Herpes simplex dan herpes zoster sama-sama dapat menyebabkan lepuhan atau luka pada kulit, tetapi keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Herpes simplex disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV), sedangkan herpes zoster terjadi akibat reaktivasi varicella-zoster virus (VZV), virus yang juga menyebabkan cacar air.
Perbedaan penyebab ini membuat pola gejala, lokasi lesi, risiko komplikasi, dan penanganannya juga dapat berbeda. Mengenal herpes simplex vs herpes zoster penting agar keluhan tidak keliru dikenali atau ditangani berdasarkan dugaan semata.
Kenali Perbedaan Herpes Simplex dan Herpes Zoster
Perbedaan utama herpes simplex dan herpes zoster terletak pada virus penyebab serta cara infeksi tersebut muncul kembali di dalam tubuh.
Herpes simplex disebabkan oleh HSV-1 atau HSV-2. HSV-1 lebih sering berkaitan dengan herpes oral, sedangkan HSV-2 lebih sering menyebabkan herpes genital. Namun, keduanya dapat menginfeksi area oral maupun genital. Berdasarkan informasi dari WHO, sebagian besar infeksi HSV tidak menimbulkan gejala yang jelas, tetapi ketika gejalanya muncul, keluhan dapat berupa lepuhan atau luka yang terasa nyeri dan dapat kambuh.
Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi VZV yang tetap berada dalam tubuh setelah seseorang pernah mengalami cacar air. Virus tersebut dapat kembali aktif di kemudian hari dan menimbulkan ruam yang umumnya muncul pada satu sisi tubuh. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang dewasa berusia di atas 50 tahun, meskipun siapa pun yang pernah mengalami cacar air dapat mengalaminya.
|
Perbedaan |
Herpes Simplex |
Herpes Zoster |
|
Virus penyebab |
Herpes simplex virus (HSV-1 atau HSV-2) |
Varicella-zoster virus (VZV) |
|
Riwayat infeksi |
Infeksi HSV menetap di dalam tubuh dan dapat mengalami kekambuhan |
Terjadi akibat reaktivasi VZV setelah infeksi cacar air |
|
Lokasi umum |
Sekitar mulut, bibir, genital, atau anus |
Biasanya satu sisi tubuh atau wajah |
|
Ciri ruam |
Lepuhan atau luka yang dapat muncul berkelompok |
Lepuhan berkelompok dalam pola seperti pita atau mengikuti jalur saraf |
|
Nyeri |
Dapat terasa nyeri, terbakar, gatal, atau kesemutan |
Nyeri, rasa terbakar, kesemutan, atau sensasi seperti tertusuk dapat menonjol |
|
Kekambuhan |
Dapat berulang, terutama pada herpes genital |
Umumnya merupakan satu episode, tetapi dapat kambuh pada sebagian orang |
|
Komplikasi khas |
Dapat menyebabkan komplikasi pada kondisi tertentu, termasuk infeksi pada mata atau herpes neonatal |
Dapat menyebabkan postherpetic neuralgia serta komplikasi mata jika mengenai area sekitar mata |
Ini Gejala Herpes Simplex dan Herpes Zoster yang Perlu Diketahui
Meskipun sama-sama dapat menimbulkan lepuhan, pola kemunculan gejalanya dapat membantu dokter membedakan kedua kondisi tersebut.
Gejala Herpes Simplex
Herpes simplex dapat menimbulkan lepuhan kecil yang muncul berkelompok, kemudian pecah dan berubah menjadi luka atau ulkus. Lesi dapat muncul terutama di sekitar mulut dan bibir pada herpes oral atau di sekitar genital dan anus pada herpes genital.
Sebelum lepuhan terlihat, seseorang dapat merasakan beberapa sensasi pada area yang akan terkena, seperti:
- Gatal.
- Kesemutan.
- Rasa terbakar.
- Nyeri atau rasa tidak nyaman.
Pada infeksi pertama, terutama herpes genital, gejala dapat lebih berat dan disertai demam, nyeri tubuh, sakit kepala, atau pembengkakan kelenjar getah bening. Namun, sebagian orang dapat mengalami infeksi HSV dengan gejala yang sangat ringan atau bahkan tanpa gejala.
Setelah episode pertama, herpes simplex dapat mengalami kekambuhan. Episode berikutnya umumnya berlangsung lebih singkat dan lebih ringan dibandingkan infeksi pertama. Pada herpes genital, luka atau lepuhan juga dapat menyebabkan rasa nyeri saat buang air kecil.
