Pernahkah Anda tiba-tiba menemukan memar di lengan tanpa ingat pernah terbentur cukup keras? Kadang hanya ada sedikit benturan yang terasa, tetapi hasilnya tampak lebih jelas dari yang diperkirakan.
Banyak orang mengira kondisi tersebut disebabkan oleh benturan keras atau gangguan pembekuan darah. Namun, pada sebagian kasus, memar dapat muncul hanya akibat benturan ringan bahkan tanpa disadari. Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi, terutama pada lansia, adalah actinic purpura atau purpura aktinik.
Apa Itu Purpura Aktinik?
Purpura aktinik adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya bercak atau memar berwarna ungu kemerahan pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah kecil di bawah permukaan kulit. Kondisi ini sering disebut juga sebagai senile purpura atau Bateman's purpura.
Purpura aktinik paling sering ditemukan pada orang lanjut usia karena seiring bertambahnya usia, kulit menjadi lebih tipis dan kehilangan kolagen yang berfungsi menopang pembuluh darah. Akibatnya, pembuluh darah menjadi lebih rapuh dan mudah pecah meskipun hanya mengalami trauma ringan.
Penyebab Purpura Aktinik?
Penyebab utama purpura aktinik adalah kombinasi antara proses penuaan dan paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlangsung selama bertahun-tahun. Paparan sinar matahari yang terus-menerus dapat merusak serat kolagen dan elastin pada kulit sehingga daya tahan kulit terhadap cedera menjadi berkurang.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya actinic purpura antara lain:
- Usia lanjut, terutama di atas 50 tahun.
- Paparan sinar matahari kronis.
- Kulit yang tipis dan rapuh.
- Penggunaan obat pengencer darah, seperti aspirin atau warfarin.
- Penggunaan kortikosteroid jangka panjang.
- Riwayat sering mengalami memar.
Gejala Purpura Aktinik
Gejala utama actinic purpura adalah munculnya bercak memar berwarna ungu, merah tua, atau kebiruan yang umumnya terjadi pada area tubuh yang sering terpapar sinar matahari.
Karakteristik memar pada purpura aktinik meliputi:
- Bercak atau memar berwarna ungu tua hingga kebiruan.
- Bentuk tidak beraturan dengan batas yang cukup jelas.
- Ukuran bervariasi, umumnya sekitar 1–4 cm.
- Tidak nyeri dan tidak gatal.
- Muncul terutama pada area yang sering terpapar sinar matahari.
- Kulit di sekitarnya tampak lebih tipis, kering, dan kurang elastis.
Memar biasanya akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 1 hingga 3 minggu tanpa meninggalkan komplikasi serius. Pada beberapa kasus dapat tersisa warna kecokelatan akibat endapan pigmen darah di kulit.
Kapan Harus Waspada?
Meskipun purpura aktinik bersifat jinak, memar yang muncul tiba-tiba tetap perlu dievaluasi apabila:
- Muncul sangat sering atau semakin banyak.
- Disertai mimisan atau gusi mudah berdarah.
- Terjadi perdarahan yang sulit berhenti.
- Disertai lemas, demam, atau penurunan berat badan.
- Muncul tanpa sebab yang jelas pada usia muda.
Dalam kondisi tersebut, dokter mungkin akan mempertimbangkan penyebab lain seperti gangguan trombosit, kelainan pembekuan darah, kekurangan vitamin C atau vitamin K, efek obat pengencer darah, maupun penyakit lainnya.
Cara Penanganan Purpura Aktinik
Purpura aktinik umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus karena bukan kondisi yang berbahaya. Penanganan lebih difokuskan pada pencegahan agar tidak sering berulang, antara lain:
- Menggunakan tabir surya setiap hari.
- Mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari.
- Menghindari trauma atau benturan pada kulit yang rapuh.
- Menggunakan pelembap untuk menjaga kesehatan kulit.
- Berkonsultasi dengan dokter apabila menggunakan obat yang dapat meningkatkan risiko memar.
Memar yang muncul tiba-tiba tanpa rasa nyeri tidak selalu menandakan penyakit serius. Meski umumnya tidak berbahaya dan dapat hilang sendiri dalam beberapa minggu, pemeriksaan dokter tetap dianjurkan apabila memar sering muncul, semakin banyak, atau disertai gejala perdarahan lainnya.
Jika Anda sering mengalami memar tanpa benturan yang jelas, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis dermatologi venereologi dan estetika RS EMC Cikarang agar penyebabnya dapat dipastikan dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Artikel ditulis oleh dr. Patricia S.U. Br Hutagalung, M.Ked (D.V), Sp.D.V.E (Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi dan Estetika RS EMC Cikarang).