Lambung memiliki fungsi penting dalam proses pencernaan. Organ ini berfungsi untuk mencerna makanan dengan bantuan asam lambung serta enzim pencernaan sebelum nutrisi diserap oleh tubuh. Untuk melindungi diri dari sifat asam yang tinggi, lambung dilindungi oleh lapisan dalam yang disebut mukosa, yang berperan dalam proses pengolahan makanan.
Saat lapisan mukosa ini mengalami peradangan, kondisi tersebut dikenal sebagai gastritis. Gastritis adalah peradangan pada dinding atau lapisan lambung yang dapat terjadi secara tiba-tiba (akut) maupun berkembang perlahan dalam jangka panjang (kronis).
Namun, banyak orang menganggap gastritis hanya sebagai maag biasa yang bisa sembuh dengan sendirinya. Apabila tidak ditangani dengan baik, gastritis dapat berlanjut menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. Oleh karena itu, mengenali gejala gastritis sejak awal adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Apa yang Terjadi Saat Lapisan Lambung Mengalami Peradangan?
Lapisan pelindung lambung berfungsi memproduksi lendir (mukus) yang melindungi jaringan lambung dari paparan asam dan enzim pencernaan. Tanpa lapisan perlindungan ini, asam lambung yang bersifat korosif dapat melukai dinding lambung.
Asam lambung berperan penting dalam proses pencernaan dan membantu membunuh bakteri yang masuk bersama makanan. Ketika produksi asam berlebihan atau lapisan pelindung mengalami peradangan, maka lambung akan mengalami iritasi.
Iritasi yang terjadi karena peradangan lambung dapat menyebabkan pembengkakan, kemerahan, hingga luka pada jaringan lambung. Dalam kondisi tertentu, gastritis kronis bahkan dapat menyebabkan penipisan lapisan lambung dan meningkatkan risiko komplikasi seperti tukak lambung, perdarahan lapisan perut, anemia, hingga kanker perut.
Penyebab Gastritis yang Sering Tidak Disadari
Beberapa faktor yang dapat memicu gastritis antara lain:
1. Infeksi Bakteri
Infeksi bakteri Helicobacter pylori merupakan salah satu penyebab paling umum gastritis. Bakteri ini dapat merusak lapisan pelindung lambung dan memicu peradangan jangka panjang.
2. Konsumsi Obat-obatan Jangka Panjang
Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dalam jangka panjang dapat mengiritasi lambung dan mengurangi produksi lendir pelindung.
3. Stres dan Pola Makan Tidak Teratur
Stres berat, baik secara fisik maupun emosional, dapat memengaruhi produksi asam lambung. Ditambah dengan kebiasaan makan tidak teratur atau sering mengonsumsi makanan pedas, asam, atau berlemak tinggi, risiko gastritis dapat meningkat.
4. Alkohol dan Kebiasaan Merokok
Konsumsi alkohol berlebihan dapat mengikis lapisan lambung, sementara merokok dapat mengganggu proses penyembuhan jaringan lambung yang meradang.
Gejala yang Kerap Kali Dianggap Maag Biasa
Gastritis seringkali menunjukkan gejala yang mirip dengan gangguan lambung ringan, seperti:
- Nyeri atau rasa perih di ulu hati
- Mual dan muntah
- Perut terasa penuh atau kembung
- Nafsu makan menurun
Pada beberapa kasus, gastritis juga dapat menyebabkan muntah darah atau tinja berwarna hitam, yang menandakan adanya perdarahan di saluran cerna. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera.
Penanganan dan Perubahan Gaya Hidup untuk Mencegah Gastritis
Penanganan gastritis bertujuan untuk mengurangi peradangan dan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
1. Obat Penurun Asam Lambung
Konsumsi antasida, PPI, atau H2 blocker sesuai anjuran dokter untuk membantu mengurangi produksi asam dan meredakan peradangan.
2. Pola Makan Teratur
Mengatur jadwal makan yang konsisten dan memilih makanan yang ramah lambung membantu mengurangi iritasi. Hindari makanan terlalu pedas, asam, atau berlemak tinggi.
3. Menghindari Alkohol, Rokok, dan Obat Pemicu Iritasi
Mengurangi konsumsi alkohol, berhenti merokok, serta berkonsultasi sebelum menggunakan obat antiinflamasi dapat membantu mencegah peradangan berulang.
4. Manajemen Stres yang Baik
Kelola stres melalui istirahat cukup, olahraga ringan, dan teknik relaksasi untuk membantu menyeimbangkan produksi asam lambung.
BACA JUGA: Asam Lambung Tak Kenal Usia: Mengapa Anak Muda Rentan?
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?
Segera periksakan diri Anda ke dokter apabila:
- Nyeri lambung berlangsung lebih dari beberapa hari atau semakin parah.
- Muncul muntah darah atau tinja berwarna hitam.
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
- Gejala tidak membaik meski sudah mengubah pola makan.
Konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam atau gastroenterologi diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti, termasuk kemungkinan infeksi bakteri, serta menentukan pengobatan yang sesuai. Pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi mungkin disarankan untuk melihat kondisi lapisan lambung secara langsung.
Artikel ditulis oleh dr. Dedy G. Sudrajat, Sp. PD, KGEH, FINASIM (Dokter Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Gastro Entero Hepatologi RS EMC Grha Kedoya).