Hepatitis merupakan kondisi peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh berbagai hal, termasuk infeksi virus hepatitis. Ada lima jenis utama hepatitis virus, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E, dengan karakteristik serta perjalanan penyakit yang berbeda. Tidak semua hepatitis akan berkembang menjadi kanker hati. Namun, hepatitis B dan C yang berlangsung kronis dapat menyebabkan kerusakan hati jangka panjang, sirosis, hingga hepatocellular carcinoma (HCC) atau kanker hati.
Karena hepatitis kronis sering berlangsung tanpa gejala khas, seseorang dapat mengalami kerusakan hati tanpa menyadarinya. Lalu, bagaimana proses hepatitis menjadi kanker hati dan apa yang dapat dilakukan untuk menurunkan risikonya?
Apa Jenis Hepatitis yang Berkaitan dengan Risiko Kanker Hati?
Jika membahas hepatitis penyebab kanker hati, hepatitis B dan C menjadi perhatian utama. Keduanya dapat menetap dalam tubuh dan menyebabkan peradangan serta kerusakan hati secara terus-menerus. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi fibrosis, sirosis, dan meningkatkan risiko hepatocellular carcinoma atau kanker hati.
Hepatitis D juga perlu diperhatikan karena virus ini hanya dapat menginfeksi orang yang telah memiliki hepatitis B. Koinfeksi hepatitis B dan D dapat menyebabkan penyakit hati yang lebih berat serta mempercepat perkembangan menuju sirosis dan kanker hati.
Sebaliknya, hepatitis A umumnya tidak menyebabkan infeksi kronis. Hepatitis E juga lebih sering menyebabkan infeksi akut, meskipun perjalanan penyakitnya dapat berbeda pada kelompok tertentu. Oleh karena itu, memiliki hepatitis tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami kanker hati. Risiko dipengaruhi oleh jenis hepatitis, apakah infeksinya menjadi kronis, tingkat kerusakan hati, serta faktor risiko lainnya.
Apa Saja Gejala Hepatitis?
Salah satu alasan hepatitis kronis perlu diwaspadai adalah gejalanya dapat tidak jelas selama bertahun-tahun. Seseorang mungkin merasa sehat meskipun infeksi terus menyebabkan kerusakan pada hati.
Ketika gejala muncul, keluhan dapat berupa:
- Mudah lelah atau tubuh terasa lemas.
- Mual dan kehilangan nafsu makan.
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di perut.
- Urine berwarna lebih gelap.
- Kulit dan bagian putih mata menguning atau jaundice.
Pada penyakit hati yang sudah lebih lanjut, dapat muncul perut membesar akibat penumpukan cairan, pembengkakan tungkai, atau penurunan berat badan. Namun, gejala tersebut tidak dapat digunakan untuk memastikan seseorang mengalami hepatitis atau kanker hati. Pemeriksaan medis tetap diperlukan.
Dengan demikian, tidak adanya gejala bukan berarti hati bebas dari kerusakan, terutama jika seseorang memiliki faktor risiko hepatitis.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada terhadap Risiko Hepatitis?
Pemeriksaan hepatitis perlu dipertimbangkan terutama pada orang yang memiliki riwayat paparan darah atau cairan tubuh yang berisiko. Contohnya, penggunaan jarum atau alat medis yang tidak steril, penggunaan jarum secara bersama, serta tindakan seperti tato atau tindik dengan peralatan yang tidak terjamin sterilitasnya.
Pada hepatitis B, riwayat ibu yang terinfeksi juga penting diperhatikan karena virus dapat ditularkan dari ibu kepada bayi saat persalinan. Pasangan seksual yang memiliki hepatitis B atau kondisi medis tertentu juga dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan sesuai rekomendasi dokter.
Orang yang telah didiagnosis hepatitis kronis juga perlu melakukan evaluasi kondisi hati secara berkala. Risiko kanker hati dapat semakin meningkat apabila terdapat sirosis atau faktor lain yang memengaruhi kesehatan hati, seperti konsumsi alkohol, obesitas, dan penyakit hati kronis lainnya.
Bisakah Risiko Kanker Hati Dikurangi setelah Hepatitis Terdeteksi?
Jawabannya, risiko komplikasi dapat dikurangi dengan deteksi, penanganan, dan pemantauan yang tepat. Pada hepatitis B kronis, dokter dapat mempertimbangkan terapi antivirus berdasarkan kondisi hati, aktivitas virus, dan faktor risiko pasien. WHO menyebutkan bahwa terapi antivirus pada hepatitis B kronis dapat memperlambat perkembangan sirosis serta menurunkan kejadian kanker hati.
Sementara itu, hepatitis C saat ini dapat disembuhkan pada sebagian besar pasien menggunakan direct-acting antiviral (DAA). WHO menyebutkan bahwa obat DAA dapat menyembuhkan lebih dari 95% orang dengan infeksi hepatitis C.
Pasien dengan sirosis atau kelompok tertentu yang memiliki risiko tinggi juga dapat memerlukan surveillance kanker hati, yaitu pemantauan secara berkala untuk membantu mendeteksi kanker hati sedini mungkin sesuai penilaian dokter.
Selain terapi, menjaga kesehatan hati tetap penting. Hindari konsumsi alkohol, pertahankan berat badan yang sehat, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan jangan mengonsumsi obat maupun suplemen tanpa memastikan keamanannya bagi hati.
Pencegahan juga dapat dimulai dari vaksinasi hepatitis B. Vaksin hepatitis B tidak hanya membantu mencegah infeksi HBV, tetapi juga melindungi dari hepatitis D karena hepatitis D membutuhkan HBV untuk berkembang.
BACA JUGA: Jangan Sampai Salah! Informasi Berikut Mengungkap Mitos Fakta Seputar Hepatitis
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Segera konsultasikan kondisi kepada dokter jika memiliki faktor risiko hepatitis, pernah mendapatkan hasil pemeriksaan hepatitis positif, atau mengalami keluhan seperti kulit dan mata menguning, urine berwarna gelap, perut membesar, nyeri atau rasa tidak nyaman di perut, kelelahan berkepanjangan, maupun penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Bagi pasien yang telah didiagnosis hepatitis kronis, pemeriksaan rutin penting untuk memantau kondisi hati dan mendeteksi komplikasi sedini mungkin. Jangan menunggu gejala menjadi berat karena penyakit hati kronis dapat berkembang secara perlahan tanpa keluhan yang khas. Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pentingnya skrining dan deteksi dini karena banyak penyakit hati kronis baru diketahui ketika telah memasuki tahap sirosis atau kanker hati.
Untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut mengenai kondisi penyakit hati dan komplikasinya, pasien dapat berkonsultasi dengan dr. Tjhang, Dokter Bedah (Penyakit Hati, Empedu, Limpa dan Pankreas) RS EMC Alam Sutera, terutama bila memerlukan penilaian lebih lanjut terkait kondisi hati yang membutuhkan penanganan bedah.
Artikel ditulis oleh dr. Apriliana Adhyaksari, Sp.PD, Subsp.G.E.H (K), M.Kes, FINASIM (Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Gastro Entero Hepatologi Rumah Sakit EMC Alam Sutera & Tangerang).