Kanker usus besar (kolorektal) adalah salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah. Kuncinya adalah melalui deteksi dini saat tubuh masih terasa sehat. Melalui prosedur pemeriksaan usus besar (kolonoskopi), dokter dapat menemukan dan langsung mengangkat benjolan kecil di dinding usus yang disebut polip.
Sebagian besar polip yang ditemukan bukanlah kanker, melainkan kondisi prakanker. Dengan mengangkat polip ini sejak dini, polip tidak akan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berubah menjadi kanker ganas di kemudian hari.
Mengenal Jenis-Jenis Polip Usus Besar
Polip adalah jaringan tambahan yang tumbuh di lapisan dalam usus besar. Selama kolonoskopi, dokter akan memotong dan mengangkat polip tersebut menggunakan alat khusus. Jenis polip yang ditemukan akan menentukan seberapa sering Anda harus melakukan pemeriksaan ulang:
- Polip Hiperplastik: Jenis polip ini umumnya jinak dan bukan prakanker. Namun, dokter biasanya tetap akan mengangkatnya sebagai langkah antisipasi yang aman.
- Adenoma: Ini adalah jenis polip prakanker yang paling sering ditemukan. Polip ini membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 10 tahun (atau lebih) untuk bisa berkembang menjadi kanker. Meskipun secara statistik hanya sekitar 5% adenoma yang benar-benar berubah menjadi kanker, dokter akan selalu mengangkat seluruh adenoma yang ditemukan untuk meminimalkan risiko.
- Polip Bergerigi Sesil (Sessil Serrated Polyp): Polip ini memiliki bentuk yang khas dan kini telah diklasifikasikan sebagai jenis yang berisiko memicu kanker, sehingga harus segera diangkat.
Beberapa prosedur pemeriksaan
- Pemeriksaan visual, seperti kolonoskopi atau CT kolonografi, digunakan untuk mengevaluasi bagian dalam kolon dan rektum guna mendeteksi adanya polip (pertumbuhan jaringan abnormal) maupun kanker (paliing ideal).
- Pemeriksaan berbasis feses bertujuan mendeteksi tanda-tanda keganasan pada sampel feses dan dapat dilakukan secara mandiri. Pemeriksaan ini meliputi Fecal Immunochemical Test (FIT), Fecal Occult Blood Test (FOBT), serta Multi-target Stool DNA Test.
- Seluruh hasil abnormal yang diperoleh dari pemeriksaan skrining non-kolonoskopi harus ditindaklanjuti dengan kolonoskopi secara tepat waktu untuk memastikan diagnosis.
- Individu dengan riwayat keluarga polip atau kanker kolorektal, maupun yang memiliki faktor risiko lainnya, mungkin memerlukan skrining yang dimulai sebelum usia 45 tahun, menjalani skrining dengan interval yang lebih sering, dan/atau menjalani jenis pemeriksaan tertentu yang disesuaikan dengan profil risikonya.
Panduan Waktu Pemeriksaan Skrining Usus Besar

Setelah polip pertama diangkat, pemeriksaan berkala sangat penting karena ada kemungkinan sekitar 25% hingga 30% polip baru dapat tumbuh kembali. Jeda waktu untuk kolonoskopi berikutnya sangat bergantung pada hasil pemeriksaan pertama:

Kunci Keberhasilan Pemeriksaan: Persiapan Usus yang Bersih
Kualitas hasil kolonoskopi sangat bergantung pada seberapa bersih usus besar Anda sebelum prosedur dimulai. Jika usus bersih, dokter dapat melihat seluruh dinding usus dengan jelas dan tidak ada polip tersembunyi yang terlewat.
Tips Persiapan Kolonoskopi:
- Ikuti instruksi pembersihan usus (pemberian obat pencahar) yang diberikan oleh tim medis secara saksama.
- Konsumsilah makanan rendah serat selama 4 hingga 5 hari sebelum pemeriksaan. Serat makanan dapat tersangkut di lipatan dinding usus dan menghalangi pandangan kamera dokter.
Langkah Mandiri Menurunkan Risiko Kanker Usus Besar
Selain melakukan pemeriksaan medis berkala, Anda dapat melindungi kesehatan pencernaan melalui perubahan gaya hidup sehat sehari-hari:
- Batasi Konsumsi Daging Merah dan Olahan: Kurangi konsumsi daging sapi atau kambing, serta batasi produk daging yang diawetkan (seperti sosis, kornet, atau asap). Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara pola makan tinggi daging olahan dengan peningkatan risiko kanker usus besar. Diet Mediterania sangat dianjurkan
- Pertimbangkan Asupan Kalsium dan Zinc: Pola makan yang kaya kalsium dinilai baik untuk membantu menjaga kesehatan tulang sekaligus memberikan perlindungan tambahan bagi kesehatan dinding usus Anda.
- Diskusikan Penggunaan Aspirin dengan Dokter: Pada beberapa kasus, konsumsi aspirin dosis rendah untuk kesehatan jantung juga diketahui memberikan efek perlindungan tidak langsung terhadap usus besar. Namun, pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini secara rutin.

RS EMC Tangerang menghadirkan layanan unggulan bagi kesehatan penyakit dalam, khususnya penanganan mengenai digestif. Dokter spesialis kami siap membantu dengan teknologi medis terbaru dan prosedur yang aman serta minim risiko. Kami hadir bukan hanya sebagai tim medis, tapi sebagai sahabat yang mendampingi perjalanan sembuh Anda, mulai dari pemeriksaan awal hingga pemulihan total.
Temukan solusi terbaik dengan teknik penyembuhan terkini dari :
- dr. Apriliana Adhyaksari, Sp.PD, Subsp.G.E.H (K), M.Kes, FINASIM (Dokter Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Gastro Entero Hepatologi RS EMC Alam Sutera & Tangerang).
- dr. Okkian Wijaya Kotamto,Sp.B.SubBDig, FINACS (Dokter Spesialis Bedah- Subspesialis Bedah Digestif RS EMC Tangerang).
- dr. Ahmad Zumaro, MSi.Med, Sp.B, Subsp.BD(K) (Dokter Spesialis Bedah - Subspesialis Bedah Digestif RS EMC Tangerang).
- dr. H. Nasrul Liza, Sp.B.SubBDig (Dokter Spesialis Bedah - Subspesialis Bedah Digestif RS EMC Tangerang).
