Kedutan Mata Kiri Bawah Tak Kunjung Hilang? Ketahui Penyebab dan Penanganannya

Kedutan mata kiri bawah merupakan keluhan yang sangat umum dan hampir pernah dialami oleh setiap orang. Meskipun sering dianggap sepele, banyak masyarakat yang masih mengkaitkan kondisi ini dengan berbagai mitos atau pertanda tertentu. Namun, dari sudut pandang medis, kedutan mata kiri bawah umumnya terjadi akibat kontraksi ringan pada otot kecil di kelopak mata yang berlangsung tanpa disadari.

Pada sebagian besar kasus, kondisi ini bersifat sementara dan dapat hilang dengan sendirinya. Jika kedutan berlangsung terus-menerus, semakin sering muncul, atau disertai gejala lain, maka kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan tertentu. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab, cara mengatasinya, serta kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.

Kenapa Mata Kiri Bawah Bisa Berkedut?

Kedutan mata terjadi karena kontraksi otot orbikularis okuli secara berulang, spontan dan tanpa disadari (involunter). Biasanya pada satu mata dan lebih sering terjadi di kelopak mata bawah. Kontraksi berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit dan pada sebagian orang kedutan dapat muncul berulang kali selama beberapa hari.

Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai eyelid myokymia, yaitu kedutan ringan pada kelopak mata yang umumnya tidak berbahaya dan jarang berkaitan dengan penyakit serius dan sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor pemicu. 

Apakah Kedutan Mata Kiri Bawah Selalu Berbahaya?

Sebagian besar kasus kedutan mata kiri bawah bukanlah tanda penyakit serius. Sebagian besar kasus bersifat idiopatik. Kondisi ini biasanya akan membaik dengan sendirinya setelah faktor pemicunya diatasi, seperti beristirahat yang cukup atau mengurangi stres.

Namun, kedutan yang berlangsung terus-menerus, semakin sering dan mengganggu aktivitas sehari-hari tidak boleh diabaikan. Pada beberapa kasus yang jarang, kedutan dapat berhubungan dengan kondisi seperti:

  • Blefarospasme, yaitu kejang pada otot kelopak mata yang menyebabkan mata berkedip atau menutup secara tidak terkendali.
  • Spasme Hemifasial, yaitu kejang otot yang melibatkan satu sisi wajah akibat gangguan pada saraf wajah.
  • Gangguan pada sistem saraf, meski kondisi ini biasanya disertai gejala lain seperti kelemahan otot wajah atau gangguan neurologis.

Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya lokasi kedutannya, tetapi juga durasi, frekuensi, dan gejala lain yang menyertainya.

Faktor-Faktor yang Sering Menyebabkan Kedutan 

Ada berbagai faktor yang dapat memicu kedutan, di antaranya adalah :

1. Kurang tidur

Kurang tidur membuat otot dan saraf di sekitar mata menjadi lebih mudah terstimulasi sehingga memicu kontraksi otot kelopak mata.

2. Stres dan kelelahan mental

Stres dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf sehingga memicu munculnya kedutan. Tidak heran jika kondisi ini sering muncul saat seseorang mengalami tekanan pekerjaan atau kurang beristirahat.

3. Konsumsi kafein berlebihan

Terlalu banyak mengonsumsi kopi, teh, minuman berenergi, atau sumber kafein lainnya dapat meningkatkan rangsangan kontraksi pada otot sehingga kedutan lebih mudah terjadi.

4. Mata lelah akibat terlalu lama menatap layar

Paparan layar komputer, laptop, atau ponsel dalam waktu lama dapat menyebabkan mata lelah (digital eye strain). Kondisi ini sering menjadi salah satu penyebab kedutan pada kelopak mata.

5. Mata kering atau iritasi

Mata yang kering akibat penggunaan lensa kontak, paparan udara dari AC, debu, atau faktor usia dapat memicu iritasi ringan yang menyebabkan kedutan.

6. Konsumsi alkohol atau kebiasaan merokok

Pada sebagian orang, konsumsi alkohol maupun kebiasaan merokok dapat memperburuk frekuensi atau intensitas kedutan pada kelopak mata.

7. Obat-obatan 

Obat-obatan tertentu terkait kedutan adalah clozapine, flunarizine, metformin

Cara Meredakan Kedutan Mata Kiri Bawah

Sebagian besar kedutan mata kiri bawah dapat membaik dengan perubahan gaya hidup sederhana. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  • Tidur yang cukup

Usahakan memenuhi kebutuhan tidur setiap malam agar otot dan saraf dapat beristirahat dengan optimal.

  • Batasi konsumsi kafein

Kurangi konsumsi kopi, teh, atau minuman berkafein jika dirasa berlebihan, terutama bila kedutan sering muncul setelah mengonsumsinya.

  • Kelola stres dengan baik

Lakukan aktivitas yang membantu tubuh menjadi lebih rileks, seperti olahraga ringan, meditasi, latihan pernapasan, atau melakukan hobi yang disukai.

  • Istirahatkan mata secara berkala

Jika sering bekerja di depan layar, terapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat objek yang berjarak sekitar 20 kaki (6 meter) selama 20 detik untuk membantu mengurangi kelelahan mata.

  • Kompres hangat

Mengompres kelopak mata menggunakan kompres hangat dapat membantu merilekskan otot di sekitar mata sehingga kedutan berkurang.

  • Gunakan tetes mata bila diperlukan

Apabila kedutan dipicu oleh mata kering, dokter dapat menyarankan penggunaan tetes mata atau air mata buatan sesuai kondisi masing-masing pasien.

  • Hindari obat-obatan yang dapat memicu terjadinya kedutan

Konsultasikan dengan dokter jika minum obat rutin sehari hari, guna mengetahui apakah obat tersebut merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya kedutan.

Kapan Kedutan Mata Kiri Bawah Perlu Diperiksakan ke Dokter?

Meskipun kedutan mata kiri bawah umumnya tidak berbahaya, segera konsultasikan dengan dokter apabila mengalami kondisi berikut:

  • Kedutan berlangsung lebih dari 1–2 minggu tanpa membaik.
  • Kedutan muncul hampir sepanjang hari atau semakin sering terjadi.
  • Kelopak mata menutup sepenuhnya sehingga mengganggu penglihatan.
  • Kedutan beserta dengan mata merah, bengkak, keluar cairan, atau nyeri.
  • Kedutan melibatkan bagian wajah lain, seperti pipi atau sudut mulut.
  • Muncul kelemahan otot wajah atau gejala neurologis lainnya.

Dokter akan melakukan pemeriksaan medis, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebab yang mendasari. Penanganan akan disesuaikan dengan penyebabnya, mulai dari edukasi perubahan gaya hidup hingga terapi medis pada kondisi tertentu.

Artikel ditulis oleh dr. Erlani Kartadinata, Sp.M (Spesialis Mata RS EMC Pulomas & Grha Kedoya).