Mengapa Anak Lebih Rentan Terkena "Flek Paru" (TBC)? Kenali Penyebab dan Gejalanya

Anak batuk yang tak kunjung sembuh, berat badan sulit naik, dan nafsu makan menurun sering kali dianggap hanya karena flu berkepanjangan atau sedang susah makan. Namun, bagaimana jika ternyata di rumah ada anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan tuberkulosis (TBC)? Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena anak merupakan kelompok yang lebih rentan tertular TBC dibandingkan orang dewasa (World Health Organization [WHO], 2024).

Istilah "flek paru" sebenarnya bukan istilah medis. Di masyarakat, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan penyakit tuberkulosis (TBC), yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Mengapa Anak Lebih Rentan Terkena TBC?

Anak-anak, terutama balita, memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang sehingga belum seefektif orang dewasa dalam melawan infeksi. Selain itu, setelah terinfeksi, anak juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami TBC berat, seperti meningitis TB atau TB milier, terutama pada usia di bawah lima tahun (WHO, 2024).

Penularan TBC umumnya terjadi melalui percikan droplet ketika penderita TBC paru yang aktif batuk, bersin, atau berbicara. Risiko penularan menjadi lebih besar apabila anak tinggal serumah atau sering melakukan kontak erat dengan penderita TBC yang belum mendapatkan pengobatan (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2024).

Faktor yang Meningkatkan Risiko TBC pada Anak

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko TBC pada anak antara lain:

  • Tinggal serumah atau sering berkontak erat dengan penderita TBC aktif.
  • Usia balita dengan sistem imun yang belum matang.
  • Status gizi kurang atau malnutrisi.
  • Lingkungan rumah yang padat dengan ventilasi dan pencahayaan yang kurang baik.
  • Memiliki penyakit atau kondisi yang menurunkan daya tahan tubuh (WHO, 2024).

Gejala TBC pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Berbeda dengan orang dewasa, gejala TBC pada anak sering kali tidak khas sehingga lebih sulit dikenali. Orang tua perlu waspada apabila anak mengalami:

  • Batuk yang berlangsung lama atau berulang.
  • Berat badan sulit naik atau justru menurun.
  • Nafsu makan menurun.
  • Demam ringan yang hilang timbul selama lebih dari dua minggu.
  • Anak tampak lemas atau kurang aktif.
  • Berkeringat pada malam hari.
  • Pembesaran kelenjar getah bening, terutama di leher (Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Karena gejalanya menyerupai berbagai penyakit lain, diagnosis TBC pada anak tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala. Dokter akan mempertimbangkan riwayat kontak dengan penderita TBC, melakukan pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi (WHO, 2024).

Apakah TBC pada Anak Bisa Disembuhkan?

Ya. TBC pada anak dapat disembuhkan apabila dideteksi sejak dini dan menjalani pengobatan secara teratur hingga selesai. Kepatuhan minum obat sangat penting untuk membunuh bakteri secara optimal, mencegah kekambuhan, sekaligus mengurangi risiko terjadinya resistensi obat (WHO, 2024).

Cara Melindungi Anak dari TBC

Orang tua dapat membantu menurunkan risiko TBC dengan beberapa langkah berikut:

  • Memberikan imunisasi BCG sesuai jadwal imunisasi nasional.
  • Memenuhi kebutuhan gizi anak agar daya tahan tubuh tetap baik.
  • Menjaga sirkulasi udara dan pencahayaan rumah.
  • Menghindarkan anak dari paparan asap rokok.
  • Segera memeriksakan anggota keluarga yang mengalami batuk selama lebih dari dua minggu.
  • Melakukan skrining TBC pada seluruh kontak serumah apabila ada anggota keluarga yang didiagnosis TBC (CDC, 2024; Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Jangan Abaikan Gejala TBC pada Anak

TBC pada anak sering berkembang tanpa gejala yang khas. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih waspada apabila anak mengalami batuk berkepanjangan, berat badan sulit naik, nafsu makan menurun, atau memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC.

Semakin cepat TBC dikenali dan diobati, semakin besar peluang anak untuk sembuh dan terhindar dari komplikasi. Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis paru atau dokter anak apabila anak menunjukkan gejala yang mengarah ke TBC.

Artikel ditulis oleh dr. Hezza Bigitha, Sp.P (Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RS EMC Alam Sutera).