Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2026 menemukan sekitar 663 ribu anak usia sekolah mengalami tekanan darah tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa hipertensi pada anak bukan lagi kondisi yang jarang terjadi dan perlu mendapat perhatian lebih dari orang tua maupun tenaga kesehatan.
Banyak orang menganggap tekanan darah tinggi atau hipertensi hanya dialami oleh orang dewasa. Kenyataannya, darah tinggi pada anak juga semakin sering ditemukan, termasuk pada anak usia sekolah dan remaja. Bahkan, kondisi ini sering muncul tanpa gejala yang jelas sehingga kerap terlambat disadari.
Jika tidak dikenali sejak dini, hipertensi atau darah tinggi pada anak dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kesehatan di kemudian hari, mulai dari gangguan jantung, kerusakan ginjal, hingga penyakit kardiovaskular saat dewasa. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami penyebab, gejala, hingga cara mencegah kondisi ini sejak awal.
Memahami Hipertensi atau Darah Tinggi pada Anak
Hipertensi atau darah tinggi pada anak adalah kondisi ketika tekanan darah anak berada di atas batas normal sesuai usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. Berbeda dengan orang dewasa yang memiliki angka baku tekanan darah, penilaian tekanan darah pada anak dilakukan menggunakan grafik persentil khusus.
Dalam beberapa tahun terakhir, kasus hipertensi anak mengalami peningkatan. Hal ini membuat pemeriksaan tekanan darah mulai dianjurkan sebagai bagian dari evaluasi kesehatan rutin, terutama pada anak usia sekolah.
Berbagai hasil skrining kesehatan menunjukkan bahwa darah tinggi pada anak kini semakin sering ditemukan. Kondisi ini dapat terjadi pada anak dengan berat badan berlebih, Terlalu sering konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis serta kurangnya aktivitas fisik dimana anak cenderung terlalu banyak duduk manis dan bermain gadget. Hipertensi juga bisa muncul pada anak dengan gangguan kesehatan tertentu seperti penyakit ginjal, kelainan jantung atau kelainan hormonal.
Mengapa Darah Tinggi pada Anak Sering Terlambat Diketahui?
Salah satu alasan hipertensi pada anak sering terlambat diketahui adalah karena sebagian besar kasus tidak menimbulkan gejala khas. Banyak anak terlihat tetap aktif dan sehat meski tekanan darahnya sudah tinggi.
Beberapa keluhan yang sebenarnya dapat menjadi tanda hipertensi sering dianggap sebagai masalah ringan, seperti:
- Sakit kepala berulang
- Mudah lelah
- Sulit fokus
- Mimisan berulang
- Pusing
Pada kondisi yang lebih berat, anak dapat mengalami:
- Penglihatan kabur
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Jantung berdebar
Karena gejalanya tidak spesifik, banyak orang tua tidak menyadari pentingnya pemeriksaan tekanan darah pada anak. Pemeriksaan ini penting dilakukan terutama bila anak memiliki faktor risiko tertentu.
BACA JUGA: Wajib Tahu! Hati-Hati Hipertensi Tak Bergejala dan Cara Mengatasinya
Mengapa Anak Kini Lebih Rentan Mengalami Darah Tinggi?
1. Obesitas pada Anak
Obesitas menjadi salah satu faktor risiko utama hipertensi pada anak. Berat badan berlebih dapat membuat jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan tekanan pada pembuluh darah. Saat ini, peningkatan kasus obesitas anak juga berkaitan dengan pola hidup yang kurang aktif dan pola makan tinggi kalori.
2. Konsumsi Makanan Tinggi Garam dan Ultra-Proses
Makanan cepat saji, makanan instan, camilan kemasan, serta minuman tinggi gula kini lebih mudah dikonsumsi anak setiap hari. Kandungan garam dan gula yang tinggi dapat memengaruhi tekanan darah sejak usia dini. Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-proses dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya.
3. Kurangnya Aktivitas Fisik
Anak yang terlalu lama duduk, bermain gadget, atau memiliki screen time berlebihan cenderung kurang bergerak. Padahal, aktivitas fisik penting untuk menjaga kesehatan jantung dan membantu mengontrol tekanan darah. Kurangnya aktivitas fisik juga berkontribusi terhadap peningkatan berat badan pada anak.
