Gagal ginjal merupakan kondisi ketika fungsi ginjal menurun hingga tidak mampu menjalankan fungsi vitalnya secara adekuat, termasuk membuang limbah metabolisme dan kelebihan cairan dari dalam tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai zat sisa menumpuk dalam darah dan pada tahap lanjut memengaruhi fungsi organ lain.
Sementara itu, penyakit ginjal kronis (PGK) dapat berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, banyak kasus baru terdiagnosis setelah fungsi ginjal mengalami penurunan yang cukup bermakna. Mengenali faktor risiko dan tanda-tanda yang perlu diwaspadai, serta melakukan pemeriksaan secara berkala, penting untuk memperlambat progresivitas penyakit dan mencegah komplikasi.
Mengapa Gejala Penyakit Ginjal Sering Tidak Disadari?
Pada tahap awal penyakit ginjal kronis, ginjal masih memiliki kemampuan kompensasi yang cukup tinggi. Artinya, meskipun sebagian fungsi ginjal mulai menurun, penderita dapat tetap tidak merasakan keluhan yang berarti.
Ketika fungsi ginjal semakin menurun, berbagai gejala dapat muncul. Namun, keluhan tersebut sering kali tidak spesifik dan dapat menyerupai kondisi sehari-hari, seperti kelelahan akibat aktivitas, kurang tidur, atau dehidrasi. Hal inilah yang membuat gangguan ginjal mudah terabaikan.
Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin sangat penting, terutama bagi individu yang memiliki faktor risiko penyakit ginjal.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Berikut beberapa keluhan yang dapat muncul pada penyakit ginjal, terutama ketika fungsi ginjal telah mengalami penurunan yang bermakna:
1. Mudah Lelah dan Tubuh Terasa Lemah
Penyakit ginjal kronis dapat menyebabkan anemia, antara lain karena menurunnya produksi eritropoietin, yaitu hormon yang berperan dalam pembentukan sel darah merah. Akibatnya, tubuh dapat terasa lemas, cepat lelah, dan kurang bertenaga. Anemia pada penyakit ginjal juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, sehingga perlu dievaluasi secara menyeluruh.
2. Bengkak pada Kaki, Tangan, atau Wajah
Ketika fungsi ginjal menurun, kemampuan tubuh untuk mengatur natrium dan cairan dapat terganggu sehingga terjadi penumpukan cairan di jaringan. Kondisi ini dapat menyebabkan edema, terutama pada tungkai dan pergelangan kaki. Pada kondisi tertentu, pembengkakan juga dapat terlihat pada tangan atau wajah.
3. Perubahan Frekuensi dan Karakteristik Urine
Perubahan pada urine dapat menjadi tanda adanya gangguan ginjal atau saluran kemih. Beberapa perubahan yang perlu diperhatikan meliputi:
- Frekuensi buang air kecil menjadi lebih sering atau justru berkurang.
- Urine tampak berbusa, yang dapat berkaitan dengan adanya albumin atau protein dalam urine.
- Urine berwarna lebih gelap atau tampak bercampur darah.
- Nyeri saat buang air kecil pada kondisi tertentu, meskipun keluhan ini lebih sering berkaitan dengan infeksi atau gangguan saluran kemih daripada penyakit ginjal kronis.
Jika perubahan tersebut berlangsung terus-menerus atau disertai keluhan lain, sebaiknya dilakukan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebabnya.
4. Mual, Muntah, dan Nafsu Makan Menurun
Pada penyakit ginjal yang sudah lanjut, penumpukan produk sisa metabolisme dalam darah dapat menyebabkan gejala uremia. Keluhan yang dapat muncul antara lain mual, muntah, perubahan rasa pada mulut, dan penurunan nafsu makan. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap penurunan berat badan.
