Kenapa Cedera Ankle pada Pemain Futsal dan Basket Sering Kambuh?

Cedera ankle atau keseleo merupakan salah satu cedera yang paling sering dialami oleh pemain futsal dan basket. Hampir setiap pertandingan atau sesi latihan, selalu ada pemain yang salah mendarat setelah melompat, menginjak kaki lawan, atau melakukan perubahan arah secara tiba-tiba. Meski terlihat seperti cedera ringan, kenyataannya banyak pemain yang mengeluhkan ankle yang "langganan cedera" di sisi yang sama.

Lalu, mengapa cedera ankle begitu mudah kambuh?

Karakter Permainan Membuat Ankle Bekerja Sangat Keras

Futsal dan basket memiliki karakter permainan yang hampir serupa. Keduanya menuntut pemain untuk bergerak cepat, berhenti mendadak, berlari sambil berbelok, melompat, kemudian mendarat dalam waktu singkat.

Gerakan-gerakan tersebut memberikan beban besar pada sendi pergelangan kaki. Ketika kaki mendarat dalam posisi yang kurang tepat, ligamen di sisi luar ankle dapat meregang bahkan robek. Cedera ini dikenal sebagai lateral ankle sprain, jenis cedera ankle yang paling sering terjadi pada atlet olahraga dengan banyak lompatan dan perubahan arah.

Cedera Lama Belum Pulih Sempurna

Salah satu penyebab utama ankle sering kambuh adalah pemain kembali berolahraga sebelum proses penyembuhan selesai.

Rasa nyeri memang dapat berkurang dalam beberapa hari atau minggu, tetapi bukan berarti ligamen sudah kembali kuat seperti semula. Ligamen membutuhkan waktu untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Bila pemain langsung kembali bertanding hanya karena rasa sakit sudah hilang, risiko cedera berulang akan meningkat.

Banyak atlet merasa sudah siap bermain karena dapat berjalan atau berlari ringan, padahal kemampuan ankle untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas belum sepenuhnya pulih.

Otot dan Saraf Kehilangan Kemampuan Mengontrol Ankle

Cedera ankle bukan hanya merusak ligamen, tetapi juga memengaruhi kemampuan tubuh mengenali posisi sendi atau yang disebut propriosepsi.

Normalnya, otak akan menerima informasi dari ligamen, otot, dan sendi mengenai posisi kaki sehingga tubuh dapat menjaga keseimbangan secara otomatis. Setelah mengalami keseleo, kemampuan ini dapat menurun.

Akibatnya, ankle menjadi lebih mudah "terpelintir" ketika mendarat, berputar, atau mengubah arah secara cepat. Kondisi inilah yang sering membuat seseorang merasa ankle terasa tidak stabil atau seperti akan terkilir lagi meski cedera sebelumnya sudah lama terjadi.

Rehabilitasi Sering Diabaikan

Banyak orang menganggap pengobatan selesai ketika bengkak menghilang. Padahal, fase rehabilitasi justru sangat menentukan apakah cedera akan kambuh atau tidak.

Program rehabilitasi biasanya meliputi:

  • latihan keseimbangan,
  • penguatan otot betis dan pergelangan kaki,
  • latihan koordinasi,
  • latihan lompat dan mendarat,
  • latihan perubahan arah secara bertahap.

Latihan-latihan tersebut membantu mengembalikan stabilitas ankle sehingga mampu menghadapi gerakan cepat saat bermain futsal maupun basket. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan neuromuskular dan latihan keseimbangan dapat menurunkan risiko cedera ankle berulang secara signifikan.

Riwayat Cedera Menjadi Faktor Risiko Terbesar

Menariknya, penelitian menemukan bahwa riwayat pernah mengalami cedera ankle merupakan faktor risiko paling kuat untuk mengalami cedera yang sama di kemudian hari.

Artinya, seseorang yang pernah keseleo memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami cedera ulang dibandingkan orang yang belum pernah mengalami cedera ankle. Hal ini terjadi karena struktur ligamen, kekuatan otot, maupun kontrol keseimbangan sering kali tidak benar-benar kembali seperti sebelum cedera apabila rehabilitasi tidak dilakukan dengan optimal.

Apakah Ankle Brace Membantu?

Pada atlet yang memiliki riwayat keseleo berulang, penggunaan ankle brace atau taping dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi risiko cedera saat kembali bermain.

Namun perlu diingat, brace bukan pengganti latihan rehabilitasi. Brace hanya memberikan tambahan stabilitas dari luar. Kekuatan utama tetap berasal dari otot, ligamen, dan kemampuan tubuh menjaga keseimbangan. Karena itu, brace akan memberikan hasil terbaik jika digunakan bersamaan dengan program latihan yang tepat.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter ortopedi apabila setelah cedera ankle muncul kondisi berikut:

  • nyeri hebat sehingga tidak dapat menapak,
  • bengkak yang semakin besar,
  • memar luas,
  • ankle terasa longgar atau sering "copot",
  • cedera terus berulang pada sisi yang sama,
  • nyeri tidak membaik setelah beberapa minggu.

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan tidak ada robekan ligamen yang berat, cedera tulang rawan, maupun patah tulang yang mungkin memerlukan penanganan khusus.

Kesimpulan

Cedera ankle pada pemain futsal dan basket sering kambuh bukan semata-mata karena olahraga tersebut berisiko tinggi, tetapi juga karena banyak pemain kembali bermain sebelum pemulihan benar-benar selesai. Ditambah lagi, latihan rehabilitasi yang kurang optimal membuat kekuatan, keseimbangan, dan kontrol gerakan ankle tidak kembali seperti semula.

Dengan penanganan yang tepat sejak awal, menjalani rehabilitasi secara bertahap, serta mengikuti rekomendasi dokter sebelum kembali berolahraga, risiko cedera berulang dapat ditekan sehingga pemain dapat kembali tampil dengan lebih aman dan percaya diri.

Artikel ditulis oleh dr. Steesy Benedicta, M.Ked.Klin, Sp.OT (Spesialis Ortopedi & Traumatologi RS EMC Pulomas).