Ketika seseorang didiagnosis menderita kanker, banyak yang mengira bahwa kemoterapi adalah satu-satunya pilihan pengobatan. Padahal, seiring berkembangnya ilmu kedokteran, kini tersedia berbagai metode terapi yang dapat disesuaikan dengan jenis, stadium, dan karakteristik kanker. Salah satunya adalah imunoterapi, yaitu terapi yang memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker.
Imunoterapi bukanlah pengganti kemoterapi untuk semua pasien. Pada kondisi tertentu, terapi ini dapat diberikan sebagai pengobatan utama, dikombinasikan dengan kemoterapi, radioterapi, operasi, maupun terapi target. Pemilihannya bergantung pada hasil pemeriksaan dan penilaian dokter spesialis onkologi medik.
Bagaimana Proses Pengobatan dengan Imunoterapi?
Sebelum menjalani imunoterapi, pasien akan melalui beberapa tahapan agar dokter dapat menentukan apakah terapi ini merupakan pilihan yang tepat.
1. Konsultasi dan Penegakan Diagnosis
Dokter akan melakukan wawancara mengenai keluhan, riwayat kesehatan, serta meninjau hasil pemeriksaan seperti biopsi, CT scan, MRI, PET scan, patologi, imunohistokimia atau pemeriksaan penunjang lainnya untuk memastikan jenis dan stadium kanker.
2. Evaluasi Kelayakan Imunoterapi
Tidak semua jenis kanker memberikan respons yang sama terhadap imunoterapi. Oleh karena itu, dokter akan menilai berbagai faktor, seperti jenis kanker, stadium penyakit, kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan, serta pada beberapa kasus melakukan pemeriksaan biomarker tertentu untuk mengetahui kemungkinan manfaat imunoterapi.
3. Perencanaan Terapi
Apabila pasien memenuhi kriteria, dokter akan menentukan jenis imunoterapi, jadwal pemberian, serta apakah terapi akan diberikan sendiri atau dikombinasikan dengan pengobatan lain.
4. Pemberian Imunoterapi
Sebagian besar imunoterapi diberikan melalui infus di rumah sakit. Lama pemberian setiap sesi dapat berbeda-beda, dan terapi biasanya dilakukan secara berkala sesuai dengan protokol pengobatan.
5. Pemantauan Respons dan Efek Samping
Selama menjalani terapi, pasien akan dipantau secara rutin melalui pemeriksaan fisik, tes laboratorium, maupun pemeriksaan pencitraan. Tujuannya adalah untuk menilai respons kanker terhadap pengobatan sekaligus mendeteksi kemungkinan efek samping sejak dini agar dapat segera ditangani.
Siapa Saja yang Dapat Menjalani Imunoterapi?
Terapi ini umumnya dipertimbangkan pada beberapa jenis kanker yang telah terbukti memberikan respons yang baik terhadap imunoterapi, antara lain:
- Kanker paru-paru.
- Kanker hati.
- Kanker saluran empedu.
- Kanker ginjal.
- Kanker kandung kemih.
- Kanker kepala dan leher.
- Kanker serviks tertentu.
- Kanker lambung dan kanker esofagus.
- Kanker payudara tipe tertentu.
- Kanker usus besar dengan karakteristik genetik tertentu.
- Beberapa jenis limfoma.
- Melanoma (kanker kulit).
- Berbagai jenis kanker lainnya.
Perlu diketahui bahwa meskipun memiliki jenis kanker yang sama, belum tentu terapinya sama. Keputusan terapi akan ditentukan berdasarkan evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis onkologi medik.
Mengapa Imunoterapi Menjadi Pilihan Pengobatan?
Berbeda dengan kemoterapi yang bekerja menyerang sel kanker secara langsung, imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan sel kanker yang sebelumnya dapat menghindari pengawasan sistem imun.
Pada jenis kanker yang sesuai, terapi ini dapat menjadi pilihan pengobatan modern yang memberikan manfaat dalam melawan penyakit. Namun, seperti terapi lainnya, imunoterapi juga memiliki indikasi, manfaat, dan risiko yang perlu dipertimbangkan secara individual.
Konsultasikan Imunoterapi Sesuai untuk Kondisi Anda
Setiap pasien kanker memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pengobatan harus disesuaikan dengan jenis kanker, stadium penyakit, dan kondisi kesehatan secara menyeluruh. Jika Anda atau anggota keluarga ingin mengetahui apakah imunoterapi dapat menjadi pilihan pengobatan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi medik. Melalui evaluasi yang tepat, dokter akan membantu menentukan terapi yang paling sesuai agar penanganan kanker dapat berlangsung secara optimal.
Artikel ditulis oleh dr. Ryan Ardian Saputra, Sp.PD, Subsp. H.Onk.M (K) (Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Hemato Onkologi Medik RS EMC Alam Sutera & Tangerang).