sehingga menyebabkan perdarahan.
3. Robekan pada jalan lahir
Robekan pada vagina, leher rahim, atau jaringan di sekitar jalan lahir dapat menyebabkan perdarahan setelah persalinan.
4. Gangguan pembekuan darah
Pada sebagian ibu, gangguan pembekuan darah dapat menyebabkan tubuh sulit menghentikan perdarahan secara normal.
5. Kondisi terkait plasenta
Beberapa kondisi pada plasenta, seperti plasenta previa atau plasenta akreta, dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan saat atau setelah persalinan.
Siapa yang Berisiko Mengalami Perdarahan Postpartum?
Perdarahan postpartum dapat terjadi pada siapa saja, termasuk ibu yang sebelumnya tidak memiliki masalah selama kehamilan. Namun, beberapa kondisi dapat meningkatkan risikonya, seperti:
- Kehamilan kembar
- Bayi berukuran besar
- Persalinan yang berlangsung lama
- Riwayat perdarahan postpartum sebelumnya
- Kelainan atau masalah pada plasenta
- Rahim yang terlalu teregang
- Gangguan pembekuan darah
- Persalinan dengan tindakan tertentu
Pencegahan Postpartum
Meski perdarahan postpartum dapat terjadi pada siapa saja, sejumlah langkah pencegahan dapat menurunkan risikonya secara signifikan, di antaranya:
- Melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara rutin agar dokter dapat mendeteksi faktor risiko sejak dini.
- Menjaga asupan nutrisi dan zat besi selama kehamilan untuk mencegah anemia yang dapat memperberat dampak perdarahan.
- Memilih persalinan yang didampingi tenaga medis profesional di fasilitas kesehatan yang memadai.
- Memantau kondisi rahim dan tanda-tanda perdarahan secara ketat pada 24 jam pertama pascapersalinan.
Perdarahan postpartum merupakan kondisi yang penting untuk dipahami oleh ibu dan keluarga sebagai bagian dari persiapan menghadapi masa setelah persalinan. Dengan memiliki informasi yang tepat, ibu dapat lebih memahami perubahan yang terjadi pada tubuh, mengenali tanda-tanda yang perlu diperhatikan, serta mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pengetahuan yang baik dapat membantu ibu menjalani masa setelah persalinan dengan lebih tenang, siap, dan percaya diri.
Segera menghubungi dokter Obstetri dan Ginekologi (OBGYN) apabila mengalami perdarahan hebat yang tidak berhenti, disertai lemas berlebihan, pusing, keringat dingin, atau penurunan kesadaran, baik saat masih di rumah sakit maupun setelah Anda pulang ke rumah. Jangan menunggu gejala memburuk, penanganan yang cepat adalah kunci utama untuk mencegah komplikasi yang mengancam nyawa.
Kesehatan Anda dan buah hati adalah prioritas utama dalam setiap tahap kehamilan hingga persalinan. Periksakan kehamilan Anda secara rutin bersama tim dokter Obgyn berpengalaman di Rumah Sakit EMC Cikarang untuk mendeteksi risiko sejak dini dan menjalani proses persalinan dengan lebih aman dan nyaman.
Artikel ditulis oleh dr. Djoni Nurung, Sp.OG, Subsp. Urogin-RE (Dokter Spesialis Kebidanan Kandungan Subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi RS EMC Cikarang).