Matcha Lagi Tren, Tapi Benarkah Baik untuk Kesehatan Tubuh?

Belakangan ini, matcha benar-benar sedang naik daun. Hampir di mana-mana ada menu serba matcha, mulai dari matcha latte, es kopi matcha, dessert, sampai snack rasa matcha. Di media sosial juga makin banyak orang yang menjadikan matcha sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan estetik. Tidak heran kalau minuman hijau khas Jepang ini jadi favorit baru, terutama di kalangan anak muda.

Tapi di balik semua hype tersebut, muncul pertanyaan yang cukup penting: apakah matcha memang benar-benar lebih sehat, atau hanya tren sesaat yang sedang dibesar-besarkan?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana “iya” atau “tidak”. Matcha memang punya manfaat nyata untuk tubuh, tetapi tetap perlu dikonsumsi dengan bijak. Supaya tidak cuma ikut tren, penting untuk memahami apa sebenarnya matcha dan bagaimana efeknya bagi kesehatan.

Apa Itu Matcha?

Matcha adalah bubuk teh hijau asli Jepang yang dibuat dari daun teh pilihan. Berbeda dengan teh hijau biasa, daun matcha ditanam dengan cara khusus. Sebelum dipanen, tanaman teh ditutup dari sinar matahari selama sekitar 20–30 hari. Proses ini membuat kandungan klorofil dan asam amino di dalam daun meningkat sehingga warnanya lebih hijau cerah dan rasanya lebih khas.

Setelah dipanen, daun dikukus, dikeringkan, lalu digiling sangat halus hingga menjadi bubuk lembut.

Hal yang membuat matcha berbeda dari teh hijau biasa adalah cara konsumsinya. Kalau teh hijau biasa hanya diseduh lalu ampas daunnya dibuang, matcha diminum bersama seluruh bubuk daunnya. Karena itu, kandungan nutrisi yang masuk ke tubuh juga lebih banyak.

Manfaat Matcha untuk Tubuh 

1. Kaya Antioksidan

Salah satu alasan matcha dianggap sehat adalah karena kandungan antioksidannya yang tinggi, terutama katekin jenis EGCG (epigallocatechin gallate). Antioksidan membantu tubuh melawan radikal bebas yang bisa merusak sel dan memicu berbagai penyakit.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan antioksidan matcha jauh lebih tinggi dibanding teh hijau biasa. Karena seluruh daun dikonsumsi, manfaat yang didapat juga lebih maksimal.

Antioksidan ini dipercaya membantu menjaga kesehatan jantung, memperlambat penuaan dini, serta menurunkan risiko beberapa penyakit kronis.

2. Membantu Fokus dan Konsentrasi

Banyak orang memilih matcha sebagai pengganti kopi karena efek energinya terasa lebih stabil. Matcha memang mengandung kafein, tetapi juga memiliki L-theanine, yaitu asam amino yang membantu tubuh merasa lebih rileks.

Kombinasi keduanya membuat matcha bisa membantu meningkatkan fokus tanpa efek “terlalu berdebar” seperti yang kadang muncul setelah minum kopi berlebihan. Energi dari matcha biasanya terasa lebih pelan tetapi bertahan lebih lama.

Karena itu, sebagian orang merasa lebih nyaman minum matcha saat bekerja, belajar, atau mengerjakan tugas dalam waktu lama.

3. Membantu Metabolisme Tubuh

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa katekin dalam matcha dapat membantu meningkatkan metabolisme dan pembakaran kalori. Inilah alasan matcha sering dikaitkan dengan program diet atau penurunan berat badan.

Namun perlu diingat, matcha bukan minuman ajaib yang otomatis membuat berat badan turun. Efeknya tetap perlu didukung pola makan seimbang, tidur cukup, dan aktivitas fisik yang rutin.

4. Membantu Menjaga Kesehatan Jantung

Kandungan antioksidan dalam matcha juga dipercaya membantu menjaga kadar kolesterol dan kesehatan pembuluh darah. Konsumsi teh hijau dalam jumlah wajar sering dikaitkan dengan risiko penyakit jantung yang lebih rendah.

Selain itu, matcha juga dapat membantu mengurangi peradangan di dalam tubuh yang berhubungan dengan berbagai penyakit kronis.

5. Membantu Sistem Imun

Karena kaya antioksidan dan senyawa alami lainnya, matcha juga dapat membantu menjaga daya tahan tubuh. Kandungan tersebut membantu tubuh melawan stres oksidatif dan peradangan yang berlebihan.

