Hantavirus Yang Sedang Ramai Dibahas, Seberapa Berbahaya?

Belakangan ini, hantavirus kembali menjadi sorotan publik karena kasusnya mulai banyak dibahas di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tercatat ada 23 kasus hantavirus di Indonesia sepanjang periode 2024 hingga 2026. Kasus ini tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Jakarta, Banten, Jawa Barat, Yogyakarta, Kalimantan Barat, NTT, Jawa Timur, Sumatera Barat, hingga Sulawesi Utara.

Jenis virus yang ditemukan di Indonesia adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dari galur Seoul/Seoul virus yang menyerang ginjal. Sementara Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan berisiko fatal belum pernah dilaporkan di Indonesia.  Infeksi ini memiliki gejala awal mirip flu, diantaranya: nyeri badan, lemas, sakit kepala, dan demam. Kasus berat ditemukan pada 5-15% kasus HFRS dan 60% kasus HPS. 

Untuk kasus terkini, otoritas setempat terus memantau perkembangan di DKI Jakarta. Hingga 18 Mei 2026, tercatat 3 kasus positif dan 6 kasus suspek yang masih dipantau secara intensif, termasuk yang ditangani di fasilitas kesehatan seperti RSPI Sulianti Saroso. 

Lalu Apa itu Hantavirus?

Virus Hanta memiliki 50 strain dan diantaranya 24 strain dapat menginfeksi manusia. Virus Hanta ditularkan melalui hewan pengerat terutama tikus dan celurut yang terinfeksi. Kedua hewan ini bisa menjadi pembawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit tapi virus tersebut hidup dan berkembang biak di dalam tubuh mereka. 

Cara Penularan 

Manusia bisa saja terinfeksi jika terpapar virus yang berasal dari urine, kotoran, atau ludah hewan pembawa virus dan cara penularan yang paling umum adalah menghirup udara yang terkontaminasi dengan kotoran tikus, Kontak langsung dengan luka terbuka atau selaput lendir (mata/hidung/mulut), Gigitan dari hewan yang terinfeksi, Mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. 

Virus yang beredar di Indonesia ini TIDAK MENULAR ANTAR MANUSIA jadi siapapun tidak akan tertular hanya karena dekat dengan penderita. Penularan antar manusia hanya dilaporkan pada tipe HPS (tidak ada di Indonesia) di Amerika Selatan.

Jenis Penyakit yang ditimbulkan 

  1. HRFS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome) yang menyerang ginjal dan gejalanya dimulai dengan demam tinggi,sakit kepala,nyeri otot, hingga gangguan fungsi ginjal akut. Kondisi yang berat dapat ditemukan badan dan mata menguning (ikterik). HFRS ini adalah jenis yang ditemukan di Indonesia. 
  2. HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) yang menyerang paru-paru dan menyebabkan cairan menumpuk di paru-paru sehingga sulit untuk bernapas. Jenis ini memiliki tingkat kematian yang tinggi tetapi belum ditemukan kasusnya di Indonesia (banyak ditemukan di wilayah Benua Amerika seperti Amerika Serikat, Kanada , tertinggi di Argentina ,Chili, Brazil, Bolivia , dan Paraguay).

Cara mencegah

Karena sumber utamanya adalah hewan pengerat kunci  pencegahan dilakukan dengan:

  1. Tutup celah dan lubang di dinding, lantai , atau atap rumah agar tikus tidak bisa masuk
  2. Simpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup rapat, dan gunakan  tudung saji untuk mencegah kontaminasi 
  3. Bersihkan area yang jarang dipakai seperti gudang, loteng,atau ruang bawah tanah secara rutin menggunakan masker pelindung dan sarung tangan karet. Buka jendela agar sirkulasi udara lancer.
  4. Hancurkan sarang dan kotoran tikus dengan cara menyemprotkan larutan pembersih (seperti campuran air dan pemutih) terlebih dahulu sebelum dibersihkan, jangan disapu atau disedot vakum langsung agar debu tidak terbang.
  5. Gunakan perangkap tikus di area yang sering dilewati, dan buang bangkainya dengan aman.
  6. Hindari beraktivitas atau tidur di tempat yang terlihat banyak tikus atau kotorannya, terutama area terbengkalai atau gudang lama.

Bila ada anggota keluarga yang mengalami gejala tersebut setelah membersihkan area rumah yang dicurigai menjadi sarang tikus, segera periksakan diri ke Dokter. Diagnosis dilakukan dengan memeriksaan adanya virus menggunakan Teknik RT-PCR dari sediaan darah. Hingga saat ini belum ada pengobatan spesifik dan belum tersedia vaksin untuk mencegah penularan virus Hanta. 


Artikel ditulis oleh dr. Sari Purnama Hidayat, Sp.PD (Spesialis Penyakit Dalam RS EMC Pulomas).