Kanker lidah adalah penyakit yang dialami oleh usia lanjut, khususnya dengan riwayat merokok berat dan konsumsi alcohol, dan faktor lain seperti poor denture dan oral hygiene. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus kanker lidah pada usia muda mulai mendapat perhatian karena semakin sering ditemukan pada kelompok usia produktif.
Kondisi ini perlu diwaspadai karena gejala awal kanker lidah kerap dianggap sepele dan menyerupai sariawan biasa. Akibatnya, banyak penderita datang ke dokter saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, mengenal tanda awal dan faktor risiko kanker lidah sejak dini penting untuk membantu meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
Apa Itu Kanker Lidah dan Mengapa Bisa Menyerang Usia Muda?
Kanker lidah merupakan salah satu jenis kanker rongga mulut yang terjadi akibat pertumbuhan sel abnormal pada jaringan lidah. Kondisi ini dapat muncul di bagian depan lidah yang mudah terlihat maupun di bagian pangkal lidah yang lebih sulit terdeteksi.
Saat ini, kanker lidah mulai lebih banyak ditemukan pada usia muda dan produktif. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup dan paparan faktor risiko tertentu diduga berkontribusi terhadap peningkatan kasus tersebut. Selain kebiasaan merokok, penggunaan e-cigarette, konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker lidah.
Gejala Kanker Lidah
Berikut beberapa gejala kanker lidah yang perlu diwaspadai:
- Bercak putih atau merah yang tidak hilang (Leukoplakia/Erythroplakia)
- Benjolan atau penebalan pada lidah.
- Nyeri saat makan, menelan, atau berbicara.
- Lidah mudah berdarah tanpa sebab yang jelas.
- Bau mulut yang menetap.
- Lidah terasa kaku atau sulit digerakkan.
Jika gejala-gejala tersebut terus berlangsung, segera lakukan pemeriksaan ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui lebih awal.
BACA JUGA: Deteksi Dini Kanker Mulut: Peran Penting Dokter Gigi dalam Oral Medicine
Faktor Risiko Kanker Lidah pada Usia Muda yang Sering Tidak Disadari
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko kanker lidah pada usia muda, baik yang berkaitan dengan gaya hidup maupun kondisi kesehatan tertentu.
1. Kebersihan rongga mulut yang buruk (Denture)
Kebersihan mulut yang tidak terjaga dapat memicu iritasi kronis dan meningkatkan risiko gangguan pada jaringan mulut, termasuk kanker lidah.
2. Merokok, penggunaan e-cigarette, atau tobacco chewing
Paparan zat kimia dari rokok maupun e-cigarette dan tobacco chewing dapat merusak sel di rongga mulut dan memicu pertumbuhan sel abnormal.
3. Konsumsi alkohol berlebihan
Alkohol dapat mengiritasi jaringan mulut dan meningkatkan risiko kanker, terutama bila dikombinasikan dengan kebiasaan merokok.
Bagaimana Kanker Lidah Didiagnosis dan Diobati?
Untuk memastikan diagnosis kanker lidah, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menilai riwayat kesehatan pasien. Bila ditemukan kelainan yang mencurigakan, pemeriksaan lanjutan biasanya diperlukan.
Beberapa metode diagnosis kanker lidah meliputi:
- Biopsi untuk mengambil sampel jaringan.
- CT scan untuk melihat penyebaran kanker.
- MRI untuk menilai kondisi jaringan lebih detail.
- Foto rontgen.
Setelah diagnosis ditegakkan, pengobatan kanker lidah akan disesuaikan dengan stadium dan kondisi pasien. Penanganan dapat berupa:
- Operasi untuk mengangkat jaringan kanker.
- Radioterapi.
- Kemoterapi.
- Fisioterapi atau terapi rehabilitasi untuk membantu fungsi bicara dan menelan setelah pengobatan.
Semakin cepat kanker lidah terdeteksi, semakin besar peluang keberhasilan terapi dan pemulihan pasien.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter apabila terdapat sariawan atau luka di lidah yang tidak membaik dalam lebih dari dua minggu. Pemeriksaan juga diperlukan bila muncul benjolan, bercak putih atau merah, nyeri saat menelan, atau lidah mudah berdarah.
Keluhan yang tampak ringan tetapi menetap sebaiknya tidak diabaikan. Deteksi dini kanker lidah sangat penting karena dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan membantu mencegah penyebaran penyakit ke jaringan lain.
Artikel ditulis oleh dr. Arif Winata, Sp.B (K) Onk (Dokter Spesialis Bedah Onkologi RS EMC Grha Kedoya).