Gejala Herpes Zoster
Berbeda dari herpes simplex, herpes zoster biasanya diawali dengan keluhan pada area kulit tertentu sebelum ruam terlihat. Keluhan tersebut dapat berupa:
- Nyeri.
- Rasa terbakar.
- Gatal.
- Kesemutan.
- Mati rasa atau sensasi tidak nyaman.
Beberapa hari kemudian, ruam dapat muncul pada area tersebut dan berkembang menjadi lepuhan kecil berkelompok yang umumnya berada pada satu sisi tubuh atau wajah. Pola ini berkaitan dengan jalur saraf yang terkena.
Lepuhan kemudian dapat pecah dan mengering menjadi keropeng dalam beberapa hari. Selain keluhan pada kulit, sebagian orang dapat mengalami demam, sakit kepala, menggigil, atau kelelahan.
Nyeri merupakan salah satu gejala yang cukup khas pada herpes zoster. Pada sebagian pasien, nyeri saraf bahkan dapat menetap setelah ruam sembuh. Kondisi tersebut disebut postherpetic neuralgia (PHN) dan dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan lebih lama.
Jika ruam herpes zoster muncul di sekitar mata atau wajah, segera periksakan diri ke dokter. Herpes zoster yang mengenai area mata dapat menyebabkan komplikasi pada mata hingga gangguan penglihatan dan membutuhkan penanganan medis segera.
Bagaimana Dokter Memastikan Penyebab Herpes Simplex dan Herpes Zoster?
Diagnosis herpes tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan bentuk lepuhan. Dokter akan mempertimbangkan beberapa informasi sekaligus, seperti:
- Lokasi dan pola ruam.
- Bentuk serta karakteristik lepuhan atau luka.
- Keluhan nyeri, gatal, kesemutan, atau rasa terbakar.
- Riwayat pernah mengalami cacar air.
- Riwayat munculnya keluhan serupa sebelumnya.
- Kondisi kesehatan dan faktor risiko pasien.
Pada herpes zoster, diagnosis sering dapat ditegakkan berdasarkan gambaran ruam yang khas dan riwayat kesehatan. Jika tampilannya tidak khas atau terdapat komplikasi, pemeriksaan sampel dari lepuhan dapat dilakukan untuk membantu memastikan keberadaan VZV.
Pada herpes genital, diagnosis klinis dapat lebih sulit karena tidak semua pasien menunjukkan gambaran lesi yang khas saat diperiksa. Jika lesi terlihat, pemeriksaan virologis menggunakan NAAT/PCR atau kultur dari lesi dapat digunakan untuk membantu mengonfirmasi diagnosis.
Karena penyebab dan kondisi pasien dapat berbeda, hindari menggunakan obat antivirus atau obat kulit secara sembarangan hanya berdasarkan dugaan bahwa ruam tersebut merupakan herpes. Dokter dapat menentukan pemeriksaan dan terapi yang sesuai berdasarkan diagnosis.
Kapan Harus ke Dokter? Jangan Tunggu Sampai Komplikasi
Perbedaan herpes simplex vs herpes zoster dapat dilihat dari virus penyebab, pola ruam, lokasi, dan karakter nyerinya.
Sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami:
- Ruam atau lepuhan di sekitar mata atau wajah.
- Nyeri kulit yang berat atau semakin memburuk.
- Lepuhan atau luka yang menyebar luas.
- Ruam disertai demam atau kondisi tubuh yang semakin lemah.
- Keluhan pada area genital yang baru pertama kali muncul.
- Luka atau lepuhan yang tidak kunjung membaik.
- Gejala yang berulang tetapi penyebabnya belum pernah dipastikan.
- Kondisi dengan daya tahan tubuh yang melemah.
Pemeriksaan penting ketika diagnosis belum jelas karena beberapa penyakit kulit dapat memiliki tampilan yang menyerupai herpes. Dengan pemeriksaan yang tepat, dokter dapat menentukan apakah keluhan disebabkan oleh HSV, VZV, atau kondisi lain dan memilih penanganan yang sesuai. Jangan menunda pemeriksaan dan segera konsultasi bersama Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin/Dermatologi Venereologi dan Estetika (DVE) di RS EMC Cikarang.
BACA JUGA: Kenali Penyebab dan Langkah Pencegahan Herpes Genital
Artikel ditulis oleh dr. Hadi Firmansyah, Sp. DVE, M.Kes (Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi & Estetika / Kulit & Kelamin RS EMC Cikarang).