Tetapi Matcha  Tetap Ada Efek Sampingnya

Walaupun punya banyak manfaat, matcha tetap tidak boleh dikonsumsi berlebihan. Banyak orang menganggap semua yang “healthy” pasti aman dalam jumlah banyak, padahal tidak selalu begitu.

Karena mengandung kafein, terlalu banyak matcha bisa menyebabkan sulit tidur, jantung berdebar, gelisah, atau cemas, terutama pada orang yang sensitif terhadap kafein.

Selain itu, matcha mengandung tanin yang bisa mengiritasi lambung jika diminum saat perut kosong. Beberapa orang bisa mengalami mual, nyeri perut, atau rasa tidak nyaman di lambung setelah minum matcha tanpa makan terlebih dahulu.

Tanin juga dapat menghambat penyerapan zat besi dan beberapa mineral lain jika dikonsumsi terlalu sering bersamaan dengan makanan.

Dalam jumlah yang sangat tinggi, konsumsi katekin berlebihan juga dapat membebani hati. Karena itu, walaupun matcha sehat, tetap ada batas aman dalam mengkonsumsinya.

Pilih Matcha atau Kopi?

Perdebatan soal matcha dan kopi sebenarnya tidak perlu terlalu dibesar-besarkan karena keduanya punya kelebihan masing-masing.

Kopi cocok untuk orang yang membutuhkan efek cepat untuk mengusir kantuk dan meningkatkan energi dalam waktu singkat. Sementara itu, matcha lebih cocok untuk orang yang ingin fokus lebih stabil dan tidak terlalu “menghentak”.

Dari sisi antioksidan, matcha memang unggul. Namun bukan berarti kopi buruk untuk kesehatan. Selama dikonsumsi dalam jumlah wajar dan tubuh cocok, kopi juga punya manfaat tersendiri.

Jadi pilihan terbaik sebenarnya tergantung kebutuhan dan kondisi tubuh masing-masing.

Cara Memilih Matcha yang Baik

Karena matcha sedang populer, sekarang banyak produk yang mengaku “premium” padahal kualitasnya biasa saja. Supaya tidak salah beli, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan.

Matcha berkualitas baik biasanya memiliki warna hijau cerah, bukan hijau kusam atau kekuningan. Teksturnya sangat halus dan lembut.

Rasanya juga khas: sedikit pahit tetapi tetap ada rasa gurih dan manis alami yang disebut umami. Kalau rasanya terlalu pahit atau seperti rumput kering, kualitasnya kemungkinan rendah.

Untuk minuman, biasanya orang memilih ceremonial grade karena rasanya lebih halus. Sedangkan culinary grade lebih sering digunakan untuk campuran kue atau dessert.

Berapa Banyak Matcha yang Aman Dikonsumsi?

Secara umum, satu sampai dua cangkir matcha per hari masih tergolong aman bagi kebanyakan orang dewasa sehat.

Sebaiknya hindari minum matcha terlalu malam jika sensitif terhadap kafein. Jangan juga menjadikannya pengganti air putih atau dikonsumsi terus-menerus sepanjang hari.

Bagi ibu hamil, orang dengan gangguan lambung, penyakit hati, atau sensitivitas terhadap kafein, konsumsi matcha sebaiknya lebih diperhatikan dan bila perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis.

Jadi, Apakah Matcha Benar-Benar Lebih Baik?

Matcha memang punya manfaat kesehatan yang nyata. Kandungan antioksidannya tinggi, bisa membantu fokus, dan memberi efek energi yang lebih stabil dibanding sebagian minuman berkafein lain.

Namun, matcha tetap bukan “minuman ajaib” yang bisa menyelesaikan semua masalah kesehatan. Kalau dikonsumsi berlebihan, efek sampingnya juga tetap ada. Dan jangan lupa mengatur kandungan gula yang ada dalam minuman matcha yang kita konsumsi. 

Pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar ikut tren, tetapi memahami kebutuhan tubuh sendiri. Kalau cocok dan dikonsumsi dengan bijak, matcha bisa menjadi pilihan minuman yang baik untuk menemani aktivitas sehari-hari.

Sehat itu bukan soal minum sesuatu yang sedang viral, tetapi soal menjaga pola hidup yang seimbang secara keseluruhan.

Artikel ditulis oleh dr. Paulina Toding, M. Gizi, Sp.GK (Dokter Spesialis Gizi Klinik RS EMC Pulomas).