Ketika ada anggota keluarga didiagnosis tuberkulosis (TBC), tidak sedikit orang yang langsung panik. Ada yang khawatir seluruh keluarga pasti akan tertular, ada pula yang percaya bahwa TBC adalah penyakit keturunan atau bahkan tidak bisa disembuhkan. Padahal, banyak anggapan tersebut hanyalah mitos yang dapat membuat penderita terlambat berobat atau merasa dikucilkan.
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru dan menular melalui udara ketika penderita TBC paru aktif batuk, bersin, atau berbicara.
Mitos dan Fakta Seputar TBC Paru
Mitos: TBC adalah penyakit keturunan / genetik.
Fakta: TBC bukan penyakit keturunan / genetik. Penularan terjadi melalui udara ketika seseorang menghirup percikan droplet yang mengandung bakteri TBC dari penderita TBC paru aktif. Risiko meningkat pada orang yang tinggal serumah atau melakukan kontak erat dalam waktu lama dengan penderita yang belum mendapatkan pengobatan.
Mitos: Hanya perokok yang bisa terkena TBC.
Fakta: Siapa saja dapat terkena TBC, baik anak-anak maupun orang dewasa. Meskipun merokok dapat meningkatkan risiko gangguan paru dan memperburuk perjalanan penyakit, rokok bukanlah penyebab utama TBC. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Mitos: Penderita TBC pasti batuk berdarah.
Fakta: Batuk berdarah bukanlah gejala yang selalu muncul. Gejala TBC yang lebih sering ditemukan meliputi batuk selama lebih dari dua minggu, demam ringan yang hilang timbul, berkeringat pada malam hari, berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, nafsu makan berkurang, dan tubuh mudah lelah.
Mitos: Jika sudah merasa sehat, obat TBC boleh dihentikan.
Fakta: Gejala memang dapat membaik sebelum seluruh bakteri TBC benar-benar hilang. Oleh karena itu, obat harus diminum sesuai anjuran dokter hingga pengobatan dinyatakan selesai. Menghentikan obat lebih awal dapat menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap obat (drug-resistant tuberculosis), sehingga pengobatan menjadi lebih lama dan lebih sulit.
Mitos: Penderita TBC harus dijauhi.
Fakta: Penderita TBC tidak perlu dikucilkan. Dengan pengobatan yang tepat dan kepatuhan minum obat, risiko penularan akan menurun secara bermakna seiring berjalannya terapi. Dukungan keluarga sangat penting agar pasien dapat menyelesaikan pengobatan hingga tuntas dan mencapai kesembuhan.
Cara Membantu Mencegah Penularan TBC
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan antara lain:
- Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin.
- Menggunakan masker sesuai anjuran tenaga kesehatan, terutama pada fase awal pengobatan.
- Menjaga ventilasi dan pencahayaan rumah agar sirkulasi udara tetap baik.
- Tidak meludah sembarangan.
- Menerapkan pola hidup sehat untuk menjaga daya tahan tubuh.
- Melakukan pemeriksaan apabila tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan penderita TBC.
Jangan Abaikan Gejala TBC
Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu tidak boleh dianggap sepele, terutama jika disertai demam yang hilang timbul, penurunan berat badan, berkeringat pada malam hari, atau riwayat kontak dengan penderita TBC.
Semakin cepat TBC didiagnosis dan diobati, semakin besar peluang untuk sembuh sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain. Apabila Anda atau anggota keluarga mengalami gejala yang mengarah ke TBC, segera berkonsultasi dengan dokter spesialis paru. Pemeriksaan dan pengobatan yang tepat merupakan langkah penting untuk mencapai kesembuhan dan membantu memutus rantai penularan TBC di masyarakat.
Artikel ditulis oleh dr. Hezza Bigitha, Sp.P (Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RS EMC Alam Sutera).