5. Kulit Gatal dan Sulit Berkonsentrasi
Pada penyakit ginjal kronis lanjut, gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan mineral dapat berkontribusi terhadap rasa gatal yang menetap. Gangguan metabolik dan uremia juga dapat memengaruhi fungsi otak sehingga penderita dapat mengalami sulit berkonsentrasi, mudah mengantuk, atau penurunan kemampuan berpikir.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Penyakit Ginjal?
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit ginjal kronis, antara lain:
- Penderita diabetes, terutama jika kadar gula darah tidak terkontrol.
- Penderita tekanan darah tinggi yang dapat merusak pembuluh darah ginjal.
- Individu dengan obesitas.
- Penderita penyakit jantung.
- Perokok aktif.
- Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ginjal.
- Orang dengan usia lanjut.
- Orang yang pernah mengalami cedera ginjal akut (acute kidney injury/AKI).
Bagi kelompok berisiko, pemeriksaan kesehatan secara berkala tetap dianjurkan meskipun belum mengalami gejala.
Pemeriksaan Dini Penting bagi Orang yang Berisiko
Pemeriksaan dapat membantu mendeteksi penyakit ginjal sebelum muncul gejala yang berat. Pemeriksaan utama untuk menilai penyakit ginjal kronis meliputi:
1. Pemeriksaan Kreatinin Darah
Kadar kreatinin darah digunakan bersama persamaan estimasi untuk menghitung eGFR, yang merupakan salah satu parameter utama fungsi filtrasi ginjal.
2. Estimasi Laju Filtrasi Glomerulus (eGFR)
eGFR diperkirakan berdasarkan kadar kreatinin, usia, jenis kelamin, dan variabel lain sesuai persamaan yang digunakan. Pemeriksaan ini membantu memperkirakan kemampuan ginjal menyaring darah.
3. Tes Urine (Urinalisis)
Urinalisis dapat membantu mendeteksi darah, protein, tanda infeksi, dan kelainan lain pada urine.
4. Rasio Albumin-Kreatinin Urine (Urine Albumin-to-Creatinine Ratio/UACR)
UACR digunakan untuk mendeteksi albumin dalam urine (albuminuria), yang dapat menjadi salah satu tanda awal kerusakan ginjal. Pemeriksaan albuminuria dan eGFR merupakan komponen penting dalam evaluasi penyakit ginjal kronis.
5. Ultrasonografi (USG) Ginjal
USG dapat membantu menilai struktur dan ukuran ginjal serta mendeteksi kelainan seperti batu, kista, atau pelebaran saluran kemih. Pemeriksaan ini dilakukan sesuai indikasi dan bukan merupakan pemeriksaan utama untuk skrining penyakit ginjal kronis.
6. Pemeriksaan Tekanan Darah dan Kadar Gula Darah
Tekanan darah tinggi dan diabetes merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal kronis. Karena itu, keduanya perlu diperiksa dan dikendalikan secara rutin sebagai bagian dari upaya pencegahan.
Kapan Perlu Memeriksakan Diri ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter apabila mengalami:
- Pembengkakan pada kaki, tangan, atau wajah yang tidak kunjung membaik.
- Perubahan jumlah, warna, atau karakteristik urine yang berlangsung terus-menerus.
- Kelelahan berkepanjangan tanpa penyebab yang jelas.
- Mual, muntah, atau kehilangan nafsu makan yang tidak membaik.
- Rasa gatal yang menetap, terutama jika disertai keluhan lain yang mengarah pada gangguan ginjal.
Dokter akan melakukan evaluasi melalui pemeriksaan darah, urine, dan penilaian fungsi ginjal untuk mengetahui penyebab keluhan serta menentukan penanganan yang sesuai. Semakin dini penyakit ginjal terdeteksi, semakin besar peluang untuk memperlambat progresivitas penyakit serta mencegah atau menunda komplikasi yang lebih serius.
Artikel ditulis oleh dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc, Sp.PD (Spesialis Penyakit Dalam RS EMC Pulomas).