Cedera Tidak Boleh Diurut, Lalu Harus Apa? Ini Penanganan yang Tepat

Cedera seperti keseleo, terkilir, atau terbentur sering dianggap biasa, sehingga  sering penanganan awal dirasa cukup hanya dengan urut atau pijat alternatif. Padahal, bila terjadi cedera akut, apalagi disertai nyeri, bengkak, atau memar,  pijat atau urut ini justru dihindari. Tekanan akibat massage pada area cedera dapat memperburuk perdarahan dan pembengkakan pada area cedera. Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan untuk tidak memijat area yang mengalami cedera atau bahkan dicurigai patah tulang.

Nyeri dan bengkak juga belum cukup untuk memastikan bahwa cedera hanya mengenai bagian superfisial. Cedera pada extremitas dapat melibatkan ligament, otot, tendon, sendi, bahkan tulang. Sangat penting diketahui apa yang harus dilakukan setelah cedera dan kapan perlu mendapatkan pemeriksaan medis.

Mengapa Cedera Baru Sebaiknya Tidak Langsung Diurut?

Pada fase awal cedera, tubuh dapat mengalami peradangan, pembengkakan, atau perdarahan kecil pada jaringan akibat putusnya pembuluh darah sekitar. Memijat area tersebut berpotensi meningkatkan iritasi dan memperparah pembengkakan atau perdarahan, terutama jika terdapat kerusakan jaringan yang lebih serius.

Cedera yang tampak seperti keseleo pun belum tentu merupakan cedera ringan. WHO menjelaskan bahwa pada beberapa kasus, sulit untuk membedakan apakah suatu cedera merupakan memar, keseleo, atau patah tulang tanpa pemeriksaan dan penunjang lebih lanjut , sehingga pemeriksaan seperti pencitraan X-ray saat awal terjadi cedera dapat diperlukan. 

Lakukan PRICE untuk Menangani Cedera di Awal

Jika cedera tergolong ringan dan tidak menunjukkan tanda bahaya, penanganan awal dapat mengikuti prinsip PRICE, yaitu:

  • Protection 
    Lindungi bagian tubuh yang cedera dari aktivitas atau gerakan yang dapat memperburuk kondisi. Gunakan penyangga bila diperlukan.
  • Rest 
    Istirahatkan area yang cedera dari kegiatan berlebihan dan hindari memaksakan gerakan yang menimbulkan nyeri.
  • Ice 
    Gunakan kompres dingin yang dibungkus kain selama sekitar 15–20 menit. Jangan menempelkan es langsung ke kulit karena dapat menyebabkan cedera termal pada kulit akibat suhu dingin.
  • Compression 
    Gunakan perban elastis bila diperlukan untuk membantu mengendalikan pembengkakan. Pastikan tidak terlalu ketat agar tidak mengganggu sirkulasi.
  • Elevation 
    Posisikan bagian tubuh yang cedera lebih tinggi dari posisi jantung bila memungkinkan untuk membantu mengurangi pembengkakan.

Prinsip PRICE juga direkomendasikan dalam panduan pertolongan pertama Kementerian Kesehatan RI untuk keseleo pada sendi, sebagai langkah awal.

Hindari Tiga Hal Ini Setelah Mengalami Cedera

Selain mengetahui apa yang harus dilakukan, penting memahami tindakan yang sebaiknya dihindari:

1. Jangan langsung dipijat atau diurut.

Terutama jika cedera masih baru dan disertai nyeri, bengkak, atau memar. Pemijatan dapat memperburuk perdarahan dan pembengkakan pada cedera tertentu.

2. Hindari aktivitas berat atau olahraga. 

Memaksakan bagian tubuh yang cedera untuk beraktivitas berlebihan dapat memperburuk kerusakan jaringan dan memperpanjang proses pemulihan.

3. Hindari penggunaan panas pada fase awal. 

Pada cedera akut yang masih mengalami pembengkakan, kompres dingin lebih umum digunakan sebagai pertolongan awal untuk membantu mengurangi nyeri dan bengkak.

Kapan Cedera Perlu Diperiksa, Bukan Dirawat Sendiri?

Tidak semua cedera dapat ditangani di rumah. Segera periksakan diri jika nyeri terasa sangat berat, pembengkakan semakin parah, tampak kebiruan yang makin meluas, atau adanya gangguan ruang gerak bagian tubuh yang cedera, dimana tidak dapat digunakan secara normal.

Pemeriksaan medis juga diperlukan apabila anggota tubuh terlihat berubah bentuk, terdapat luka terbuka, atau terdengar bunyi seperti “krek” saat cedera terjadi. Mati rasa, kesemutan, kelemahan, perubahan warna kulit, atau bagian tubuh terasa lebih dingin dari biasanya juga perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan gangguan saraf, pembuluh darah, atau cedera yang lebih serius.

Jika dicurigai patah tulang, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan mempertimbangkan pemeriksaan penunjang seperti X-ray maupun penunjang lainnya untuk memastikan kondisi tulang.

Kapan Boleh Mendapatkan Terapi atau Pijat untuk Cedera?

Pijat bukan berarti selalu dilarang, tetapi waktu, teknik, dan jenis terapi harus disesuaikan dengan jenis serta fase pemulihan cedera. Pada kondisi akut, prioritasnya adalah melindungi area cedera dan memastikan tidak terdapat kerusakan serius.

Setelah kondisi akut teratasi, dokter atau fisioterapis dapat menentukan apakah pasien membutuhkan terapi manual, latihan rentang gerak, penguatan otot, atau program rehabilitasi. Oleh karena itu, jangan menjadikan rasa nyeri yang berkurang setelah dipijat sebagai satu-satunya tanda bahwa cedera sudah sembuh. Berkurangnya nyeri tidak selalu berarti jaringan yang cedera telah pulih sepenuhnya.

BACA JUGA: Olahraga Aman Tanpa Cedera, Ini Panduan dari Dokter Spesialis Olahraga RS EMC Grha Kedoya

Kapan Harus ke Dokter?

Untuk cedera kaki atau pergelangan kaki, segera periksakan diri jika nyeri terasa berat, bengkak semakin besar, rasa instabilitas saat berjalan atau ketidakmapuan menopang tubuh pada kaki yang cedera. Jangan menunda pemeriksaan jika bentuk kaki atau pergelangan kaki tampak berubah, terdengar bunyi “krek” ketika cedera terjadi, atau muncul memar  dan pembengkakan yang luas.

Kondisi tersebut dapat mengindikasikan cedera yang lebih serius, seperti patah tulang, dislokasi, putusnya tendon hingga kerusakan ligamen. Pada cedera pergelangan kaki, nyeri berat saat menahan beban, pembengkakan, memar, dan keterbatasan gerak merupakan beberapa gejala yang perlu diperhatikan.

Jika Anda mengalami cedera kaki atau pergelangan kaki dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi (Foot & Ankle) RS EMC dapat membantu memastikan apakah cedera berkaitan dengan tulang, sendi, ligamen, tendon, atau jaringan lainnya. Dengan diagnosis yang tepat, penanganan dapat disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan cedera.

Artikel ditulis oleh dr. Steesy Benedicta, M.Ked.Klin, Sp.OT-CF (Dokter Spesialis Ortopedi & Traumatologi, Konsultan Kaki & Pergelangan Kaki RS EMC Pulomas).