4. Pola Tidur yang Buruk
Kurang tidur dan kebiasaan begadang, terutama di kalangan remaja, bisa berdampak pada kesehatan jantung dan tekanan darah. Tidur yang tidak cukup juga dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh.
5. Faktor Keturunan
Riwayat hipertensi dalam keluarga membuat anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Oleh karena itu, anak dengan orang tua yang memiliki hipertensi sebaiknya lebih rutin menjalani pemeriksaan kesehatan.
6. Penyakit Tertentu
Pada beberapa kasus, hipertensi pada anak dapat dipicu oleh kondisi medis tertentu, seperti:
- Gangguan ginjal
- Kelainan jantung bawaan
- Gangguan hormon
- Efek samping obat tertentu
Bagaimana Dokter Memastikan Diagnosis Darah Tinggi pada Anak?
Diagnosis hipertensi pada anak tidak dapat dilakukan hanya dengan satu kali pemeriksaan. Dokter biasanya akan melakukan beberapa evaluasi, antara lain:
- Pengukuran tekanan darah beberapa kali pada waktu berbeda
- Penilaian tekanan darah sesuai usia, jenis kelamin, dan tinggi badan anak
- Pemeriksaan darah dan urine bila diperlukan
- Evaluasi fungsi ginjal dan jantung
- Pemeriksaan lanjutan seperti USG ginjal atau ekokardiografi pada kondisi tertentu
Pemeriksaan menyeluruh penting dilakukan untuk mengetahui penyebab hipertensi sekaligus menilai apakah sudah terjadi komplikasi pada organ tubuh tertentu.
Cara Mengontrol dan Mencegah Hipertensi atau Darah Tinggi pada Anak
1. Mengurangi Konsumsi Garam dan Makanan Ultra-Proses
Pola makan sehat menjadi langkah penting dalam mencegah hipertensi pada anak. Orang tua dianjurkan membatasi konsumsi makanan anak, yaitu:
- Makanan tinggi garam
- Makanan instan
- Fast food
- Minuman tinggi gula
Sebagai gantinya, perbanyak konsumsi buah, sayur, protein sehat, dan makanan rumahan yang lebih terkontrol kandungannya.
2. Mendorong Anak Lebih Aktif Bergerak
Anak-anak disarankan untuk bergerak aktif setidaknya 60 menit setiap hari. Aktivitas fisik bisa membantu menjaga berat badan, meningkatkan kesehatan jantung, dan membantu menstabilkan tekanan darah.
Aktivitas dapat berupa:
- Bermain di luar rumah
- Bersepeda
- Berenang
- Olahraga bersama keluarga
3. Mengatur Pola Tidur dan Screen Time
Tidur yang cukup penting untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk menjaga tekanan darah tetap stabil. Selain itu, pembatasan screen time juga membantu anak lebih aktif bergerak.
4. Membiasakan Pola Hidup Sehat dalam Keluarga
Anak lebih mudah menerapkan kebiasaan sehat bila seluruh anggota keluarga ikut menjalankannya. Orang tua dapat menjadi contoh dalam memilih makanan sehat dan rutin beraktivitas fisik.
5. Pengobatan Bila Diperlukan
Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan obat antihipertensi bila perubahan gaya hidup belum cukup mengontrol tekanan darah anak. Penggunaan obat harus sesuai anjuran dokter dan disertai pemantauan rutin.
6. Pemeriksaan Kesehatan Rutin
Pemeriksaan kesehatan secara berkala membantu mendeteksi hipertensi lebih awal sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih serius.
Kapan Orang Tua Perlu Membawa Anak ke Dokter?
Orang tua sebaiknya segera membawa anak ke dokter bila mengalami:
- Sakit kepala berulang
- Mudah lelah tanpa penyebab jelas
- Mimisan berulang
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Gangguan penglihatan
Pemeriksaan lebih dini dapat membantu mencegah komplikasi dan memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal.
Artikel ditulis oleh dr. Ocean Stefanny Yandra W, Sp.A (Dokter Spesialis Anak RS EMC Alam Sutera).